Liputan

Sampah Plastik yang Dulu Dibakar Kini Bisa Berubah Jadi Isi Dapur: Cara Baru Banyumas Mengajak Warga Memilah Sampah

3
×

Sampah Plastik yang Dulu Dibakar Kini Bisa Berubah Jadi Isi Dapur: Cara Baru Banyumas Mengajak Warga Memilah Sampah

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Selama ini, nasib sampah plastik di banyak desa sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu hampir selalu sama. Dibakar di belakang rumah, dibuang ke sungai, atau menumpuk begitu saja di sudut halaman. Setelah itu, persoalannya dianggap selesai, padahal dampaknya baru dimulai.

Kini, setidaknya di dua desa di Banyumas, kebiasaan itu sedang dicoba diubah. Botol air mineral, bungkus deterjen, hingga kemasan minyak goreng yang biasanya berakhir menjadi limbah kini bisa ditabung layaknya uang. Bedanya, tabungan itu tidak dicairkan dalam bentuk rupiah, melainkan sembako dan berbagai kebutuhan rumah tangga.

Program tersebut resmi diluncurkan Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama Konsorsium SOLUSI melalui uji coba Skema Insentif Cerdas Bank Sampah di Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Selasa (21/7/2026). Peluncuran ditandai dengan peresmian dashboard digital pengelolaan bank sampah, penyerahan alat timbang kepada Bank Sampah Jitu dan Bank Sampah Mandirancan, serta peninjauan langsung ke lokasi.

Gagasan yang diusung sebenarnya sederhana: “Tukar Plastik Jadi Isi Dapur.”

Warga yang menjadi nasabah bank sampah cukup memilah sampah plastik dari rumah, menyetorkannya ke bank sampah, lalu menukarkan nilai tabungannya dengan beras, minyak goreng, telur, voucher makanan, atau kebutuhan sehari-hari lainnya.

Artinya, aktivitas memilah sampah tidak lagi sekadar menjadi ajakan menjaga lingkungan. Kini, manfaatnya bisa langsung dirasakan di meja makan keluarga.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Banyumas, Dedy Noerhasan, mengatakan skema ini dirancang untuk mendorong masyarakat lebih aktif mengelola sampah, khususnya di kawasan DAS Serayu yang selama ini masih menghadapi persoalan sampah plastik.

“Program ini merupakan langkah nyata dalam menghubungkan agenda pembangunan daerah dengan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Melalui skema insentif, kami berharap partisipasi warga terus meningkat sehingga mampu mengurangi timbulan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan bersama,” ujarnya.

BACA JUGA  Pengumuman SPMB SMP Banyumas Diumumkan Siang Ini, Panitia Sampaikan Pesan untuk Siswa dan Orang Tua

Namun, menurut Dedy, tujuan program ini tidak berhenti pada nilai ekonomi.

“Yang terpenting adalah kesadaran. Nilai ekonomi itu bonus, tetapi dampak positif terhadap ekosistem adalah tujuan utamanya,” katanya.

Ia berharap kebiasaan baru ini tetap hidup meski program pendampingan nantinya telah selesai.

Dari Rumah, Menjaga Sungai hingga Laut

Bagi Program Manager SOLUSI dari SNV Indonesia, Audrie Siahainenia, persoalan sampah plastik sebenarnya tidak berhenti di halaman rumah. Plastik yang dibuang sembarangan akan mengikuti aliran sungai hingga akhirnya bermuara ke laut.

Karena itulah, perubahan kecil di tingkat rumah tangga dinilai bisa memberi dampak besar terhadap lingkungan.

“Jika sampah plastik tidak dikelola dengan baik di daratan, ia akan terbawa aliran sungai dan bermuara ke laut, mengancam ekosistem pesisir dan biota laut,” ujarnya.

Sungai Serayu menjadi salah satu perhatian utama karena mengalir hingga Samudra Hindia melalui wilayah Cilacap. Itulah sebabnya Desa Tambaknegara dan Desa Mandirancan dipilih sebagai lokasi percontohan.

Menurut Audrie, menjaga bentang darat dan laut tidak selalu harus dimulai dari program besar. Kebiasaan memilah sampah dari rumah justru menjadi langkah paling sederhana yang dapat dilakukan masyarakat.

“Melalui skema Tukar Plastik Jadi Isi Dapur, kami ingin menunjukkan bahwa menjaga bentang darat dan laut dapat dimulai dari rumah. Ketika masyarakat memilah sampah plastiknya, mereka tidak hanya membawa pulang kebutuhan rumah tangga, tetapi juga turut menjaga Sungai Serayu dan laut di hilirnya.”

Bank Sampah Dibuat Lebih Menarik

Agar warga tetap semangat menjadi nasabah bank sampah, program ini juga dilengkapi sejumlah inovasi. Pengelolaan tabungan dilakukan secara digital melalui dashboard sehingga lebih transparan dan mudah dipantau. Para pengelola bank sampah juga akan mendapat pelatihan dan pendampingan, sementara warga akan diajak mengikuti kompetisi berdasarkan jumlah sampah plastik yang berhasil mereka kumpulkan setiap bulan.

BACA JUGA  Ketika Lionel Messi dan Argentina Dipaksa Menonton Spanyol Bermain Bola

Selain itu, kegiatan bersih sungai secara berkala akan digelar untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap DAS Serayu.

Kolaborasi ini juga melibatkan pelaku usaha melalui skema Public-Private-Community Partnership (PPCP). Salah satunya Warung Dermaga Rawalo yang sejak 2025 telah memulai pemilahan sampah plastik di lingkungan usahanya.

Pemilik Warung Dermaga Rawalo, Dimas, menilai keterlibatan dunia usaha dapat memperkuat keberlanjutan program.

“Melalui kolaborasi ini, dunia usaha tidak hanya berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan, tetapi juga memperkuat pemberdayaan masyarakat dan mendukung ekonomi sirkular di tingkat lokal,” ujarnya.

Ke depan, keberhasilan program akan diukur dari bertambahnya jumlah nasabah bank sampah, meningkatnya volume sampah plastik yang berhasil dikumpulkan, hingga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.

Jika uji coba di Tambaknegara dan Mandirancan berjalan sesuai harapan, model ini akan diperluas ke desa-desa lain di Banyumas.

Sebab, persoalan sampah plastik sering kali bukan karena masyarakat tidak peduli terhadap lingkungan. Yang kerap kurang adalah alasan yang membuat mereka mau mengubah kebiasaan. Ketika sekarung plastik bekas bisa berubah menjadi beras, minyak goreng, atau kebutuhan dapur lainnya, menjaga sungai dan laut terasa bukan lagi sekadar slogan, melainkan sesuatu yang manfaatnya bisa langsung dibawa pulang ke rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *