Ragam

Poster, Sumur, dan Psikologi Sebelum Kick-off

×

Poster, Sumur, dan Psikologi Sebelum Kick-off

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Sepak bola Indonesia kadang lebih seru di lini desain ketimbang di papan klasemen. Pekan ini, contohnya, bukan cuma soal siapa melawan siapa, tapi soal siapa sedang menatap ke mana.

Akun media sosial Persib lebih dulu mengunggah poster laga berwarna biru. Visualnya sederhana tapi “kena”: beberapa pemain Persib seakan sedang mengintip ke dalam sebuah sumur. Sudut pandang dari dasar, wajah-wajah serius menunduk ke bawah. Seolah ada sesuatu, atau seseorang yang sedang mereka perhatikan.

Tak lama berselang, Persis Solo membalas. Posternya merah menyala. Seorang pemain Persis berdiri tegap, kakinya mengangkang kokoh, sementara di antara kedua kakinya tampak beberapa orang yang kalau kita mau jujur, mirip dengan mereka yang tadi sedang menengok ke dalam sumur. Perspektifnya dibalik. Kini bukan Persib yang menatap ke bawah, melainkan Persis yang ditatap dari bawah.

Di titik ini, media sosial berubah fungsi: bukan lagi sekadar pengumuman jadwal pertandingan, melainkan arena adu sindir visual.

Padahal, kalau kita buka klasemen, ceritanya jauh dari seimbang. Persib nyaman di puncak. Angin sepoi-sepoi juara berembus dari Bandung. Sementara Persis? Terparkir di posisi 18. Dasar klasemen. Tempat yang, dalam bahasa poster Persib tadi, memang terasa seperti dasar sumur.

Justru di situlah kecerdikan Persis bekerja.

Alih-alih mengeluh, Persis memilih menertawakan posisinya sendiri. “Iya, kami di bawah. Tapi kami masih berdiri.” Posternya seperti berkata: silakan lihat kami dari atas, tapi ingat, kami tetap pemain, bukan bayangan.

Ini bukan soal desain semata. Ini soal sikap. Persib tampil seperti penguasa puncak yang sedang mengecek keadaan di bawah, tenang, percaya diri, dan tahu posisi. Persis tampil seperti orang yang sudah terlalu sering jatuh, sehingga tidak lagi takut ditertawakan. Dalam sepak bola, mental seperti ini justru berbahaya.

BACA JUGA  Menengok Masjid Saka Tunggal, Jejak Islam Tertua di Banyumas

Karena sejarah liga sering ditulis oleh tim-tim yang datang ke laga besar tanpa beban. Mereka tidak membawa ekspektasi, tapi membawa keberanian. Persis tahu mereka sedang di bawah. Semua orang tahu. Maka tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Menariknya, duel poster ini terasa jauh lebih hidup daripada konferensi pers pra-pertandingan yang penuh kalimat klise. Tidak ada kata “kami siap tempur”, tidak ada “fokus satu pertandingan ke pertandingan lain”. Yang ada hanya visual, simbol, dan sedikit nyengir nakal khas sepak bola jalanan.

Dan mungkin, di situlah sepak bola menemukan kejujurannya.

Bahwa liga bukan hanya soal angka dan poin, tapi juga soal cara menertawakan nasib tanpa menyerah padanya. Persib boleh menatap dari puncak, Persis boleh berdiri di dasar. Tapi ketika peluit dibunyikan, sumur, klasemen, dan poster hanya tinggal cerita pengantar. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *