InspiratifSosok

Semedo Manise Gula Semut Banyumas Raih Award Bina Mitra UMKM 2024 Nasional

346
×

Semedo Manise Gula Semut Banyumas Raih Award Bina Mitra UMKM 2024 Nasional

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Dalam ajang Bina Mitra UMKM Award 2024 di Jakarta untuk pertama kalinya, perusahaan dan lembaga mendapat penghargaan dalam kegiatan bina mitra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satunya Akhmad Sobirin yang berhasil mengusung brand Semedo Manise, produk gula semut bertaraf eksport. “Kami mendapatkan awarding di Hotel Bidakara Jakarta pada 29 Juni 2024,” katanya.

“Untuk awarding kali ini merupakan penghargaan tertinggi untuk UMKM di Indonesia yang dipelopori oleh Corporate Fondation for CSR Development (CFCD Fondation) gabungan dari beberapa perusahaan besar yang memiliki pendampingan terhadap UMKM masing masing,” imbuhnya.

Penghargaan diberikan kepada empat kategori yaitu Minerba, Produksi dan Jasa, Kelistrikan dan Minyak Gas Mereka. Koperasi Semedo Manise Sejahtera mendapat pengahrgaan bidang maufacture dengan Perusaaan pendampingan dari dari PT. Astra International, Tbk.

Akhmad Sobirin adalah owner dari Semedo Manise sekaligus ketua koperasi Semedo Manise Sejahtera. Ia memulai membangun kelompok tani sejak 2012 dengan menggandeng sebanyak 25 orang petani di wilayah orangtuanya dan kemudian berkembang meluas hingga kini ada 1000 petani yang berasal dari 5 desa dari beberapa kecamatan di Banyumas.

“Produk utama kami adalah gula semut/kristal organik. Produk kami tanpa mengandung bahan kimia atau campuran apapun jadi benar benar murni, kalaupun ada pengawet alami,” jelasnya.

Koperasi kami berdiri di tahun 2021 dan sudah mempunyai ratusan anggota dari kelompok tani dengan legalitas sebagai Koperasi Produksi.

Adapun proses pencapaian hingga saat ini banyak sekali dari segi hambatan dan kendalanya sejak 2012. Kendala yang paling berat adalah mengubah mindset petani yakni bagaimana mengajak mereka untuk berubah tidak hanya berfikiran untuk hari esok saja tetapi bagaimana mereka memiliki investasi jangka panjang, bagaimana pendidikannya, kesehatannya serta lingkungannya dan sebagainya.

BACA JUGA  Mengenal Winarko, Kaur Kesra Inspiratif Bantu Bedah 100 Lebih Rumah Warga Pedesaan

“Salah satunya adalah dengan kita terus mendampingi mereka dengan memiliki penghasilan yang cukup. Kemudian juga ada diversifikasi usahanya ada ternak, ibu-ibunya ada pembuatan kerajinan,”

Terkait hambatan dari internal adalah ketakutan mencoba dengan sesuatu yang baru. Waktu itu singgunganya banyak sekali termasuk rasa malas, tidak percaya diri karena awal mula tinggal di desa. Belum lagi cemoohan orang yang memunculkan rasa minder.

Sedangkan dari eksternal juga ada seperti cemoohan, persaingan pasar dengan keberadaan kami sehingga mengganggu pasokan dari mereka. “Kami mengubah sistem perdagangan yang sudah lama yang ‘merugikan’ petani,”

Kami perlahan lahan melakukan perubahan ini. Petani yang tadinya mempunyai tanggungan di perbankan ilegal, koperasi yang bersifat harian dan sebagainya, kemudian kita alihkan ke Kredit Usaha Rakyat (KUR) sehingga jadi lebih praktis dan tertata bahkan tidak memberatkan.

Kami juga mendapatkan sumbangsih dari pemerintah daerah, pusat hingga kementerian yang sekarang mendampingi kami. Untuk CSR fokus di PT. Astra International dan Bank Indonesia.

Hanya saja saat ini yang di lombakan dari PT Astra International jadi kami mendapatkan awarding dan PT Astra Internasional nya juga sekaligus mendapatkan piala.

Kegiatan ini melibatkan petani, komunitas anak muda yang tinggal di desa yang punya mimpi besar desanya harus lebih baik, lebih maju, lebih kuat dari sisi pendidikan dan kesehatannya serta lingkungannya.

Dari sisi pemodal ada yang sistemnya bagi hasil, perbankan juga ada, kemudian dari kementerian koperasi yakni LPDB (Lembaga Permodalan Dana Bergulir). Selain itu juga ada dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan LPEI atau Exim Bank.

“Cuma kami baru ditahap proses belum bisa mengakses. Jadi kalo permodalan yang saat ini lebih kepada KUR dari pihak Koperasi maupun ditingkat kotanya,”

BACA JUGA  Tuti Sundari, Kartini dari Kaki Gunung Slamet

Visi misi kami adalah bagaimana kami bisa memproduksi gula semut dan segala turunannya ataupun varian rasanya dengan kualitas ekspor dan ekspor memang target pasar terbesarnya.

Perluasan pemberdayaan masyarakat petani juga telah kami lakukan di beberapa kecamatan seperti Pekuncen, Gumelar dan Kedungbanteng.

Kemudian kesejahteraan petani meningkat baik dari segi pendidikan dan kesehatan serta lingkungan, pendapatan perkapita desa, ekosistem desa yang berkembang dan harapan kami adalah tidak hanya mengekspor gula saja tetapi juga produk lainnya seperti kapulaga, kopi dan lainnya dan di tahun ini kami juga sudah menginisiasi untuk penanaman ribuan kopi.

“Jadi insyaAllah next nya tidak hanya semedo manise tapi juga semedo kopinya, mohon do’anya,” pungkasnya. (Tanti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *