Ragam

“MBG Mas Bahlil Ganteng” Mengajarkan Satu Hal: Di Era Media Sosial, Diejek atau Dipuji Sama-Sama Bisa Jadi Modal Politik

×

“MBG Mas Bahlil Ganteng” Mengajarkan Satu Hal: Di Era Media Sosial, Diejek atau Dipuji Sama-Sama Bisa Jadi Modal Politik

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Beberapa tahun lalu, kalau seseorang ingin menjadi terkenal, ia harus bekerja keras membangun prestasi, membuat karya, atau paling tidak memenangkan pemilu.

Sekarang tidak lagi. Di era media sosial, seseorang bisa menjadi sangat populer hanya karena dijadikan bahan candaan berjamaah. Makin sering namanya disebut, makin besar peluangnya muncul di linimasa orang lain. Makin sering dijadikan meme, makin akrab wajahnya di kepala publik. Makin sering diejek, makin tinggi pula kemungkinan algoritma menganggapnya layak dipromosikan.

Fenomena itulah yang belakangan terlihat dalam viralnya lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” yang beredar luas di TikTok, Instagram Reels, hingga berbagai platform media sosial lainnya. Jutaan orang mungkin belum pernah bertemu langsung dengan Bahlil Lahadalia. Namun berkat algoritma dan kreativitas netizen, banyak orang kini hafal penggalan lagunya.

Ironisnya, sebagian besar yang menyanyikan lagu itu belum tentu sedang memuji. Banyak yang justru sedang bercanda. Sebagian lagi sedang menyindir. Ada pula yang sekadar ikut tren karena takut ketinggalan FYP. Namun algoritma tidak peduli. Algoritma tidak pernah bertanya apakah seseorang sedang memuji atau mencaci. Yang dihitung hanya satu: perhatian.

Selama sebuah konten membuat orang menonton, mengulang, berkomentar, membagikan, atau membuat versi baru, maka konten itu dianggap sukses. Akibatnya, ruang digital menciptakan situasi yang unik. Kritik dan promosi kadang berjalan di jalur yang sama. Kita merasa sedang menertawakan seseorang, sementara algoritma diam-diam sedang memperkenalkannya kepada jutaan pengguna lain.

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, melihat fenomena ini sebagai bagian dari dinamika politik digital kontemporer.

Menurutnya, kemunculan lagu “Mas Bahlil Ganteng” tidak lahir dari ruang kosong. Sosok Bahlil sudah lama menjadi bagian dari percakapan publik di media sosial, baik karena gaya komunikasinya, posisi politiknya, maupun berbagai kontroversi yang pernah mengiringinya.

BACA JUGA  Tips Milih Kursi Kereta agar Nggak Tersesat Duduk Mundur Sepanjang Perjalanan

Karena itu, ketika lagu tersebut muncul, publik sebenarnya sedang berinteraksi dengan memori kolektif yang sudah lebih dulu terbentuk.

Pada awalnya, kata Radius, fenomena semacam ini berkembang sebagai bentuk satire politik. Meme, parodi, dan humor digunakan untuk mengurangi kesakralan figur-figur kekuasaan. Masalahnya, ketika sebuah satire masuk ke dalam mesin algoritma media sosial, nasibnya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pembuatnya.

Apa yang semula dimaksudkan sebagai ejekan dapat berubah menjadi alat reproduksi popularitas. Konten diputar berulang-ulang. Audio digunakan berkali-kali. Nama figur yang menjadi objek satire terus muncul di beranda pengguna. Pada titik tertentu, kritik kehilangan sebagian daya gigitnya karena berubah menjadi hiburan.

Radius menyebut algoritma tidak bekerja berdasarkan konteks kritik atau ironi. Algoritma hanya mengenali aktivitas pengguna. Semakin ramai sebuah konten dibicarakan, semakin besar peluangnya didorong ke lebih banyak orang. Dalam bahasa sederhana, algoritma tidak bisa membedakan apakah publik sedang marah, tertawa, menyindir, atau memuja. Yang dipahami hanya bahwa publik sedang memperhatikan.

Itulah sebabnya era digital melahirkan paradoks baru dalam politik.

Dulu, menjadi bahan olok-olok bisa menjadi bencana citra. Sekarang, menjadi bahan olok-olok justru bisa menjadi sumber eksposur. Dulu politisi takut dibicarakan negatif. Kini, sebagian orang mungkin lebih takut tidak dibicarakan sama sekali. Sebab dalam ekonomi perhatian, yang menjadi mata uang utama bukanlah pujian, melainkan visibilitas. Nama yang terus muncul akan lebih mudah diingat dibanding nama yang benar-benar bersih tetapi tenggelam dalam kesunyian.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada Bahlil. Kita sudah berkali-kali melihat bagaimana meme, candaan, dan konten satir justru membantu memperpanjang umur sebuah isu atau figur di ruang digital.

BACA JUGA  SEBLAQ RIMBAS Ajak Remaja Purwokerto Dekat dengan Al-Qur’an di Akhir Ramadan

Netizen merasa sedang menghakimi. Padahal tanpa sadar mereka sedang menjadi tim distribusi. Mereka merasa sedang menyindir. Padahal algoritma menganggap mereka sedang mempromosikan. Mungkin itulah pelajaran paling menarik dari viralnya lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng”.

Di era TikTok, batas antara kritik, hiburan, dan pencitraan semakin tipis. Apa yang awalnya lahir sebagai satire bisa berubah menjadi popularitas. Apa yang dimaksudkan sebagai sindiran bisa berujung menjadi penguatan citra.

Dan kadang-kadang, ketika kita merasa sedang menertawakan seorang tokoh politik, yang sebenarnya sedang tertawa paling keras adalah algoritma.

sumber: www.um-surabaya.ac.id

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *