Ragam

Clebek, Tubruk Kopi Ala Banyumas yang Bikin Hidup Lebih Greget

×

Clebek, Tubruk Kopi Ala Banyumas yang Bikin Hidup Lebih Greget

Sebarkan artikel ini
Dok. Unplash

BANYUMASMEDIA.COM – Bagi orang Banyumas dan sekitarnya, secangkir kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk. Ada satu cara sederhana sekaligus khas untuk menikmatinya: kopi tubruk, atau akrab disebut kopi clebek. Disebut begitu karena bunyi khas saat bubuk kopi yang pekat disiram air panas mendidih—clebek!

Meski cara membuatnya terlihat gampang, ya cukup menubrukan bubuk kopi dengan air panas—jangan salah. Kopi tubruk bisa naik kelas jadi sajian istimewa kalau diseduh dengan langkah yang tepat.

Pertama, soal bubuk. Biar aromanya segar, biji kopi sebaiknya digiling sesaat sebelum diseduh. Setelah itu, masukkan bubuk ke cangkir. Takaran yang pas untuk satu gelas adalah sekitar 12 gram atau dua sendok teh, lalu tuangkan 200 ml air panas bersuhu 80–85 °C. Kalau tak punya termometer, cukup didihkan air lalu diamkan sebentar, kira-kira dua menit.

Begitu air panas bertemu bubuk kopi, biarkan dulu 2–3 menit agar ekstraksinya sempurna. Nah, di tahap ini biasanya muncul perdebatan kecil: perlu ditambah gula atau tidak? Banyak barista menganggap gula bisa mengaburkan rasa asli kopi, tapi bagi orang Banyumas, menambahkan sedikit gula atau bahkan susu kental manis justru membuat clebek terasa lebih akrab.

Yang menarik, tiap cangkir kopi tubruk punya karakter rasa berbeda. Faktor penentunya mulai dari jenis kopi, daerah asal, proses pascapanen, hingga tingkat sangrai—apakah light, medium, atau dark roast. Konsistensi dalam menyeduh juga berperan besar. Itulah sebabnya, meski sama-sama bernama kopi tubruk, rasa clebek di satu warung bisa jadi berbeda dengan warung tetangganya.

Apalagi kalau bicara soal Clebek dari Desa Ketenger, Baturraden, Banyumas. Kopi ini diproduksi langsung oleh ibu-ibu desa setempat, lalu dititipkan ke warung-warung terdekat dengan harga yang sangat ramah di kantong. Jangan kaget jika kemasannya masih sederhana: plastik bening tanpa label, seolah menegaskan keaslian dan kesahajaannya. Justru di balik kesederhanaan itu tersimpan cita rasa yang bikin ketagihan. Kalau penasaran, silakan mampir ke warung-warung di Desa Ketenger dan cobalah sendiri sensasi kopi clebek khas desa ini.

BACA JUGA  Menulis Jurnal Kebaikan: Merawat Nurani, Merayakan Sisi Baik Manusia

Kopi tubruk, dalam kesederhanaannya, menyimpan filosofi: tak perlu ribet untuk bisa menikmati sesuatu yang nikmat. Cukup bubuk kopi, air panas, dan sedikit kesabaran menunggu, kita sudah bisa merasakan hangatnya minuman yang akrab menemani obrolan sore di teras rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *