Kilas

Musim Hujan Jateng Diprediksi Mulai November, Banyumas Masuk Wilayah Awal

4
×

Musim Hujan Jateng Diprediksi Mulai November, Banyumas Masuk Wilayah Awal

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA — Jawa Tengah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut awal musim hujan 2026/2027 di sebagian wilayah Jawa Tengah mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal akibat pengaruh El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang mengarah ke fase positif.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, mengatakan sekitar 58 persen wilayah Jawa Tengah diperkirakan memasuki musim hujan pada November 2026.

“Awal musim hujan di Provinsi Jawa Tengah umumnya terjadi pada November 2026, sebesar 58 persen dari total luasan wilayah Jateng masuk penghujan,” kata Zauyik dalam konferensi pers awal musim hujan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Rabu (30/9/2026).

Dari wilayah yang diperkirakan memasuki musim hujan pada November tersebut, sekitar enam persen diprediksi mulai pada dasarian pertama atau awal November. Wilayah itu mencakup Kabupaten Wonosobo, sebagian Banjarnegara, sebagian kecil Temanggung, Purbalingga, Tegal, Brebes, dan Banyumas.

Artinya, Banyumas termasuk wilayah Jawa Tengah yang diperkirakan mulai memasuki musim hujan lebih awal dibanding sejumlah daerah lain. Namun, awal musim hujan tidak terjadi secara serentak di seluruh Jawa Tengah.

Sekitar enam persen wilayah Jawa Tengah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada dasarian kedua Desember atau sekitar pertengahan Desember. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Jepara, sebagian Rembang, serta sebagian kecil Demak, Pati, dan Wonogiri.

Dipengaruhi El Niño Sangat Kuat

Zauyik menjelaskan, kondisi iklim global saat ini dipengaruhi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Indeks ENSO periode Juli-Agustus-September tercatat +2,63. BMKG memprediksi kondisi El Niño tersebut masih berlangsung hingga awal 2027.

Sementara itu, IOD yang sebelumnya berada dalam kondisi netral mulai menunjukkan kecenderungan positif pada September 2026. Kondisi tersebut diperkirakan bertahan hingga akhir tahun.

BACA JUGA  Pemkab Purbalingga Gerak Cepat Tangani Longsor Mrebet, Bantuan Disalurkan dan Mitigasi Disiapkan

BMKG sebelumnya juga menyebut kombinasi El Niño sangat kuat dan IOD positif dapat mengurangi curah hujan serta membuat musim hujan datang lebih lambat di sejumlah wilayah Indonesia.

“Bila kita bandingkan dengan kondisi normalnya, maka musim hujan diprediksi mundur akibat dampak kemarau lebih panjang dan anomali iklim El Nino sangat kuat, serta IOD positif,” jelas Zauyik.

Sebagian besar wilayah Jawa Tengah diperkirakan mengalami awal musim hujan yang mundur lebih dari satu bulan atau sekitar tiga dasarian dibandingkan kondisi normal. Durasi musim hujan 2026/2027 secara umum diperkirakan berlangsung selama lima hingga enam bulan.

Puncak musim hujan di Jawa Tengah diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027. Berdasarkan jumlah Zona Musim (ZOM), sebanyak 24 ZOM atau sekitar 40 persen wilayah Jawa Tengah diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027. Selanjutnya, 22 ZOM pada Februari dan delapan ZOM pada Maret.

Waspadai Pancaroba

BMKG mengingatkan masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Masa pancaroba diperkirakan mulai berlangsung sekitar pertengahan Oktober.

Sejumlah bencana hidrometeorologi perlu diwaspadai pada periode tersebut, terutama banjir bandang, longsor, dan puting beliung.

Sektor pertanian juga diminta memperhatikan potensi banjir serta memastikan saluran irigasi dalam kondisi baik menjelang masuknya musim hujan.

“Waspadai banjir bandang, longsor, dan puting beliung pada pancaroba. Jika awal musim hujan diprediksi terjadi pada November, maka pancaroba diprediksi mulai pertengahan Oktober sebagai masa peralihan musim,” pungkasnya. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *