LiputanRagam

Mencari Nasi Grombyang di Pasar Pratistha Harsa, Pasar Sunyi di Tengah Kota

×

Mencari Nasi Grombyang di Pasar Pratistha Harsa, Pasar Sunyi di Tengah Kota

Sebarkan artikel ini
Dok: Mencari Nasi Grombyang di Pasar Pratistha Harsa, Pasar Sunyi di Tengah Kota

BANYUMASMEDIA.COM – Purwokerto punya banyak tempat makan. Dari yang gerobakan depan kampus sampai warung tenda dengan nama yang nyeleneh. Namun ada satu tempat yang jarang masuk radar: Pasar Pratistha Harsa.

Tenang, ini bukan hotel, bukan gedung pertemuan, dan bukan juga nama penyanyi dangdut. Ini adalah pasar kuliner yang dulunya adalah Puskesmas Pereng, kemudian jadi kantor Dinas Kesehatan, dan akhirnya disulap jadi pasar UMKM. Lokasinya strategis: hanya 100 meter ke barat dari Alun-Alun Purwokerto. Secara lokasi, ia di tengah kota. Namun, secara keramaian, masih perlu diperjuangkan.

Pasar ini dibangun pada 2010 dan diresmikan tahun 2011 oleh Bupati Mardjoko. Saat itu, tujuannya jelas: merelokasi pedagang kaki lima di sekitar alun-alun dan Jalan Pereng ke tempat yang lebih tertata. Harapannya, UMKM dan industri kecil bisa punya rumah yang rapi dan strategis.

Namun, setelah lebih dari satu dekade berdiri, kondisinya masih seperti rumah kontrakan yang baru ditinggal pergi penghuninya. Lantai satu tetap hidup, meski tetap sepi. Lantai dua? Sunyi. Seperti ruangan yang lupa dikasih listrik. Ruko-ruko masih tertutup rapat, entah sudah berpenghuni atau belum menemukan tuannya.

Saya sendiri tahu tempat ini bukan dari Instagram pemerintah, bukan dari baliho Pemda, tapi dari istri saya. Tahun 2024.

Dia bilang: “Coba ke Pasar Pratistha Harsa, di sana ada yang jual Nasi Grombyang. Enak banget!”

Tentu ajakan itu perlu disetujui. Nasi Grombyang ini bukan makanan sembarangan. Ia khas Pemalang, berisi nasi putih, kuah rempah, dan potongan daging sapi. Makin nikmat kalau dikasih sambal dan kerupuk. Saking spesialnya, ia bahkan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbud RI.

BACA JUGA  Liburan Sekolah: Dari Sawah Masa Kecil hingga Petualangan di Kampung Eyang

Sayangnya, untuk kunjungan hari ini. Warung nasi Grombyangnya masih tutup. Warung lain juga banyak yang tutup. Hanya sedikit yang buka. Dan pengunjung? Bisa dihitung jari.

Secara konsep, pasar ini luar biasa. Letaknya di tengah kota. Bangunannya dua lantai, kalau dikelola tentu akan bersih, dan nyaman. Tapi sayangnya, pasar tidak bisa hidup dari niat saja. Butuh promosi, aktivitas, dan pergerakan. Bukan hanya tempat jualan, tapi juga tempat pertemuan. Karena pasar, pada akhirnya, adalah denyut hidup masyarakat.

Kalau ditanya sayang atau tidak, tentu saja sayang. Pasar ini sudah berdiri gagah, tapi belum punya denyut yang cukup. Sementara itu, di luar sana, alun-alun masih ramai orang menikmati sore. Pasar ini malah seperti bangunan yang belum sempat disapa.

Pasar Pratistha Harsa masih punya potensi besar. Kalau ada kemauan dari berbagai pihak dari pemilik lapak, pemerintah, hingga warga kota pasar ini bisa jadi pusat kuliner baru. Mulai dari festival makanan mingguan, diskon kuliner khas daerah, sampai live musik akustik sore hari, bisa jadi pemantik.

Karena pada dasarnya, pasar bukan cuma tempat transaksi, tapi juga ruang interaksi. Tempat orang bertemu, makan, dan berbagi cerita.

Semoga lain kali saya ke sana, warung nasi grombyangnya sudah buka. Dan Pratistha Harsa tak lagi sepi, tapi penuh tawa, aroma masakan, dan langkah kaki pengunjung.[asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *