BANYUMASMEDIA.COM – Di tengah terik siang, ada satu jajanan yang mampu membawa seseorang pulang ke masa kecil hanya dalam satu gigitan: es gabus. Warnanya mencolok, merah muda, hijau, kadang cokelat—teksturnya lembut, dingin, dan manis. Bukan sekadar es, melainkan potongan ingatan yang dibekukan.
Es gabus dikenal sebagai jajanan tradisional berbahan dasar tepung hunkwe, santan, dan gula. Adonannya dimasak hingga kental, lalu diberi pewarna, dibentuk memanjang menyerupai balok kecil, dan dibekukan. Saat disajikan, es ini dipotong-potong dan disajikan dingin. Teksturnya tidak sekeras es batu, melainkan empuk dan sedikit kenyal, itulah yang membuatnya mudah dikenali dan sulit dilupakan.
Nama “gabus” kerap membuat orang mengernyitkan dahi. Bukan karena terbuat dari gabus sungguhan, melainkan karena teksturnya yang ringan dan lembut, mirip bahan gabus. Di banyak daerah, es ini dijajakan oleh pedagang keliling, disimpan dalam kotak styrofoam besar, dan dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
Bagi banyak orang, es gabus bukan hanya soal rasa, tapi soal momen. Tentang pulang sekolah dengan seragam masih basah keringat. Tentang uang receh yang digenggam erat. Tentang antre kecil di depan pedagang es sambil berharap warnanya masih tersisa. Es gabus sering menjadi hadiah kecil setelah bermain, atau penawar panas setelah berlarian di lapangan.
Di Banyumas dan daerah sekitarnya, es gabus kerap hadir di acara kampung, pasar malam, hingga hajatan. Ia tak pernah tampil mewah, tak butuh kemasan modern, dan jarang masuk etalase kuliner populer. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia hidup dari ingatan kolektif, dari rasa yang diwariskan, dari kesederhanaan yang jujur.
Kini, di tengah menjamurnya minuman dingin dengan topping berlapis dan harga belasan ribu, es gabus memang mulai jarang ditemui. Tapi ketika ia muncul, entah di pasar tradisional atau dijajakan di sudut kampung—orang-orang dewasa sering berhenti sejenak. Bukan hanya untuk membeli, melainkan untuk mengenang.
Es gabus mengajarkan bahwa tidak semua kenangan harus diceritakan panjang lebar. Ada yang cukup digigit pelan-pelan, dibiarkan mencair di lidah, lalu diam-diam menghangatkan hati. Seperti masa kecil, tak bisa diulang, tapi selalu bisa dirasakan kembali. [asr]











