BANYUMASMEDIA.COM – Dunia kesehatan kita kembali diramaikan oleh sebuah kebijakan yang terdengar inovatif, namun sekaligus menyisakan rasa sesak di dada para lulusan farmasi. BPOM dikabarkan mulai memberikan lampu hijau bagi karyawan minimarket untuk mengelola dan mengawasi obat-obatan dengan alasan kelangkaan tenaga farmasi. Sebuah argumen yang sebenarnya menarik, asalkan kita tidak sedang membicarakan soal keselamatan nyawa manusia.
Keresahan di Balik Etalase: “Obat Bukan Sekadar Komoditas Runcit”
Melihat berbagai respons yang viral di media sosial, ada satu nada yang seragam: rasa lelah dan muak yang mendalam. Para Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) merasa marwah profesi mereka sedang dipertaruhkan. Bagaimana tidak? Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menghafal interaksi obat, farmakologi, hingga perhitungan dosis yang jika meleset sedikit saja, taruhannya adalah nyawa pasien.
Kini, tugas yang menuntut ketelitian akademik tinggi itu seolah bisa dipelajari melalui “jalur ekspres” oleh rekan-rekan di minimarket. Keresahan ini bukan soal kesombongan gelar, melainkan soal keamanan publik. Seperti keluhan yang tertangkap dalam gambar yang beredar: “Jika hanya perlu tahu mana obat pening dan obat batuk, untuk apa kami susah payah menempuh pendidikan dan mengurus lisensi?”
Adu Nasib: Kuliah Bertahun-tahun vs Pelatihan Singkat
Mari kita jujur, beban kerja karyawan minimarket saat ini sudah sangat berat. Mereka harus mengelola stok barang, melayani antrean pelanggan, hingga menawarkan berbagai promo belanja. Menambah beban mereka dengan tanggung jawab mengelola obat tidak hanya tidak adil bagi si karyawan, tetapi juga meremehkan kepakaran ilmu farmasi itu sendiri.
Banyak tenaga kesehatan merasa kebijakan ini adalah jalan pintas yang berbahaya. Alih-alih memperbaiki sistem kesejahteraan atau memeratakan penempatan tenaga farmasi yang sudah ada, otoritas terkait justru memilih solusi yang “cepat dan murah”. Padahal, obat-obatan adalah zat kimia aktif, bukan sekadar barang dagangan seperti sabun atau biskuit yang jika salah ambil, tinggal minta maaf dan tukar baru.
Logika yang Sedang Sakit
Pada akhirnya, isu ini bukan sekadar tentang kurangnya orang di lapangan, tetapi tentang bagaimana kita menghargai sebuah profesi. Jika pengelolaan obat bisa diserahkan kepada siapa saja tanpa latar belakang pendidikan yang mumpuni, maka kualitas pendidikan kesehatan kita sedang dipertanyakan.
Jangan sampai di masa depan, ketika masyarakat membutuhkan konsultasi obat yang krusial, mereka hanya mendapatkan jawaban: “Maaf Kak, sistemnya sedang offline, mau sekalian tebus murah tebus obat ini sambil tambah pulsa?”
Sehat itu mahal harganya, namun sayangnya, penghargaan terhadap mereka yang ahli menjaganya kini terasa sangat murah.











