Hikmah

Kisah Air Zam-zam Penawar Dahaga Sepanjang Masa

295
×

Kisah Air Zam-zam Penawar Dahaga Sepanjang Masa

Sebarkan artikel ini
https://www.pexels.com/id-id/foto/tetesan-air-40784/

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah menceritakan wanita pertama yang mengenakan korset adalah Ibu Isma’il (Hajar) dengan tujuan untuk menyembunyikan kehamilannya dari Siti Sarah. Ibrahim kemudian membawanya ketika Hajar masih menyusui anaknya, yaitu Isma’il dan menempatkan di dekat Ka’bah (sebelum dibangun seperti saat ini). Saat itu tidak ada seorang pun di sana. Mekkah adalah tempat yang kering sehingga tidak ada sumber air yang mencukupi. Ibrahim menempatkan Hajar dan Isma’il di sana. Di sampingnya dia meletakkan kantong kulit berisi air juga beberapa butir kurma.

Ibrahim beranjak meninggalkan mereka berdua, Hajar mengejarnya seraya berkata, “Wahai Ibrahim kemana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami berdua di lembah yang tidak berpenghuni seperti ini?” Hajar mengucapkan hal itu sampai beberapa kali. Tetapi Ibrahim tidak menghiraukanya. Kemudian Hajar berkata, “Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini? ” Ibrahim menjawab, “Ya”. Hajar lantas berkata, “Jika demikian aku yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan kami, ” Maka ia pun kembali ke tempat semula. Sementara Ibrahim meneruskan langkahnya hingga sampai di lereng pegunungan, yang sudah tidak terlihat lagi oleh Hajar.

Di sanalah Ibrahim mengangkat kedua tangannya dan memanjatkan doa : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur “ (Qs. Ibrahim :37)

Hajar lantas menyusui Isma’il, ia sendiri minum air dari kantong kulit yang disediakan Ibrahim. Sebanyak-banyaknya kantung kulit itu, akhirnya air tersebut habis. Hajar merasakan haus, dia masih bisa menahannya, tapi Isma’il yang mendapati air susu ibunya mengering tidak sanggup menahan rasa haus. Hajar menatap putranya nanar. Demi melihat kehausan yang diderita putranya, ia pergi untuk mencari batuan.

BACA JUGA  Takbiran Dzulhijjah Sudah Boleh Dilakukan Sejak Awal sampai Usai Hari-Hari Tasyriq

Dia melihat bahwa bukit Shafa’ adalah tempat terdekat yang paling mungkin dicapainya. Di sana dia berdiri dan mengarahkan pandangan nya ke bawah lembah dengan harapan dapat menemukan seseorang, namun sayangnya dia tidak melihat siapa pun. Kemudian dia turun dari bukit Shafa’, setelah sampai di bawah lembah, dia mengikatkan bajunya dan berlari layaknya seorang wanita yang dirundung derita, hingga sampai di ujung lembah, yaitu di atas bukit Marwah. Di sana dia berdiri lagi dan mengarahkan pandangan ke bawah lembah dengan harapan dapat menemukan seseorang. Sayangnya, dia tidak melihat siapa pun. Dia berlari antara Shafa’ dan Marwah hingga tujuh kali.

Ibnu Abbas berkata Rasulullah melanjutkan sabdanya, “Inilah menjadi awal mula ibadah Sa’i yang dilakukan orang-orang dalam ibadah haji. Kemudian ketika dia naik ke bukit Marwah, ia mendengar suara, Hajar berkata, ” Siapakah engkau, aku mendengar suaramu, maukah engkau menolong kami? ” Lalu ia melihat malaikat yang berdiri, yaitu di dekat tempat yang sekarang menjadi sumur zam-zam, menggali tanah dengan tumit atau sayapnya hingga nampaklah air yang keluar dari sana. Hajar membuat kubangan untuk menampung air yang terus mengalir, ia juga memenuhi kantung kulitnya. Air tetap menyembur deras, walaupun Hajar berusaha membendungnya. Rasulullah bersabda , “Allah merahmati Ibunda Isma’il, jika tidak ia bendung air tersebut, niscaya zam-zam akan menjadi arus yang deras dan menenggelamkan permukaan bumi”
Hajar meminum air tersebut lalu menyusui kembali putranya.
Maka malaikat berkata kepadanya, ” Jangan takut sengsara, karena di sini akan menjadi Baitullah anak ini yang akan membangun bersama ayahnya. (Uma)

Sumber : Ringkasan Shahih Bukhari yang disusun oleh Imam Az- Zabidi

Hikmah

Mental yang kuat itu, bukan supaya kau jadi layak pegang gadget. Itu terlalu kecil. Mental yang kuat itu agar engkau memperoleh kebaikan dan keselamatan hidup di dunia.