Ragam

Satu Hari yang Bisa Bikin Dosa Dua Tahun Kolaps: Seni Berburu Diskonan Pahala di Hari Arafah

×

Satu Hari yang Bisa Bikin Dosa Dua Tahun Kolaps: Seni Berburu Diskonan Pahala di Hari Arafah

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Mari kita bicarakan soal diskon. Manusia mana, sih, yang nggak lemah kalau dengar kata “Buy 1 Get 1”? Atau promo akhir tahun yang potongannya sampai bikin kalkulator pabrik pusing? Kita rela antre berjam-jam, nge-war tiket di aplikasi sampai jempol keriting, demi sesuatu yang judulnya “menghemat”.

Tapi sadar nggak, ada satu momen dalam kalender Islam yang skema promonya jauh lebih nggak masuk akal daripada flash sale tanggal kembar eCommerce mana pun. Momen itu namanya: Puasa Arafah.

Bayangkan sebuah kesepakatan seperti ini: Kamu berinvestasi menahan lapar dan haus selama kurang lebih 14 jam (dari subuh sampai magrib), lalu imbalannya adalah penghapusan catatan dosa selama 730 hari. Ya, dua tahun! Setahun yang lalu, plus setahun yang akan datang.

Ini bukan asumsi sepihak netizen. Ini valid, validasi langsung lewat sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang…”

Logika Manusia versus Kemurahan Jalur Langit

Mari kita bedah secara santai pakai logika sehari-hari kita yang penuh dengan kalkulasi untung-rugi.

Sebagai manusia biasa yang tidak maksum (baca: hobi numpuk dosa), dalam setahun ada berapa banyak kekhilafan yang kita lakukan? Dari yang skala mikro, sampai yang skala makro. Kalau dosa-dosa itu diwujudukan dalam bentuk tagihan bulanan atau tumpukan berkas pembiayaan, mungkin kita sudah dinyatakan bangkrut sejak semester pertama. Nah, Puasa Arafah hadir seperti program pemutihan massal dari pemerintah. Bedanya, yang diputihkan di sini adalah rekam jejak digital keburukan kita di hadapan Allah SWT.

Lebih dahsyatnya lagi, penghapusan itu tidak cuma berlaku surut (mundur ke tahun lalu), tapi juga berlaku advance (maju ke tahun depan). Seolah-olah kita dikasih semacam “dana talangan spiritual” untuk menjaga agar grafik catatan amal kita tidak langsung terjun bebas ke zona merah di masa depan. Meskipun tentu saja, ini bukan berarti setelah puasa kita dapat voucher bebas maksiat buat setahun ke depan ya. Logikanya justru terbalik: Allah mengampuni dosa tahun depan dengan cara menjaga kita agar tidak terperosok ke dalam dosa yang merusak.

BACA JUGA  Atraksi Api di Lampu Merah: Ketika Jalanan Jadi Panggung Hidup

Kenapa Kita Sering “Skip”?

Masalahnya, kenapa aset investasi se-menggiurkan ini sering kali lewat begitu saja di beranda hidup kita? Kenapa pas tanggal 9 Dzulhijjah tiba, kita kadang masih sibuk mikirin menu sate buat Iduladha besoknya, sampai lupa kalau hari itu langit sedang membuka pintu ampunan selebar-lebarnya?

Mungkin karena ibadah ini sifatnya “sukarela” (sunah), bukan “mandatori” (wajib). Sifat dasar manusia itu, kalau tidak diwajibkan atau tidak ada denda materielnya, suka menggampangkan. Kita takut telat bayar pajak kendaraan karena ada dendanya, tapi kita santai saja melewatkan momentum Arafah padahal “denda” aslinya adalah membiarkan dosa setahun lalu tetap menggantung tanpa kepastian ampunan.

Nah, kalau kamu sudah memutuskan untuk ikutan “war” pahala ini dengan berpuasa, ada satu rahasia lagi biar kombinasi ibadahmu makin overpowered. Di hari itu, jangan cuma diam nunggu bedug magrib sambil maraton nonton serial Netflix. Gunakan waktu luangmu untuk mengamalkan sebuah bacaan terbaik yang direkomendasikan langsung oleh Rasulullah SAW.

Beliau bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir’ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).”

Kalimat ini singkat, tapi bobot spiritualnya seberat alam semesta. Ini adalah deklarasi tauhid paling murni. Membaca kalimat ini di hari Arafah itu ibarat kamu sedang membawa proposal langsung ke hadapan pimpinan tertinggi menggunakan jalur rekomendasi orang dalam (para nabi). Peluang di-acc? Jelas di atas rata-rata.

BACA JUGA  Poster, Sumur, dan Psikologi Sebelum Kick-off

Sebuah Seni Mengetuk Pintu Langit

Menjalankan Puasa Arafah dan memperbanyak zikir tersebut sebetulnya adalah bagian dari seni berdoa secara sungguh-sungguh. Di saat jemaah haji sedang berkumpul di Padang Arafah, bersimpuh, menangis, menumpahkan segala keluh kesah mereka di bawah terik matahari yang sakral, kita yang berada di rumah diadopsi energinya lewat ritual puasa ini.

Melalui rasa lapar yang kita tahan dan zikir yang terus berdengung di bibir pada hari itu, kita sedang menyamakan frekuensi spiritual dengan mereka yang ada di tanah suci. Kita sama-sama sedang mengetuk pintu yang sama: pintu ampunan Allah yang tidak pernah bosan mendengar keluh kesah hamba-Nya.

Jadi, mumpung momennya ada, mumpung nafas masih gratis, dan mumpung kita tahu kalau stok dosa kita lebih banyak daripada stok kuota internet bulanan, rasanya kok rugi bandar kalau Puasa Arafah ini dilewatkan begitu saja.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *