Hikmah

Ramadhan: Menemukan Keseimbangan dan Meningkatkan Kualitas Diri

×

Ramadhan: Menemukan Keseimbangan dan Meningkatkan Kualitas Diri

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ramadhan tidak sekadar mengubah jadwal makan dan tidur. Ia adalah madrasah ruhani, ruang penyucian jiwa, dan momentum untuk menata ulang arah hidup.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa menjadi inti dari seluruh ibadah Ramadhan. Namun takwa bukan hanya soal menjauhi yang haram. Ia adalah kemampuan menghadirkan ketenangan batin, kejernihan pikiran, dan keseimbangan hidup.

Melambat di Tengah Dunia yang Bising

Di era modern, hidup bergerak sangat cepat. Notifikasi gawai datang tanpa jeda. Informasi mengalir tanpa henti. Layar ponsel kerap menjadi “dunia kedua” yang menyita perhatian dan energi jiwa.

Ramadhan mengajarkan untuk melambat. Menikmati keheningan sahur. Meresapi lantunan ayat-ayat suci dalam shalat tarawih. Duduk dalam tafakur tanpa distraksi.Inilah keindahan Ramadhan yang sejati. Bukan sekadar estetika tampilan, tetapi jiwa yang bercahaya karena kedekatan dengan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan (ihtisab), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Iman dan pengharapan itulah yang menjadikan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses penyucian hati.

Islam dan Prinsip Keseimbangan

Islam adalah agama wasathiyah—agama yang menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 77:

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”

Ramadhan bukan alasan untuk bermalas-malasan. Bukan pula bulan untuk tenggelam dalam kesibukan dunia tanpa ruh ibadah. Ia adalah waktu menata ulang pola hidup.Menjaga shalat tepat waktu. Mengatur sahur dan berbuka dengan disiplin. Tetap produktif dalam pekerjaan. Menunaikan hak keluarga. Semua itu adalah bagian dari keseimbangan yang diajarkan Ramadhan.

BACA JUGA  Libatkan Tanah Air dalam Doa

Ketika seseorang mampu menyeimbangkan ibadah dan tanggung jawab dunia, sesungguhnya ia sedang menjalani transformasi diri yang nyata.

Digital Detox dan Spiritual Detox

Di era digital, Ramadhan juga menjadi momentum untuk membersihkan diri dari distraksi yang tidak perlu. Banyak waktu habis untuk menggulir layar tanpa arah, membaca komentar yang tak bermanfaat, atau menyaksikan hal-hal yang justru mengeraskan hati.

Ramadhan mengajak mengurangi yang tidak penting, lalu menggantinya dengan tadarus, dzikir, membaca buku yang mencerahkan, serta memperbanyak muhasabah.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika Malaikat Jibril menemuinya untuk mempelajari Al-Qur’an.(HR. Imam Bukhari)

Kedekatan dengan wahyu itulah yang menghidupkan jiwa. Ketika layar ponsel dikurangi dan mushaf lebih sering dibuka, hati yang keruh perlahan menjadi jernih.

Upgrade Diri yang Sesungguhnya

Puasa adalah latihan pengendalian diri. Kita menahan yang halal karena ketaatan kepada Allah. Jika yang halal saja mampu kita tinggalkan demi perintah-Nya, maka seharusnya yang haram lebih mudah dijauhi.

Namun Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga.”(HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Artinya, keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari kuatnya menahan lapar, tetapi dari perubahan karakter yang lahir setelahnya. Apakah hati menjadi lebih bersih? Apakah akhlak menjadi lebih baik? Apakah disiplin dan kesabaran meningkat?

Ramadhan adalah reformasi diri. Ia hanya sebulan, tetapi dampaknya bisa menentukan kualitas sebelas bulan berikutnya.

Jangan biarkan Ramadhan berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa makna. Jadikan ia ruang menjaga ketenangan jiwa, menata keseimbangan hidup, dan meningkatkan kualitas diri.

BACA JUGA  Sikap Kita dalam Berdoa

Semoga kita keluar dari Ramadhan dalam keadaan lebih tenang, lebih kuat, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Diolah redaksi dari naskah khutbah Jumat Muhamad Mujari, S.T., Lc., M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *