BANYUMASMEDIA.COM – Siapa bilang perpustakaan desa cuma jadi tempat berdebu yang isinya rak buku membosankan? Limbah Pustaka dari Desa Muntang, Purbalingga, baru saja mematahkan stigma itu. Tidak tanggung-tanggung, perpustakaan bergerak ini sukses menduduki di posisi enam besar Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026.
Keberhasilan ini bukan hasil sulap. Pengelolanya, Roro Hendarti, wanti-wanti bahwa perpustakaan zaman sekarang harus bisa jadi ruang belajar yang luwes buat warga, bukan sekadar tempat pinjam buku.
“Alhamdulillah kita bisa maju ke tingkat provinsi dan lolos enam besar,” ujar Roro dengan sumringah saat tim penilai datang melakukan verifikasi lapangan, Selasa (12/5/2026).
Bawa Sampah Jadi Ilmu
Yang membuat Limbah Pustaka beda dari yang lain adalah jurus “kawin silang” antara literasi dan lingkungan. Alih-alih cuma menunggu pembaca datang, mereka justru bergerak menjemput bola sambil bawa misi wisata edukasi sampah.
Warga dan pelajar tidak hanya disuguhi buku, tapi juga diajak praktik langsung bikin eco enzyme sampai menyulap sampah jadi barang kerajinan yang bisa menghasilkan cuan. Bahkan, perpustakaan yang sudah eksis sejak 2007 ini juga menerima sedekah sampah dari masyarakat. Istilahnya, dari sampah jadi ilmu, dari limbah jadi berkah.
Gandeng Kampus, Lawan Stunting Lewat HP
Tidak mau ketinggalan zaman, Limbah Pustaka juga melek teknologi. Mereka menggandeng Telkom University Purwokerto buat bikin aplikasi edukasi yang bisa diakses lewat HP. Isinya pun bukan isu kaleng-kaleng, tapi hal-hal yang dekat dengan urusan dapur dan kesehatan warga: mulai dari cara cegah diabetes pada anak, edukasi kekerasan seksual, sampai program “Ibu Cerdas” buat lawan stunting.
“Keunggulan kami ada pada perpustakaan bergerak yang dipadukan dengan edukasi sampah, serta aplikasi ramah anak yang jarang dimiliki perpustakaan lain,” kata Roro.
Keterbatasan Bukan Masalah
Membangun perpustakaan di desa tentu bukan tanpa hambatan. Namun, bagi Roro, urusan kurangnya sumber daya itu nomor sekian. Yang penting adalah niat buat kerja bareng dan mau terus belajar.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Purbalingga, Endi Astono, mengapresiasi Limbah Pustaka. Menurutnya, tempat ini jadi bukti nyata kalau barang yang dianggap tidak berharga bisa jadi sesuatu yang dicintai masyarakat kalau dikelola dengan hati.
Limbah Pustaka kini jadi harapan baru. Kalau perpustakaan desa lain mau meniru semangat “gerilya” mereka, bukan tidak mungkin minat baca warga kita akan naik. [asr]











