BANYUMASMEDIA.COM – Menonton sepak bola di Indonesia itu paket lengkap. Kita datang dengan niat menyaksikan 22 pemain beradu strategi, pulang dengan bonus tontonan tambahan yang tidak selalu ada di papan skor.
Di stadion, atau bahkan di depan layar televisi, pertandingan sepak bola jarang berdiri sendirian. Ia hampir selalu ditemani drama. Kadang dramanya lebih ramai dari gol yang ditunggu-tunggu.
Ambil contoh wasit. Di liga kita, wasit bukan sekadar pengadil, melainkan pemeran utama tambahan. Keputusan yang terlambat, peluit yang ragu-ragu, hingga kartu yang entah keluar dari saku mana, sering kali membuat penonton merasa perlu ikut memimpin pertandingan dari tribun. Wasit meniup peluit, penonton meniup emosi.
Belum lagi adu argumen antara pemain dan pengadil lapangan. Tangan terangkat, wajah memerah, mulut bergerak cepat meski mikrofon tak menangkap suaranya. Di situ penonton merasa terwakili. “Itu yang saya maksud sejak menit awal,” begitu kira-kira isi hati di bangku penonton.
Lalu datanglah momen paling khas: misuh-misuh massal. Sumpah serapah bertebaran di udara seperti selebaran kampanye. Ada yang kreatif, ada yang berulang, ada pula yang terasa sangat personal. Semua dikeluarkan demi satu tujuan mulia: meluapkan cinta yang terlalu penuh pada tim kesayangan.
Uniknya, kemarahan itu jarang bertahan lama. Satu gol saja cukup untuk menghapus 80 menit makian. Orang yang tadi berdiri sambil menunjuk-nunjuk layar tiba-tiba berpelukan dengan orang yang tidak ia kenal. Sepak bola di Indonesia memang punya kemampuan aneh: membuat orang asing terasa seperti saudara, setidaknya selama 2 x 45 menit.
Di luar lapangan, keseruan itu berlipat. Nonton bareng di warung kopi, di pos ronda, atau di ruang tamu yang kipas anginnya berisik, menghadirkan suasana yang tak kalah meriah. Komentator bisa kalah galak dari penonton. Analisis taktik lahir spontan dari orang-orang yang lima menit sebelumnya membahas harga cabai.
Tentu, kita bisa berharap sepak bola Indonesia lebih rapi, lebih adil, dan lebih profesional. Itu keinginan yang sah. Tapi kita juga tak bisa menampik satu hal: ada hiburan khas yang membuatnya terasa hidup. Kekacauan kecil, emosi berlebihan, dan reaksi jujur dari tribun justru menjadi bumbu yang membuatnya berbeda.
Sepak bola di sini bukan hanya soal menang atau kalah. Ia adalah ruang katarsis kolektif, tempat orang bebas berteriak, mengeluh, tertawa, dan pulang dengan perasaan lebih lega, meski timnya kalah.
Mungkin karena itu, kita selalu kembali menonton. Karena di Indonesia, sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ia adalah pertunjukan sosial, lengkap dengan drama, komedi, dan sesekali tragedi ringan. Satu tiket, banyak hiburan. Dan entah kenapa, kita selalu merasa itu sepadan. [asr]











