LiputanRagam

dr. Angka: Nama Jalan yang Kita Lewati, Tapi Jarang Kita Kenali

×

dr. Angka: Nama Jalan yang Kita Lewati, Tapi Jarang Kita Kenali

Sebarkan artikel ini
ilustrasi P

BANYUMASMEDIA.COM – Saya sudah tinggal di Purwokerto hampir 13 tahun. Dari fase jadi mahasiswa, lanjut kerja, sampai sekarang berkeluarga, Purwokerto sudah seperti rumah kedua. Tapi baru beberapa minggu lalu, saya tahu bahwa “dr. Angka” itu bukan cuma nama jalan, melainkan nama tokoh nyata dalam sejarah Indonesia.

Iya, tokoh sungguhan. dr. Angka adalah salah satu pendiri dan bendahara organisasi Boedi Oetomo, organisasi pelopor pergerakan kebangsaan di Indonesia. Nama yang mestinya kita sebut dengan penuh hormat, bukan sekadar titik temu saat janjian makan siang.

Jalan dr. Angka sendiri cukup dikenal di tengah kota Purwokerto. Di sepanjang jalannya berdiri dua rumah sakit besar, hotel bintang empat, serta berbagai aktivitas khas kota yang nyaris tak pernah tidur. Tapi sejarah di balik namanya, sejujurnya, masih asing bagi banyak orang, termasuk saya sendiri.

Nama “Angka” ternyata berasal dari Anggoro Kasih, yakni hari kelahiran beliau menurut penanggalan Jawa (Selasa Kliwon). dr. Angka lahir tahun 1887, dan berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputra) pada tahun 1912 dengan predikat cum laude.

Setelah lulus, ia mengabdi sebagai dokter di berbagai daerah, termasuk Banyumas dan Purwokerto. Sebagai dokter pribumi di masa kolonial, kiprahnya bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga menyulut semangat kebangsaan. Ia aktif berorganisasi dan menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional.

Setelah pensiun tahun 1949, dr. Angka mendirikan Apotek Sang Dwiwarna bersama beberapa rekannya. Apotek ini berdiri di paviliun kediaman beliau di sudut perempatan Jalan A. Yani, Jalan Masjid, kawasan yang sekarang masih dikenal ramai oleh warga lokal. Apotek tersebut bertahan hingga dijual kepada pihak lain pada tahun 1970.

BACA JUGA  Pesantren Ramah Anak: Langkah Jateng Menuju Zero Bullying

dr. Angka wafat dan dimakamkan di Pesarean Keboetoeh, Desa Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja.

Semoga, setelah ini, kita juga mulai mengenangnya sebagai sosok yang pernah berjuang, bukan hanya di jalanan kota, tapi di jalan panjang sejarah bangsa ini. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *