Liputan

Kekeringan Meluas, Relawan Indonesia Salurkan 28 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Banyumas

12
×

Kekeringan Meluas, Relawan Indonesia Salurkan 28 Ribu Liter Air Bersih ke Warga Banyumas

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Banyumas membuat sebagian warga masih kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut mendorong Relawan Indonesia bersama masyarakat menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah desa yang terdampak.

Dipimpin Umar Tajudin, Relawan Indonesia menyalurkan air bersih ke Desa Telaga, Randegan, Pancurendang, Cipete, Batuanten, Cilongok, Panusupan, dan Besuki.

Bantuan yang dihimpun dari donasi masyarakat Banyumas tersebut disalurkan secara bertahap sejak 11 Agustus hingga 3 September 2026. Total air bersih yang telah didistribusikan mencapai sekitar 28.000 liter.

Umar mengatakan bantuan tersebut diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama menghadapi musim kemarau.

“Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan kebutuhan masyarakat. Ini memang bantuan yang sifatnya musiman karena kami merespons kondisi yang sedang dihadapi warga. Namun kami berharap persoalan kekeringan ini mendapatkan penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan,” kata Umar.

Menurut dia, gotong royong masyarakat dan relawan penting untuk memenuhi kebutuhan warga ketika sumber air mulai sulit diperoleh. Namun, distribusi air menggunakan kendaraan tangki tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kekeringan yang berulang setiap tahun.

Ia berharap pemerintah daerah memperkuat program penanganan kekeringan, terutama di wilayah yang setiap musim kemarau mengalami persoalan serupa.

“Barangkali pemerintah daerah bisa memberikan perhatian lebih melalui program penanganan yang lebih baik. Bantuan air bersih tetap penting sebagai respons cepat, tetapi perlu juga dipikirkan bagaimana masyarakat memiliki sumber air yang lebih permanen dan tidak selalu bergantung pada bantuan ketika musim kemarau datang,” ujarnya.

50 Desa Terdampak Kekeringan

Kekeringan di Banyumas masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Banyumas per 1 September 2026, kekeringan telah berdampak pada 50 desa/kelurahan di 19 kecamatan.

BACA JUGA  Sudah 57 Hektare Lahan di Banjarnegara Nganggur, Warga dan Santri Akhirnya Turun Tangan Bikin Pertanian Terpadu

Sebanyak 12.805 keluarga atau 44.545 jiwa tercatat terdampak. Pada periode yang sama, BPBD Banyumas telah mendistribusikan sekitar 2,545 juta liter air bersih melalui 513 ritase pengiriman.

Ancaman kekeringan juga belum sepenuhnya berakhir. BMKG pada awal September 2026 menetapkan Banyumas sebagai salah satu dari 25 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang berada dalam status Awas kekeringan meteorologis pada Dasarian I September, atau periode 1–10 September.

Status tersebut ditetapkan berdasarkan potensi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen.

Di tengah kondisi tersebut, Umar menilai penanganan kekeringan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Relawan dan masyarakat dapat membantu memenuhi kebutuhan warga dalam situasi darurat, sementara pemerintah perlu menyiapkan infrastruktur untuk mengurangi ketergantungan terhadap bantuan ketika kemarau datang.

Beberapa bentuk penanganan yang menurut Umar dapat dikembangkan antara lain pembangunan tandon, sumur bor, embung, perlindungan sumber mata air, serta pengembangan jaringan penyediaan air bersih di wilayah rawan kekeringan.

Pemerintah Kabupaten Banyumas sendiri telah menyatakan menyiapkan pembangunan tandon dan sumur bor sebagai bagian dari upaya menghadapi kekeringan yang berulang. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan mata air, air bawah tanah, embung, serta program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).

“Semoga apa yang dilakukan masyarakat melalui donasi dan relawan ini bisa menjadi bagian kecil dari upaya bersama. Tetapi yang lebih penting, jangan sampai setiap tahun kita hanya mengulang pola yang sama: kemarau datang, warga kesulitan air, kemudian air didistribusikan. Kita perlu membangun sistem yang membuat masyarakat lebih siap menghadapi kekeringan,” kata Umar.

Relawan Indonesia menyatakan penyaluran bantuan akan dilakukan sesuai kemampuan dan ketersediaan donasi masyarakat, terutama untuk wilayah yang membutuhkan.

BACA JUGA  Muktamar VII KBPII, Jusuf Kalla: Jangan Hanya Jadi Politisi

Bagi Umar, distribusi air bersih dalam kondisi kekeringan merupakan respons terhadap kebutuhan dasar warga. Ia juga melihat donasi masyarakat sebagai bentuk keterlibatan warga dalam membantu masyarakat lain yang terdampak.

“Donasi masyarakat Banyumas ini menunjukkan bahwa kepedulian masih kuat. Kami hanya menjadi bagian yang menyalurkan kepedulian itu kepada warga yang membutuhkan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *