Esai

Senin dan Rasa Syukur

×

Senin dan Rasa Syukur

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Hari Senin sering dipandang sebelah mata. Ia datang setelah hari libur, membawa wajah serius dan alarm yang terasa lebih nyaring dari biasanya. Bahkan sejak Minggu sore, banyak orang sudah mulai mengeluh. Media sosial penuh status: “Besok Senin lagi…” seakan-akan Senin adalah hukuman rutin yang harus dijalani tanpa pilihan.

Padahal, Senin tidak salah apa-apa. Ia hanya ditakdirkan sebagai permulaan. Ia datang bukan membawa beban, melainkan pengingat bahwa kita masih punya kesempatan untuk bekerja, belajar, melanjutkan hidup, memperbaiki yang tertunda.

Pagi ini, di sudut kota, seorang petugas kebersihan terlihat menyapu jalan sambil bersenandung kecil. Tangannya gesit, gerakannya ringan. Di termos kecil yang ia bawa, barangkali ada teh manis yang disiapkan istri. Tak ada keluhan di wajahnya. Ia menjalani Senin sebagaimana mestinya: sebagai bagian dari hidup yang patut disyukuri.

Kita yang mungkin punya lebih, pekerjaan tetap, kendaraan pribadi, bahkan agenda mingguan yang rapi, kadang justru lebih banyak mengeluh. Terlambat sedikit, macet sebentar, atau cuaca mendung, bisa jadi alasan untuk merasa berat menjalani hari.

Maka, mari kita mulai ulang cara kita memandang Senin. Tak perlu dibuat muluk, cukup dengan kesadaran kecil: bahwa kita masih diberi waktu. Bahwa tubuh ini masih bisa digerakkan. Bahwa ada orang-orang yang menanti hasil dari kerja kita hari ini.

Barangkali, rasa syukur itu tak harus dibungkus doa yang panjang atau status penuh motivasi. Kadang ia cukup hadir dalam kesediaan bangun pagi, mandi dengan ikhlas, dan tersenyum saat membuka pintu.

Karena Senin bukan musuh. Ia hanya cermin, apakah kita masih menghargai hidup, atau justru lupa bersyukur.

BACA JUGA  Kopi Pagi Bapak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *