BANYUMASMEDIA.COM – Ada satu kalimat sederhana dari pak Prie GS (Alm) “Kalau lebaran bareng, alhamdulillah kompak. Kalau lebaran beda, alhamdulillah lebaran berkali-kali.” Sekilas terdengar ringan, bahkan jenaka. Namun jika direnungkan, kalimat ini seperti oase kecil di tengah riuhnya perdebatan yang hampir rutin hadir setiap penentuan 1 Syawal.
Setiap tahun, umat Islam di Indonesia seperti mengulang siklus yang sama. Sebagian menunggu hasil sidang isbat pemerintah, sebagian berpegang pada hisab, dan sebagian lain mengikuti keputusan organisasi keagamaan. Perbedaan metode ini kerap berujung pada perbedaan hari raya. Dari yang semula khusyuk menutup Ramadan, suasana bisa berubah menjadi sedikit tegang karena perbedaan tersebut. Seolah-olah kebahagiaan Idulfitri harus menunggu keseragaman tanggal.
Padahal, perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriah bukanlah hal baru. Ia telah menjadi bagian dari dinamika keilmuan dan ijtihad umat Islam sejak lama. Yang berubah hari ini adalah cara kita meresponsnya. Di era media sosial, perbedaan itu terasa lebih bising. Semua orang punya ruang untuk berpendapat, tetapi tidak semuanya memilih untuk menenangkan.
Di titik inilah kalimat sederhana tadi menemukan relevansinya. Ia mengajak kita menggeser sudut pandang: dari “siapa yang paling benar” menjadi “bagaimana tetap berlapang dada.” Dari keinginan menyeragamkan, menjadi kesiapan untuk menghargai perbedaan.
Jika lebaran jatuh di hari yang sama, tentu ada rasa hangat tersendiri. Takbir menggema serempak, masjid penuh dalam waktu yang bersamaan, dan suasana kebersamaan terasa lebih kuat. Itu indah, dan patut disyukuri sebagai wujud kekompakan umat.
Namun ketika lebaran berbeda, bukan berarti kebahagiaan berkurang. Justru di situlah kita diuji: apakah kita mampu menghormati pilihan orang lain tanpa kehilangan keyakinan kita sendiri. Apakah kita tetap bisa bersilaturahmi tanpa harus menyamakan segalanya.
Bahkan, dari sisi lain, perbedaan itu menghadirkan hikmah tersendiri. Lebaran terasa lebih panjang. Hari ini kita bisa bersilaturahmi dengan mereka yang telah lebih dulu merayakan, dan esoknya kita menerima tamu saat giliran kita berhari raya atau pun sebaliknya. Takbir mungkin tidak serempak, tetapi silaturahmi justru meluas.
Pada akhirnya, Idulfitri bukan semata soal tanggal. Ia adalah momentum kembali: kembali pada fitrah, kembali pada hati yang bersih, dan kembali merajut hubungan yang sempat renggang. Nilai-nilai ini tidak pernah bergantung pada apakah kita merayakannya di hari yang sama atau berbeda.
Karena itu, yang perlu dijaga bukanlah keseragaman, melainkan kelapangan. Bukan sekadar kesamaan waktu, tetapi kesamaan rasa: rasa syukur, rasa maaf, dan keinginan untuk tetap terhubung sebagai sesama.











