Ragam

Piala Dunia 2026 Sudah Dimulai, tetapi Kok Rasanya Sepi?

×

Piala Dunia 2026 Sudah Dimulai, tetapi Kok Rasanya Sepi?

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Piala Dunia 2026 akhirnya dimulai. Biasanya, momen seperti ini sudah dirayakan jauh-jauh hari. Lagu resminya diputar di mana-mana, warung kopi ramai memperdebatkan siapa yang bakal juara, dan anak-anak sekolah mendadak hafal nama pemain dari negara yang bahkan letaknya sulit ditemukan di peta.

Tetapi kali ini, suasananya terasa berbeda. Tidak ada gegap gempita seperti era 2018, apalagi 2014 dan 2010. Dulu, bahkan sebelum bola pertama ditendang, kita sudah sibuk berdebat soal Messi atau Ronaldo, Jerman atau Brasil, sambil hafal lagu resmi Piala Dunia meski liriknya cuma separuh.

Sekarang? Banyak orang bahkan baru sadar Piala Dunia sudah dimulai setelah melihat unggahan di media sosial. Entah karena kita yang sudah bertambah usia, atau memang ada sesuatu yang berubah dari hubungan manusia dengan sepak bola.

Bisa jadi, salah satu penyebabnya adalah negara-negara yang selama ini memiliki basis penggemar besar sedang tidak tampil segarang dulu. Mungkin ceritanya akan berbeda jika Indonesia yang lolos. Jangan salah, satu tiket menuju Piala Dunia mungkin akan membuat seluruh rakyat mendadak hafal jadwal pertandingan dan rela begadang setiap malam, bahkan mereka yang biasanya lebih sering menonton sinetron daripada sepak bola.

Atau jangan-jangan kita memang sedang terlalu lelah menjadi warga negara. Setiap hari ada saja kabar yang bikin kepala pening. Harga kebutuhan yang naik, nilai tukar rupiah yang bikin waswas, dan yang paling segar dalam ingatan tentu kenaikan harga Pertamax yang sukses membuat banyak orang mengelus dada sambil menghitung ulang anggaran bulanan. Di tengah kondisi seperti itu, energi untuk sekadar memikirkan apakah Prancis bermain dengan formasi 4-3-3 atau Argentina memakai tiga bek rasanya menjadi kemewahan tersendiri.

BACA JUGA  Rebahan Level Siput: Tiga Tahun Tidur

Ada pula kemungkinan yang lebih sederhana: kita sudah menua. Orang yang dulu rela begadang sampai pukul tiga pagi demi menyaksikan Italia melawan Jerman, kini justru lebih sibuk memikirkan cicilan, tagihan listrik, biaya sekolah anak, atau sekadar memastikan stok beras di dapur masih aman sampai akhir bulan.

Usia memang kejam. Ia diam-diam mengubah orang yang dulu hafal susunan pemain tim menjadi manusia yang lebih hafal jadwal promo minyak goreng di minimarket.

Belum lagi fakta bahwa sepak bola sendiri mungkin sudah tidak sehip lagi dulu. Anak-anak muda hari ini tumbuh bersama TikTok, Mobile Legends, K-Pop, dan tontonan yang bergerak serba cepat. Menonton pertandingan selama 90 menit tanpa jeda mungkin terasa terlalu lama bagi generasi yang terbiasa menyerap hiburan dalam video berdurasi satu menit.

Ada juga faktor lain yang barangkali tidak banyak diucapkan, tetapi diam-diam dirasakan. Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah bukanlah negara yang paling dicintai banyak orang di berbagai belahan dunia. Sikap politik mereka, dukungan terhadap berbagai konflik internasional, hingga kesan bahwa FIFA kerap menerapkan standar ganda membuat sebagian orang kehilangan romantisme terhadap pesta sepak bola terbesar itu.

Masih segar dalam ingatan bagaimana FIFA begitu cerewet kepada Qatar pada 2022 atas nama nilai-nilai tertentu. Namun ketika Piala Dunia digelar di Amerika Serikat, nada suaranya terdengar jauh lebih pelan. Seolah-olah ada aturan yang berlaku untuk sebagian orang, dan ada pengecualian bagi sebagian lainnya.

Mungkin karena itulah Piala Dunia 2026 terasa sedikit asing. Dan bisa jadi, yang berubah adalah kita. Generasi yang dulu rela menabung demi membeli album stiker Panini, kini lebih sibuk menabung untuk biaya servis motor. Generasi yang dulu menangis ketika Zidane menanduk Materazzi, sekarang lebih sering menghela napas melihat harga BBM.

BACA JUGA  dr. Angka: Nama Jalan yang Kita Lewati, Tapi Jarang Kita Kenali

Dan di tengah segala keruwetan hidup itu, Piala Dunia tidak lagi menjadi pusat semesta seperti dulu. Ia tetap ada. Hanya saja, sekarang ia harus bersaing dengan hal-hal yang jauh lebih nyata: isi dompet, harga kebutuhan pokok, dan kewarasan kita sebagai warga negara.

Mungkin itu sebabnya, untuk pertama kalinya dalam hidup, kita mendapati diri bertanya dengan polos:

“Memangnya Piala Dunia sudah mulai, ya?”

Padahal, ada masanya kita bahkan sudah hafal lagu resminya berbulan-bulan sebelum peluit pertama dibunyikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *