BANYUMASMEDIA.COM – Kebenaran sejarah mengenai makam tua di puncak Gunung Grenggeng, Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, mulai didiskusikan ulang. Makam yang selama ini diyakini masyarakat dan ditetapkan Pemerintah Kabupaten Kebumen sebagai situs cagar budaya religi Syekh Baribin atau Raden Baribin, leluhur Dinasti Bupati Banyumas yang disinyalir merupakan tempat persemayaman tokoh sejarah lain.
Polemik historis tersebut mengemuka dalam acara “Saresehan Budaya: Syekh Baribin dan Adipati Jana” yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Grenggeng di Balai Pertemuan Bodeh, Kebumen, Sabtu (31/10/2026) malam.
Budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun, menjelaskan bahwa berdasarkan pelacakan teks komparatif, tidak ditemukan data tekstual dalam kronik lama yang menyatakan Raden Baribin dimakamkan di lokasi tersebut. Kajiannya didasarkan pada naskah Babad Banyumas Danuredjan yang ditulis oleh Patih Kelima Kesultanan Yogyakarta, Adipati Danureja V, pada tahun 1883.
Danureja V merupakan pejabat keraton yang secara historis membangun cungkub makam di Gunung Grenggeng. Jejak pembangunannya terekam jelas pada prasasti beraksara Jawa yang hingga kini masih terpasang di situs tersebut. Namun, dalam naskah babad yang ditulisnya sendiri, sang patih tidak pernah menyebut makam itu sebagai makam Syekh Baribin.
“Dalam naskah tertulis bahwa pertapa yang bertapa dan kemudian dimakamkan di Gunung Grenggeng adalah Raden Jaka Krenda atau Raden Haryo Panulahar, putra nomor 78 dari Prabu Brawijaya V. Jadi, bukan Raden Baribin atau Syekh Baribin,” kata Nassirun.
Dalam manuskrip tersebut dikisahkan, Raden Haryo Panulahar sempat meninggalkan Gunung Grenggeng dan berdakwah hingga wafat di wilayah Gunung Sikanco, daerah Ayah (sekarang masuk wilayah Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap). Jenazahnya kemudian dipindahkan kembali ke Gunung Grenggeng oleh muridnya, Adipati Janah, setelah melewati konflik perebutan jenazah yang sengit dengan pengikut di Ayah. Peristiwa tersebut secara tutur lokal melahirkan asal-usul nama daerah Kali Bacin dan menyisakan bekas gorong-gorong kuno di situs Sikanco.
Indikasi ketidaksesuaian tokoh yang dimakamkan ini diperkuat oleh hasil riset ahli pembaca nisan tua sekaligus dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Yaser Arafat. Berdasarkan tipologi fisik dan ornamennya, batu nisan utama di Gunung Grenggeng merupakan produk visual khas abad ke-17 (tahun 1600-an). Secara kronologis, jasad yang disemayamkan di sana kemungkinan besar wafat pada medio abad ke-16 (tahun 1500-an).
Secara garis waktu sejarah, periodisasi tersebut tidak cocok dengan Raden Baribin yang hidup di akhir masa kejayaan Kerajaan Majapahit (sebelum tahun 1500). Sebaliknya, tarikh tersebut lebih mendekati masa hidup Raden Haryo Panulahar yang merupakan keponakan dari Raden Baribin. Meski demikian, fakta penanggalan komparatif ini masih menyisakan ruang diskusi terbuka.
“Saya tidak bisa mengklaim bahwa apa yang tertulis dalam Babad Banyumas Danurejan adalah satu-satunya sumber utama yang paling valid. Hal ini sangat terbuka untuk didiskusikan ulang. Silakan bagi para peneliti untuk mengkajinya kembali dengan penuh ketelitian,” ujar Nassirun.
Hingga saat ini, pihak pamong desa maupun juru kunci setempat mengakui belum menemukan dokumen tertulis alternatif yang menguatkan klaim tradisional mengenai keberadaan makam Syekh Baribin di puncak bukit tersebut. Langkah Saresehan Budaya ini diharapkan menjadi pemantik riset arkeologis dan filologis yang lebih komprehensif guna meluruskan historiografi cagar budaya di Kebumen. [asr]











