LiputanRagam

Lalat Buah Tak Selalu Harus Dilawan dengan Pestisida

×

Lalat Buah Tak Selalu Harus Dilawan dengan Pestisida

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Bagi petani cabai, lalat buah sering menjadi musuh yang sulit dihindari. Hama ini bukan hanya merusak hasil panen, tetapi juga kerap memaksa petani meningkatkan penggunaan pestisida kimia untuk menekan serangan yang semakin meluas.

Di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, sekelompok mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda. Melalui Program Rotasional Limitasi Sarang 2026 (PROLISA 2026), mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Biologi Terapan (HIMABIOTER) memperkenalkan metode pengendalian lalat buah berbasis bahan hayati yang lebih ramah lingkungan dan mudah diterapkan petani.

Kegiatan yang berlangsung pada 21 Juni 2026 di KB Mawar Harmoni, Dusun Karangnangka, diikuti oleh 16 anggota Kelompok Tani Wisma Budidaya 7 serta Kepala Dusun 05 Desa Karangtengah. Para peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai pengendalian hama, tetapi juga mengikuti praktik langsung pembuatan formula dan pemasangan perangkap di lahan cabai.

Kepala Dusun 05 Desa Karangtengah, Amin Fauzi, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, petani membutuhkan alternatif pengendalian hama yang tidak selalu bergantung pada penggunaan bahan kimia.

“Program PROLISA sangat kami dukung karena memberikan alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan bagi para petani,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim mahasiswa memperkenalkan empat formula pengendalian lalat buah yang dikembangkan secara mandiri. Formula pertama memadukan atraktan dan insektisida dosis rendah dengan memanfaatkan petrogenol dan gula merah untuk menarik lalat buah jantan dewasa.

Formula kedua berupa pestisida nabati berbahan bawang putih, daun mimba, dan serai yang berfungsi sebagai penolak alami. Sementara formula ketiga menggunakan konsep Protein Bait Spray berbahan kecap ikan yang dirancang untuk menarik lalat buah betina.

Adapun formula keempat memanfaatkan hasil fermentasi tape singkong, gula merah, dan ragi sebagai atraktan murah yang dapat digunakan untuk memantau sekaligus menangkap lalat buah dalam jumlah besar.

BACA JUGA  Sejarah Penamaan Orang Moro di Filipina: Dari Andalusia ke Kepulauan Filipina

Tidak berhenti pada penyampaian materi, para mahasiswa juga turun langsung ke lahan pertanian milik warga. Mereka melakukan observasi kondisi tanaman cabai, mengidentifikasi gejala serangan hama, sekaligus mendemonstrasikan pemasangan perangkap di titik-titik yang dianggap rawan menjadi lokasi aktivitas lalat buah.

Pendekatan tersebut dipilih agar petani tidak hanya memahami teori pengendalian hama, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri sesuai kondisi di lapangan.

Program PROLISA 2026 melibatkan 34 mahasiswa HIMABIOTER yang sebelumnya mendapatkan pendampingan dari Diani Mentari, S.Si., M.Sc. bersama sejumlah dosen Fakultas Biologi Unsoed, yakni Dra. Ardhini Rin Maharning, M.Sc., Ph.D., Fathimah Nurfithri Hashifah, S.Si., M.Sc., dan Alda Wydia Prihartini Azar, M.Si.

Sebagai bagian dari pendampingan berkelanjutan, tim PROLISA juga akan melakukan monitoring mingguan untuk melihat efektivitas formula dan perangkap yang telah dipasang. Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan populasi lalat buah, tingkat serangan pada tanaman cabai, serta kebutuhan penyesuaian metode pengendalian sesuai kondisi lapangan.

Melalui program tersebut, mahasiswa berharap petani dapat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengendalikan hama tanpa harus selalu bergantung pada pestisida kimia. Jika diterapkan secara konsisten, metode berbasis hayati ini diharapkan mampu menekan populasi lalat buah, mengurangi kerusakan hasil panen, sekaligus mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan di tingkat desa.

Sumber: unsoed.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *