Liputan

Festival Literasi Jateng Ingin Membuktikan bahwa Membaca Tak Harus Berdiam di Perpustakaan

18
×

Festival Literasi Jateng Ingin Membuktikan bahwa Membaca Tak Harus Berdiam di Perpustakaan

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan layar ponsel dibanding halaman buku, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ingin mencoba cara lain mengenalkan literasi. Bukan hanya lewat perpustakaan, tetapi melalui sebuah festival yang mempertemukan penulis, santri, mahasiswa, penerbit, hingga masyarakat dalam satu ruang.

Rencananya, Festival Literasi Jawa Tengah 2026 akan digelar pada September mendatang di Kota Semarang. Selama beberapa hari, festival ini tak hanya menghadirkan pameran buku, tetapi juga diskusi, pertunjukan seni, kompetisi, hingga ruang temu bagi para pegiat literasi dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengatakan salah satu penulis yang dijadwalkan hadir adalah Tere Liye. Kehadirannya diharapkan menjadi salah satu magnet bagi masyarakat, terutama kalangan muda, untuk ikut meramaikan festival.

“Insyaallah akan dihadiri oleh penulis Tere Liye,” ujarnya saat menerima audiensi Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati, di Semarang, Kamis (16/7/2026).

Namun, festival ini tidak hanya mengandalkan nama besar seorang penulis. Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari bedah buku, seminar, pentas seni dari perguruan tinggi, hingga aneka lomba bertema literasi.

Bagi Nawal, literasi tidak semestinya hanya hidup di rak-rak perpustakaan. Ia berharap festival ini menjadi ruang yang lebih cair, tempat masyarakat bisa membaca, berdiskusi, sekaligus saling bertukar gagasan.

“Kami ingin mendekatkan kegiatan literasi kepada masyarakat. Jadi bukan hanya kegiatan yang dilakukan di perpustakaan, tetapi benar-benar menjadi ruang bersama untuk belajar, berdiskusi, dan berkarya,” katanya.

Panitia juga menyiapkan sekitar 65 stan. Sebanyak 35 stan akan diisi perwakilan kabupaten dan kota di Jawa Tengah, sementara sisanya menghadirkan penerbit, percetakan, dan pelaku industri buku yang akan memperkenalkan berbagai koleksi kepada pengunjung.

BACA JUGA  Haedar Nashir: Ramadan Harus Jadi “Kanopi Sosial” di Tengah Perbedaan

Salah satu bagian yang diperkirakan paling menyita perhatian adalah pameran manuskrip kitab-kitab klasik karya ulama asal Jawa Tengah. Di antaranya terdapat manuskrip karya KH Bisri Mustofa, ulama sekaligus ayah dari budayawan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Melalui pameran ini, pengunjung diajak melihat bahwa tradisi literasi di Jawa Tengah telah tumbuh jauh sebelum era media sosial dan buku-buku digital.

Selain itu, festival juga menghadirkan beragam kompetisi, mulai dari literasi untuk santri, debat mahasiswa, hingga lomba drum band anak usia dini. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi titik temu bagi penulis, akademisi, santri, pelajar, penerbit, dan masyarakat untuk merawat budaya membaca dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *