Berita

Pelatihan Resiliensi Dan Peningkatan Kapasitas Anak Penyintas Kekerasan DKI Jakarta Dan Sekitarnya

49
×

Pelatihan Resiliensi Dan Peningkatan Kapasitas Anak Penyintas Kekerasan DKI Jakarta Dan Sekitarnya

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Jakarta, Ahad (2/6/2024), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) telah merilis Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2021. Hasilnya secara garis besar, prevalensi anak usia 13-17 tahun pernah mengalami satu jenis kekerasan atau lebih di sepanjang hidupnya.

Data SIMFONI Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) tahun 2021 dari Januari sampai dengan Desember 2021, jumlah anak korban kekerasan yang dilaporkan sebanyak 15.912 anak.

Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah ditunjuk sebagai Lembaga Mitra oleh KemenPPPA bersama LPPM Universitas Negeri Jakarta serta mendapat pendampingan dari ASWGI (Asosiasi Pusat Studi Wanita Wanita/Gender dan Anak Indonesia) mendapatkan kepercayaan untuk melaksanakan lanjutan Program Resiliensi dan Penguatan Kapasitas Anak Penyintas Kekerasan dari 2023 serta 2024).

Adapun penerima manfaat program ini adalah anak-anak dengan rentang usia 7-17 tahun yang mengalami kekerasan dan berasal dari wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya (DKI Jakarta dan sekitarnya)

Selain pelatihan rangkaian kegiatannya sebagai berikut:

  1. Melakukan needs assessment untuk mengetahui kebutuhan anak penyintas kekerasan;
  2. Menyelenggarakan kegiatan penguatan resiliensi dan peningkatan kapasitas anak penyintas kekerasan melalui serangkaian kegiatan pelatihan dan pendampingan yang disusun berdasarkan hasil needs assessment.
  3. Melakukan koordinasi/channeling terkait pelaksanaan kegiatan dengan stakeholder atau lembaga mitra terkait, meliputi Pemerintah Daerah (tingkat provinsi/kota/kabupaten), kelompok masyarakat dan perguruan tinggi.

Adapun tujuan utama dari dilaksanakannya program resiliensi dan penguatan karakter menyasar para penyintas anak yang mengalami kekerasan dengan tujuan untuk;

  1. Meningkatkan pengetahuan anak terkait tindak kekerasan pada anak dan dampaknya bagi pribadi penyintas sebagai pribadi, keluarga, komunitas, dan anggota masyarakat.
  2. Meningkatkan pengetahuan tentang hak-hak anak yang dilindungi oleh negara dan dukungan semua pihak untuk melakukan perlindungan pada anak.
  3. Meningkatkan kemampuan anak membangun komunikasi dan jaringan dalam kehidupan keluarga, komunitas, dan masyarakat.
  4. Meningkatkan keterampilan (soft dan hard skill) penyintas anak dalam menyampaikan pemikiran/pendapatnya secara lisan dan tertulis, peluang berpartisipasi sesuai kapasitas dan kebutuhan terbaik anak.
  5. Meningkatkan kreatifitas anak sesuai dengan potensi dan hobi masing-masing sesuai dengan kapasitas terbaik anak.
BACA JUGA  Kenalkan Budaya Indonesia, SMP IT Harapan Bunda Purwokerto Gelar Indonesian Culture

Acara ini menghadirkan para narasumber antara lain; Dr. Hj. Ikhlasiah Dalimoenthe, M.Si ketua Satgas PPKS UNJ dan Dr. Yasnita, S.Pd.,M.Si Koordinator Pusat Penelitian Pendidikan, Sosial
Humaniora, dan Kajian Wanita-
LPPM Universitas Negeri Jakarta, dan tenaga Profesional Lisnani Sukaidawati, S.Sos, M.Si
Dini Mulyati , S.Psi , Amd TW
Diah Hadiani , S.Psi.,Psikolog
Ani Suriani , S.Psi.,Psikolog, Pelatih Soft Skill dan Hardskill

Kegiatan ini juga dihadiri oleh Muhammad Soleh selaku Perencana ahli madya pada Asdep Pemenuhan Hak Anak atas Kesehatan dan Pendidikan
Dan tim KPPPA. Terpilih juga dalam kegiatan ini Duta Pelapor dan Pelopor 2024 untuk Wilayah DKI Jakarta dan Sekitarnya.

“Kami berharap kegiatan ini bisa terus berkelanjutan dan berkesinambungan sehingga anak anak penyintas ini mendapatkan kesempatan yang seluas luasnya dalam menggapai cita cita nya sebagai anak bangsa, generasi emas yang berkualitas dimasa mendatang,” ujar Ismunawaroh selaku Ketua Pelaksana kegiatan dari Cagar Foundation. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *