LiputanRagam

200 Tahun Setelahnya, Kisah Perang Jawa Akhirnya Dibawa ke Layar Lebar

×

200 Tahun Setelahnya, Kisah Perang Jawa Akhirnya Dibawa ke Layar Lebar

Sebarkan artikel ini
Visinema menggelar konferensi pers untuk mengumumkan project film terbaru bertajuk. Doc dari r @anggasasongko

BANYUMASMEDIA.COM – Dua abad sejak api perlawanan itu membara, kisah tentang Perang Jawa akhirnya kembali menyapa generasi hari ini. Bukan lewat buku sejarah, melainkan melalui film layar lebar bertajuk “Perang Jawa”, karya terbaru sutradara Angga Dwimas Sasongko yang diproduksi oleh Visinema Pictures dan Endgame.

Film ini bukan sekadar proyek sinema. Ia hadir sebagai panggilan nurani sejarah, ajakan untuk kembali menoleh ke masa saat tanah Jawa tak hanya dihuni oleh konflik fisik, tapi juga pergulatan iman, harga diri, dan keyakinan akan keadilan.

“Perang Jawa bukan sekadar film. Ia adalah panggilan untuk menatap kembali saat tanah ini membara oleh iman, harga diri, dan keyakinan akan keadilan,” ungkap Angga Dwimas Sasongko dalam pernyataannya.

Perang Jawa (1825–1830) adalah salah satu episode paling berdarah dan menentukan dalam sejarah perlawanan rakyat Nusantara terhadap kolonialisme Belanda. Di balik pertempuran dan siasat militer, ada sosok Pangeran Diponegoro yang memilih jalan keyakinan dibanding kenyamanan sebagai bangsawan istana. Ia adalah simbol bahwa tanah dan kehormatan bukan untuk ditawar.

Film ini digambarkan sebagai narasi tentang manusia dan kemanusiaan, tentang tanah yang bergolak karena martabat diinjak, tentang mistik Jawa yang bertemu dengan darah dan debu medan perang. Dari Tegalrejo hingga Gua Selarong, dari suara-suara rakyat yang nyaris hilang, cerita ini menunggu 200 tahun untuk diceritakan kembali dengan segenap hati.

Angga menyampaikan bahwa dirinya masuk ke proyek ini bukan sebagai ahli sejarah, melainkan pembuat cerita yang ingin belajar.

“Saya datang ke proyek ini bukan sebagai ahli sejarah, tapi sebagai pembuat cerita yang ingin belajar. Mencoba mengerti, dan memberi ruang agar kisah ini bisa hidup kembali,” tambahnya.

BACA JUGA  Nikmatnya Santap Soto Sokaraja di Warung Sari Rasa

Dalam proses produksi, film ini didukung oleh tim dengan latar belakang kuat di bidang sejarah dan sinema. Peter Carey, sejarawan Inggris yang dikenal luas karena karya-karyanya tentang Pangeran Diponegoro, didapuk sebagai konsultan sejarah. Sementara itu, Taufan Adryan menjabat sebagai produser, dan Gita Wirjawan sebagai executive producer.

Film Perang Jawa bukan semata-mata nostalgia. Ia diharapkan menjadi jembatan, bukan hanya menuju masa lalu, tetapi juga untuk menyelami siapa kita hari ini sebagai bangsa.

Belum ada tanggal resmi rilis, namun antusiasme sudah mulai terasa sejak pengumuman resmi proyek ini di media sosial Visinema dan para sineasnya.

Dari medan pertempuran hingga layar bioskop, kisah Diponegoro dan Perang Jawa kembali hidup dan kali ini, ia berbicara dengan gambar bergerak.

“Terima kasih kepada semua yang membuka jalan. Kepada mereka yang lebih dulu menjaga nyala cerita ini. Semoga film ini bisa jadi jembatan, bukan hanya ke masa lalu, tapi ke pemahaman yang lebih dalam tentang siapa kita.” pungkas Angga Dwimas Sasongko. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *