EsaiLiputanRagam

Spanduk, Liga yang Tak Kunjung Datang, dan Timnas Putri yang Harus Bertarung Sendirian

×

Spanduk, Liga yang Tak Kunjung Datang, dan Timnas Putri yang Harus Bertarung Sendirian

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ada yang menarik di Stadion Indomilk, Tangerang, Sabtu (5/7/2025). Ketika para pemain Timnas Putri mengitari stadion untuk menyapa suporter, sebuah spanduk diberikan. Tulisannya sederhana: Pak Erick, kapan liga putri digelar? Para pemain tak ragu membentangkannya. Mereka tahu, spanduk itu adalah suara mereka juga.

Ini bukan pertama kalinya pertanyaan itu muncul. Dan sayangnya, juga belum ada jawaban pasti.

Liga yang Selalu Jadi Wacana, Tapi Tak Pernah Jadi Nyata

Kalau mau bicara soal mimpi besar Timnas Putri Indonesia, ya tidak bisa dilepaskan dari yang satu ini: liga putri.

Liga Putri Indonesia sempat digelar pada 2019. Hanya sebentar. Setelah itu, hilang seperti angin lewat. Disusul dengan alasan pandemi yang memang sulit dihindari. Tapi setelah pandemi mereda, liga ini tak kunjung kembali. Sementara Timnas Putri tetap dituntut tampil baik, meraih prestasi, dan membawa nama Indonesia.

Pertanyaannya: mau sampai kapan Timnas Putri berjuang tanpa fondasi yang kokoh?

Sebagaimana yang dikatakan para pengamat, tanpa liga, tim nasional akan selalu kesulitan membentuk skuad yang solid. Tidak ada ruang kompetisi yang teratur. Tidak ada tempat bagi para pemain muda untuk ditempa. Tidak ada jalur bagi regenerasi.

Bandingkan dengan negara-negara Asia lain yang liganya jalan terus, bahkan diperkuat dengan regulasi khusus untuk sepak bola putri. Jepang, misalnya, sudah punya WE League yang profesional dan berkelanjutan. Filipina pun terus berbenah. Sementara kita? Masih terjebak di pertanyaan klasik: Kapan liganya?

Liga Itu Rumah, Bukan Pajangan

Tanpa liga, pemain-pemain ini hanya dikumpulkan saat mau kompetisi, lalu dilepas lagi. Bagaimana mau kuat, bagaimana mau padu?

Liga itu rumah. Liga itu tempat mereka bertumbuh, membangun chemistry, mengasah skill, dan membentuk mental tanding. Tanpa liga, Timnas Putri hanya akan menjadi panggung sesaat yang gemerlap, tapi kosong di belakang layar.

BACA JUGA  Pusat Studi Kota dan Dunia (PSKD): Urban Poor Jadi Akar Tersembunyi Kerusuhan Kota-Kota di Indonesia

Ketua Umum PSSI Erick Thohir sebenarnya sudah memberi sinyal akan menggelar liga putri, tapi kapan? Belum jelas. Bahkan, dalam wawancara di beberapa media, Erick bilang sedang mencari format yang tepat. Lah, formatnya dicari terus, kompetisinya nggak jalan-jalan.

Kalau terus seperti ini, Timnas Putri Indonesia akan selalu jadi korban sistem yang setengah hati. Kita akan terus berputar-putar dalam siklus yang sama: kalah, lalu sedih, lalu tanya, lalu lupa, lalu diulang lagi.

Potensi itu Ada, Tapi Ruangnya Tidak Disediakan

Padahal, kalau mau jujur, potensi pemain putri kita nggak kecil. Lihat saja bagaimana mereka bermain melawan Taiwan. Mereka berani, mereka ngotot, mereka fight. Tapi ya gimana, lawannya sudah terbiasa bermain di liga yang teratur, sementara kita? Latihan dan tandingnya ya cuma numpang lewat.

Kita sering lupa, prestasi itu bukan datang dari doa semata. Ia butuh sistem. Butuh ekosistem. Dan liga adalah napas panjang yang menentukan apakah sebuah timnas bisa berkembang atau tidak.

Liga putri itu bukan proyek bonus. Bukan pelengkap. Ia seharusnya jadi prioritas kalau benar PSSI mau bicara soal kemajuan sepak bola Indonesia secara utuh, bukan cuma di level laki-laki saja.

Spanduk Itu Tak Boleh Diabaikan

Spanduk kemarin itu sebenarnya adalah alarm. Tanda bahwa para pemain tidak mau lagi diam. Mereka mau didengar. Mereka mau diperhatikan. Mereka tidak mau terus jadi tim darurat yang hanya diingat ketika jadwal internasional tiba.

Pak Erick, Liga Putri itu hak, bukan hadiah.

Dan kalau mau prestasi Timnas Putri Indonesia tumbuh, jawabannya bukan sekadar pernyataan di media. Jawabannya ada di lapangan. Ada di liga yang berjalan. Ada di jadwal tanding yang teratur. Ada di klub yang serius membina pemain putri.

BACA JUGA  Memasak: Skill Tambahan yang Wajib Dimiliki Bapak-Bapak

Karena percayalah, tanpa liga, kita cuma akan kembali pada spanduk yang sama, dengan pertanyaan yang sama, di tahun-tahun yang akan datang: Kapan liganya, Pak? [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *