BANYUMASMEDIA.COM – Bagi peternak ayam skala kecil dan menengah, memantau kondisi kandang dan memastikan pakan terbagi secara merata merupakan pekerjaan yang harus dilakukan berulang setiap hari. Ketergantungan pada pemeriksaan manual membuat peternak harus lebih sering berada di kandang, sementara perubahan kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan kadar amonia tidak selalu mudah dipantau.
Persoalan tersebut mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengembangkan IoTernak, sebuah ekosistem smart farming berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu peternak memantau kondisi kandang secara real-time sekaligus mengotomatisasi pemberian pakan.
IoTernak dikembangkan oleh Muhammad Nugrahhadi Al Khawarizmi sebagai CEO, Arga Aryanta Indrafata sebagai CTO, Gita Nurmala sebagai CFO, Lula Khaisha Delavia sebagai CMO, dan Farhan Ibnu Fajar sebagai ChEO. Pengembangan tersebut dilakukan dengan pendampingan Ir. Mohammad Irham Akbar, S.Kom., M.Cs.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan tim sebagai penerima pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Nasional Kemendikti pada tahap bertumbuh, kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan.

Berangkat dari Persoalan Peternak
Gagasan IoTernak berawal dari upaya tim memahami persoalan yang dihadapi peternak ayam skala kecil dan menengah. Melalui kuesioner terhadap 31 peternak dan wawancara dengan lima peternak, tim menemukan sejumlah kendala dalam operasional kandang.
Sebanyak 58,1 persen responden menyatakan cukup sering harus bolak-balik mengecek kondisi kandang. Sementara itu, 54,8 persen responden menyatakan mengalami keterlambatan mengetahui kondisi heat stress pada ayam yang berpotensi menyebabkan kematian.
Persoalan juga ditemukan dalam pemberian pakan. Sebanyak 80,6 persen responden menyatakan pakan dapat terbagi tidak merata, sedangkan 64,5 persen merasa terlalu lelah atau kerepotan ketika harus memberikan pakan berkali-kali secara manual.
Bagi tim IoTernak, temuan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga realistis untuk diterapkan pada peternakan skala kecil dan menengah.
“Kami berangkat dari keresahan yang kami lihat dari kondisi peternak skala kecil. Teknologi smart farming yang tersedia saat ini cenderung mahal dan banyak dirancang untuk kebutuhan industri skala besar. Kami ingin membawa teknologi itu lebih dekat kepada peternak kecil dan menengah,” ujar Muhammad Nugrahhadi Al Khawarizmi, CEO IoTernak.

Dua Teknologi Utama
IoTernak saat ini dikembangkan melalui dua komponen utama, yaitu ioPeka dan ioPakan.
ioPeka merupakan sistem yang dirancang untuk memantau kondisi lingkungan kandang secara real-time. Sistem ini menggunakan sensor untuk mengukur suhu, kelembapan, dan kadar amonia.
Informasi dari sensor kemudian dapat dipantau melalui aplikasi Android IoTernak App. Dengan demikian, peternak dapat memperoleh informasi mengenai kondisi kandang tanpa harus terus-menerus berada di dalam kandang.
ioPeka juga dilengkapi dengan sistem peringatan dini. Ketika suhu, kelembapan, atau kadar amonia melewati batas yang telah ditentukan, sistem akan memberikan peringatan melalui aplikasi.
Teknologi tersebut telah diuji pada kandang mitra. Dalam salah satu pengujian, kondisi cuaca yang cukup panas pada siang hari menyebabkan suhu di dalam kandang terbuka meningkat hingga melewati batas yang telah ditentukan.
Perubahan tersebut kemudian dapat terdeteksi oleh sistem dan memunculkan peringatan, sehingga peternak memperoleh informasi lebih awal mengenai perubahan kondisi lingkungan kandang.
Sementara itu, ioPakan dikembangkan untuk membantu mengotomatisasi pemberian pakan berdasarkan waktu dan jumlah yang telah diatur melalui aplikasi.
Pada tahap pengujian, ioPakan memiliki tiga pilihan takaran, yaitu sedikit, sedang, dan banyak. Pengujian sistem tersebut telah berjalan selama kurang lebih 15 hari.
Hasil pengujian menunjukkan mekanisme pemberian pakan dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Putaran distribusi pakan juga menyesuaikan pilihan takaran yang diberikan melalui sistem.
Tim kemudian mengarahkan pengembangan ioPakan agar jumlah pakan dapat dikontrol menggunakan gramasi yang lebih spesifik.
Bukan Sekadar Membuat Kandang Lebih Canggih
Bagi tim IoTernak, teknologi bukan sekadar soal menambahkan perangkat elektronik ke dalam kandang. Data yang dihasilkan sistem diharapkan dapat membantu peternak memahami kondisi ternaknya dan menjadi salah satu dasar dalam mengambil keputusan.
Arga Aryanta Indrafata mengatakan integrasi sistem monitoring dan otomasi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pekerjaan manual dalam operasional kandang.
“Kami ingin sistem operasional peternakan yang selama ini masih banyak mengandalkan cara manual dan insting bisa mulai terintegrasi dan menghasilkan data. Data tersebut nantinya dapat digunakan peternak untuk memahami kondisi ternaknya, meningkatkan produktivitas, dan membantu peternak mengurangi potensi pemborosan pakan dalam operasional kandang,” jelas Arga.
Saat ini, teknologi IoTernak telah diterapkan pada kandang mitra peternak. Tim masih melakukan pengujian dan penyempurnaan perangkat agar teknologi tersebut semakin sesuai dengan kondisi peternakan yang sebenarnya.
Mencoba Menjawab Persoalan Biaya
Salah satu perhatian tim dalam mengembangkan IoTernak adalah keterjangkauan teknologi.
Tim menggunakan pendekatan Hardware-as-a-Service (HaaS) sehingga penerapan teknologi tidak mengharuskan peternak mengeluarkan investasi perangkat dalam jumlah besar pada tahap awal.
Pendekatan tersebut ditujukan agar teknologi smart farming dapat lebih mudah diakses oleh peternak ayam skala kecil dan menengah.
Perangkat IoTernak juga dirancang agar dapat dipasang pada kandang yang sudah ada tanpa membutuhkan perubahan besar pada struktur kandang.
“Kami melihat masih ada jarak antara perkembangan teknologi smart farming dan kemampuan peternak kecil untuk mengadopsinya. Karena itu, kami mencoba membuat teknologi yang lebih sederhana untuk diterapkan, tidak membutuhkan investasi besar di awal, dan dapat digunakan tanpa harus melakukan perubahan besar pada kandang yang sudah ada,” kata Nugrahhadi.
Melalui IoTernak, tim mahasiswa Unsoed berupaya membangun ekosistem teknologi yang dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan peternak. Dua komponen yang saat ini dikembangkan, ioPeka dan ioPakan, menjadi bagian awal dari sistem yang masih terus diuji dan disempurnakan.
Pengembangan selanjutnya diarahkan untuk memperluas fungsi teknologi sekaligus membuat penerapannya semakin praktis bagi peternak ayam skala kecil dan menengah.











