Hikmah

Menyembelih Berhala Ego, Menemukan Hakikat Kurban

×

Menyembelih Berhala Ego, Menemukan Hakikat Kurban

Sebarkan artikel ini
Photo by unsplash.com @fauzanazhimautm_

BANYUMASMEDIA.COM – Seringkali kita terjebak pada keriuhan ritualitas lahiriah. Menjelang hari raya Idul Adha, perbincangan kita kerap didominasi oleh urusan teknis: harga sapi yang melambung, bobot kambing yang paling prima, hingga skema pembagian kantong daging agar merata. Namun, di balik tumpukan daging dan kucuran darah hewan kurban itu, tersimpan sebuah esensi yang jauh lebih mendasar: sebuah upaya besar untuk meruntuhkan “berhala-berhala” yang bertahta di dalam dada kita sendiri.

Secara historis, kurban adalah manifestasi kepatuhan mutlak Nabi Ibrahim AS. Namun, jika kita tarik ke dalam konteks kehidupan modern, kurban bukan sekadar menyembelih hewan ternak. Ia adalah simbolisasi dari perjuangan menyembelih ego.

Ego adalah “berhala” masa kini yang paling sulit dihancurkan. Ia tidak berbentuk patung batu yang nampak di pelataran kuil, melainkan berwujud rasa bangga akan status sosial, kesombongan atas harta, atau perasaan bahwa diri kita lebih mulia dari sesama. Saat kita merasa berat untuk menyisihkan harta demi berkurban, sejatinya bukan dompet kita yang keberatan, melainkan ego kita yang merasa “sayang” kehilangan materi. Di sinilah letak ujiannya: apakah kita lebih mencintai titipan-Nya atau Sang Pemilik titipan itu sendiri?

Memutus Rantai Kebinatangan

Filosofi penyembelihan hewan ternak memiliki makna simbolis yang tajam. Hewan seringkali mewakili sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia: kerakusan, keinginan untuk menang sendiri, dan nafsu yang tak mengenal aturan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Daging-daging kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS Al-Hajj: 37)

Ketika pisau kurban memutus urat nadi hewan ternak, seharusnya di saat yang sama, kita secara sadar memutus keterikatan hati yang berlebihan pada dunia. Kurban yang tulus pada akhirnya akan melahirkan pribadi yang rendah hati. Ia menyadari bahwa jabatan, kekayaan, dan kecerdasan hanyalah instrumen untuk berbagi, bukan alasan untuk meninggikan diri.

BACA JUGA  Menghidupkan Nilai Isra’ Mi‘raj di Era Digital

Menemukan Hakikat

Idul Adha adalah momentum untuk memeriksa kembali isi hati kita. Sudahkah kita benar-benar berkurban untuk mendekat pada-Nya, atau kita hanya sekadar memindahkan harta menjadi tumpukan daging demi sebuah pengakuan sosial?

Mari kita jadikan kurban tahun ini sebagai titik balik untuk menyembelih setiap keangkuhan, agar yang tersisa di dalam relung hati hanyalah keridaan Allah semata. Sebab, kurban tanpa penyembelihan ego hanyalah ritual tanpa makna—sebuah seremoni yang mungkin mengenyangkan perut orang miskin, namun membiarkan ruh kita tetap gersang dalam kesombongan. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *