Opini

Sinergi Hukum dan Keluarga dalam Membentengi Generasi dari Bahaya Penyimpangan Seksual

×

Sinergi Hukum dan Keluarga dalam Membentengi Generasi dari Bahaya Penyimpangan Seksual

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM -Keluarga merupakan benteng pertama peradaban. Ketika keluarga kuat, generasi akan tumbuh dengan nilai dan identitas yang jelas. Sebaliknya, ketika keluarga melemah, berbagai penyimpangan akan lebih mudah menemukan ruang untuk berkembang. Karena itu, setiap ancaman terhadap fitrah manusia dan ketahanan keluarga patut menjadi perhatian bersama.

Salah satu persoalan yang kini semakin sering muncul di ruang publik adalah upaya normalisasi perilaku penyimpangan seksual. Dalam perspektif Islam, perilaku tersebut bukan sekadar persoalan moral individu, melainkan menyangkut penjagaan agama, keturunan, dan masa depan generasi. Oleh sebab itu, ikhtiar membentengi anak-anak dari pengaruh tersebut menjadi tanggung jawab bersama, baik keluarga, masyarakat, maupun negara.

Dalam perspektif Islam, hubungan laki-laki dan perempuan merupakan bagian dari fitrah manusia. Karena itu, perilaku seksual yang menyimpang dari fitrah dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Al-Qur’an mengabadikan kisah Nabi Luth AS sebagai pelajaran bagi umat manusia tentang dampak buruk penyimpangan tersebut.

Namun demikian, upaya menjaga generasi tidak cukup hanya mengandalkan regulasi atau penegakan hukum. Keluarga tetap menjadi garis pertahanan pertama yang menentukan arah tumbuh kembang seorang anak.

Keluarga sebagai Benteng Pertama

Al-Qur’an memberikan tanggung jawab besar kepada orang tua untuk menjaga diri dan keluarganya dari keburukan. Firman Allah SWT dalam Surat At-Tahrim ayat 6 memerintahkan orang-orang beriman untuk memelihara diri dan keluarganya dari api neraka.

Tanggung jawab tersebut tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik semata. Orang tua juga memiliki kewajiban memberikan pendidikan agama, membangun karakter, serta menanamkan pemahaman yang benar tentang identitas diri dan peran laki-laki maupun perempuan.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dalam konteks keluarga, ayah dan ibu memiliki amanah besar dalam membentuk kepribadian anak.

BACA JUGA  Nyeker dan Kebiasaan Warga Kampung

Berbagai penelitian tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa kehadiran figur orang tua yang hangat, terlibat, dan responsif memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan psikologis anak. Sebaliknya, kurangnya perhatian, lemahnya komunikasi, atau renggangnya hubungan emosional di dalam keluarga dapat membuat anak mencari penerimaan dari lingkungan luar yang belum tentu memberikan pengaruh positif.

Karena itu, pendidikan akhlak dan agama di rumah tidak boleh dianggap sebagai urusan sampingan. Justru dari rumah lah nilai-nilai dasar kehidupan ditanamkan.

Mengawasi Pergaulan dan Dunia Digital

Tantangan pengasuhan hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Anak-anak tidak hanya berinteraksi dengan lingkungan sekitar, tetapi juga dengan dunia digital yang nyaris tanpa batas.

Media sosial, film, serial televisi, permainan daring, hingga berbagai platform digital dapat menjadi saluran penyebaran nilai dan gaya hidup tertentu. Tidak sedikit konten yang secara terbuka maupun terselubung mempromosikan perilaku yang bertentangan dengan nilai agama dan budaya masyarakat Indonesia.

Karena itu, pengawasan terhadap konsumsi media anak menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Pengawasan tersebut bukan berarti membatasi secara berlebihan, melainkan mendampingi, berdialog, dan memberikan pemahaman yang benar agar anak mampu menyaring informasi yang diterimanya.

Selain itu, lingkungan pergaulan juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang akan terpengaruh oleh teman dekatnya. Oleh sebab itu, orang tua perlu mengenal lingkungan sosial anak sekaligus membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa nyaman berbagi cerita dan pengalaman.

Peran Masyarakat dan Negara

Keluarga memang menjadi benteng utama, tetapi tidak dapat bekerja sendirian. Lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga pemerintah memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan ruang sosial yang sehat bagi generasi muda.

BACA JUGA  Membaca Ulang 'Senyum Karyamin'

Dalam Islam, prinsip amar ma’ruf nahi mungkar mengajarkan pentingnya menjaga kehidupan sosial agar tidak dikuasai oleh kemungkaran. Sikap peduli terhadap kondisi masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab kolektif.

Di sisi lain, negara memiliki kewenangan untuk menyusun regulasi dan kebijakan yang bertujuan menjaga ketertiban serta melindungi masyarakat dari berbagai bentuk penyimpangan yang dinilai merugikan kehidupan sosial.

Karena itu, sinergi antara keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, ulama, dan pemerintah menjadi kunci penting dalam menjaga generasi muda.

Menjaga Masa Depan Bangsa

Perdebatan mengenai LGBT kemungkinan akan terus berlangsung. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah pentingnya membangun generasi yang kuat secara moral, mental, dan spiritual.

Anak-anak membutuhkan keluarga yang hadir, pendidikan yang membimbing, lingkungan yang sehat, serta masyarakat yang peduli. Upaya tersebut jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memperdebatkan persoalan di ruang publik tanpa menghadirkan solusi nyata.

Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh kualitas keluarga yang mendidik generasi hari ini. Dari keluarga yang kuat, akan lahir generasi yang mampu menjaga nilai, identitas, dan peradaban di masa depan.

Sumber: Naskah Khutbah Jumat Evan S. Parusa, Bidang Organisasi dan Keanggotaan PW Ikadi DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

BANYUMASMEDIA.COM – Hingga kini, kabar tentang konflik di…