Hikmah

Lailatul Qadr dan Nuzulul Qur’an: Memahami Dua Peristiwa Turunnya Wahyu

×

Lailatul Qadr dan Nuzulul Qur’an: Memahami Dua Peristiwa Turunnya Wahyu

Sebarkan artikel ini
Photo by Alena Darmel: https://www.pexels.com/photo/person-flipping-pages-of-a-book-8164742/

BANYUMASMEDIA.COM – Setiap bulan Ramadan, umat Islam kembali mengingat dua peristiwa penting yang berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an, yaitu Lailatul Qadr dan Nuzulul Qur’an. Tidak sedikit yang menganggap keduanya sebagai peristiwa yang sama. Namun sebagian ulama menjelaskan bahwa keduanya memiliki makna yang berbeda, meskipun sama-sama berkaitan dengan turunnya wahyu Allah SWT.

Pertanyaan yang sering muncul adalah: kapan sebenarnya Al-Qur’an diturunkan? Apakah pada malam Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir Ramadan, atau pada 17 Ramadan yang sering diperingati sebagai malam Nuzulul Qur’an?

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan turunnya wahyu. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjelaskan dengan tegas bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan. Pada ayat lain, Al-Qur’an bahkan menyebutkan secara lebih khusus bahwa penurunan tersebut terjadi pada sebuah malam yang sangat mulia.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”
(QS. Al-Qadr: 1)

Dalam surah lain juga disebutkan:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.”
(QS. Ad-Dukhan: 3)

Para ulama tafsir memahami bahwa malam yang diberkahi itu adalah Lailatul Qadr, sebuah malam istimewa yang berada di bulan Ramadan. Dari sini dapat dipahami bahwa Al-Qur’an memang diturunkan pada Ramadan, tepatnya pada malam Lailatul Qadr.

Lalu bagaimana dengan peringatan 17 Ramadan sebagai malam Nuzulul Qur’an?

Para ulama menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Al-Lauh Al-Mahfuz ke langit dunia, tepatnya ke tempat yang disebut Baitul ‘Izzah. Peristiwa ini terjadi pada malam Lailatul Qadr.

BACA JUGA  Ramadhan: Menemukan Keseimbangan dan Meningkatkan Kualitas Diri

Adapun tahap kedua adalah turunnya wahyu secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun, baik ketika beliau berada di Makkah maupun di Madinah. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang diturunkan sekaligus, Al-Qur’an turun sedikit demi sedikit sesuai dengan peristiwa yang dihadapi umat saat itu. Wahyu hadir menjawab persoalan kehidupan, meneguhkan hati Nabi, sekaligus membimbing masyarakat menuju perubahan.

Proses turunnya wahyu secara bertahap ini dimulai ketika Nabi Muhammad SAW berkhalwat di Gua Hira, di Jabal Nur. Pada saat itulah Malaikat Jibril datang dan menyampaikan wahyu pertama berupa lima ayat awal Surah Al-‘Alaq:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Peristiwa turunnya wahyu pertama inilah yang kemudian dikenal dan diperingati sebagai Nuzulul Qur’an, yang oleh banyak riwayat ditempatkan pada 17 Ramadan.

Para ulama tafsir sejak dahulu telah menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara ayat-ayat yang menyebut Al-Qur’an turun pada Ramadan dan kenyataan bahwa wahyu turun selama 23 tahun. Dalam tafsirnya, Imam Al-Qurthubi menukil pendapat Muqatil bin Hayyan yang menyebut adanya kesepakatan ulama bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan sekaligus dari Al-Lauh Al-Mahfuz ke langit dunia.

Riwayat dari Ibnu Abbas r.a. juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadr secara keseluruhan, kemudian setelah itu diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan umat.

BACA JUGA  Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Amalan-amalannya

Dengan demikian, Lailatul Qadr dan Nuzulul Qur’an bukanlah dua peristiwa yang saling bertentangan. Lailatul Qadr menandai turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan ke langit dunia, sedangkan Nuzulul Qur’an merujuk pada awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW yang kemudian berlanjut selama lebih dari dua dekade.

Keduanya sama-sama terjadi di bulan Ramadan dan sama-sama memiliki kedudukan yang sangat agung dalam sejarah Islam. Lailatul Qadr adalah malam yang menandai keputusan besar Allah di alam semesta, sedangkan Nuzulul Qur’an menjadi awal perubahan besar dalam perjalanan umat manusia melalui risalah Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, memperingati kedua peristiwa ini sejatinya bukan sekadar mengenang sejarah. Ia adalah pengingat agar umat Islam kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, membacanya, memahami maknanya, dan menjadikannya pedoman hidup dalam setiap langkah kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *