BANYUMASMEDIA.COM – Sumbawa — Sosialisasi Empat Pilar MPR Tahun 2025 digelar di Aula PAPPRI Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Selasa siang (16/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan H. Johan Rosihan, ST (A-479), Anggota DPR/MPR RI Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Barat I, sebagai narasumber utama.
Acara yang berlangsung pukul 12.30–16.30 WITA tersebut diikuti oleh pengurus dan anggota PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia) Kabupaten Sumbawa. Sosialisasi membahas empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila sebagai ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 beserta Ketetapan MPR sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa.
Dalam pemaparannya, Johan Rosihan menegaskan peran strategis seniman dalam menjaga, merawat, dan menyebarluaskan nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, seni merupakan medium yang efektif untuk menyampaikan pesan persatuan karena berbicara langsung kepada rasa dan kesadaran publik.
“Seniman berbicara kepada bangsa lewat rasa. Ketika karya lahir dari nilai kemanusiaan dan persatuan, di situlah Pancasila bekerja,” ujar Johan di hadapan para peserta.
Ia menjelaskan, Pancasila tidak hanya hidup dalam teks dan dokumen negara, tetapi juga dapat diwujudkan melalui karya seni yang jujur, empatik, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Lagu, musik, dan pertunjukan seni, lanjutnya, mampu menjadi sarana edukasi kebangsaan yang membumi dan mudah diterima masyarakat.
Terkait UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR, Johan menyampaikan bahwa konstitusi menjamin kebebasan berekspresi, termasuk dalam berkesenian. Namun, kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab sosial serta etika kebangsaan agar seni tetap berkontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pembahasan kemudian mengarah pada NKRI sebagai bentuk negara yang memayungi keberagaman budaya. Johan menekankan pentingnya karya-karya lokal, musik daerah, dan ekspresi seni tradisional sebagai bagian dari mozaik kebangsaan Indonesia yang memperkaya identitas nasional.
Nilai Bhinneka Tunggal Ika pun tercermin dalam kegiatan tersebut. Keberagaman latar belakang peserta—mulai dari penyanyi, pemusik, pencipta lagu, hingga pegiat seni tradisi—menjadi bukti nyata bahwa perbedaan dapat disatukan oleh kecintaan terhadap tanah air.
Bagi pengurus dan anggota PAPPRI Kabupaten Sumbawa, kegiatan ini dinilai bukan sekadar sosialisasi formal, melainkan penguatan kesadaran bahwa seni memiliki tanggung jawab sejarah. Karya seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pemersatu, edukasi, dan pengingat nilai-nilai kebangsaan.
Menutup kegiatan, Johan Rosihan berharap para seniman Sumbawa terus menghadirkan karya-karya yang menyejukkan, mencerdaskan, serta memperkuat persatuan bangsa. “Bangsa ini tidak hanya dibangun oleh kebijakan dan hukum, tetapi juga oleh lagu, nada, dan karya seni yang merawat jiwa Indonesia,” pungkasnya.











