BANYUMASMEDIA.COM – Hari ini, sebuah kejutan besar datang dari Kejaksaan Agung. Menjadi tontonan renyah yang bikin dahi mengernyit bagi rakyat biasa. Tiga petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) periode 2025-2026 resmi ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan sembarang nama yang terseret. Di sana ada mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, ditemani dua mantan wakilnya yang berlatar belakang jenderal purnawirawan mentereng: Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Sony Sonjaya dan Letnan Jenderal TNI (Purn) Lodewyk Pusung.
Melihat para petinggi proyek pemenuhan gizi ini akhirnya mengenakan rompi tahanan, memori kita otomatis terlempar ke belakang. Sebelum kasus hukum ini resmi diketok palu oleh kejaksaan, lembaga yang dipimpin Dadan cs ini memang sudah lama memancing tawa getir publik lewat daftar belanjanya yang ajaib. Alih-alih sibuk berburu telur, susu, atau daging segar demi memperbaiki gizi anak sekolah, mereka justru terlihat seperti sedang mempersiapkan festival.
Mari kita kuliti kembali hal-hal lucu nan di luar nalar yang pernah dilakukan oleh BGN di bawah kepemimpinan mereka:
Satu hal paling jenaka dari manajemen BGN adalah keputusan mereka untuk menyewa Event Organizer (EO) dalam mengelola program. Logika sederhana: kalau mau masak besar untuk anak-anak, ya tinggal beli bahan ke pasar, lalu minta tolong tetangga atau kelompok masyarakat untuk mengolahnya.
Namun bagi Dadan cs, urusan perut anak bangsa ini tampaknya perlu sentuhan estetik layaknya konser musik atau festival kuliner kalcer. Dadan sempat berkilah bahwa penggunaan jasa EO adalah “kebutuhan strategis lembaga” karena di tahun pertama mereka masih fokus membangun sistem dan tata kelola operasional. Sebuah pembelaan yang membuat kaum mendang-mending di media sosial berkomentar: “Menangani gizi buruk anak sekolah kok harus pakai di-EO kan, memangnya mau bikin pensi SMA?”
Kelucuan belanja BGN semakin menjadi-jadi ketika publik melihat rincian barang-barang printilan yang mereka adakan. Daftar belanjaan instansi gizi nasional ini mendadak bergeser menjadi daftar inventaris toko koperasi dan toko elektronik: ada sepeda motor, laptop, tablet, alat makan, hingga semir dan sikat sepatu.
Motor itu, kata Dadan, diperuntukkan guna mendukung operasional proyek MBG, khususnya bagi kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Ya, sudahlah, urusan motor operasional mungkin masih bisa dinalar agar distribusinya cepat. Namun, apa urusannya program perbaikan gizi buruk anak sekolah dengan anggaran pembelian semir sepatu dan sikatnya? Apakah anak-anak sekolah itu akan kenyang jika melihat sepatu para petugas SPPG mengilat seperti cermin?
Keajaiban tidak berhenti di situ. BGN juga menggelontorkan anggaran untuk pembelian kaus kaki. Ketika dikonfirmasi, Dadan dengan santai menjelaskan bahwa kaus kaki tersebut merupakan bagian dari perlengkapan bagi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Pengadaannya pun digarap oleh Universitas Pertahanan melalui mekanisme swakelola tipe II.
Akhir Cerita: Jargonnya Bergizi, Realitasnya Malah “Gizi Buruk” Anggaran
Bagi para birokrat di meja kerja, pengadaan jasa EO, laptop baru, semir sepatu, hingga kaus kaki mungkin bisa dilaporkan dengan sangat rapi dan sah di atas kertas laporan pertanggungjawaban lengkap dengan nota dinasnya. Namun bagi kita yang melihatnya dari kacamata orang biasa, melihat anggaran makanan yang diputar untuk membiayai gaya hidup kedinasan serapih itu terasa seperti parodi yang sempurna.
Kita ini memang bangsa yang paling jago kalau urusan membungkus program dengan slogan kemanusiaan yang adiluhung, tetapi selalu loyo dalam eksekusi karena kalah oleh nafsu pengadaan barang.
Hari ini, setelah ketiganya resmi mengenakan rompi merah muda atau hijau khas tahanan Kejaksaan, proyek Makan Bergizi Gratis ini menyisakan sebuah lelucon satir yang mengendap di kepala masyarakat: Sebenarnya, dari awal program ini dibuat, siapa yang paling butuh diperbaiki gizinya? Anak-anak sekolah yang kelaparan di sudut-sudut kelas, atau isi kantong para pembuat kebijakannya yang tak pernah merasa kenyang?











