OpiniPendidikan

LAMPU DAN API

×

LAMPU DAN API

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Hingga kini, kabar tentang konflik di Timur Tengah kembali merayap ke halaman depan informasi. Bukan hanya ledakan yang terdengar, tetapi juga gema yang panjang, seperti riak di air yang tak segera tenang. Sejarah mengajarkan: setiap percikan di satu sudut dunia bisa menjadi badai di tempat lain. Kita pernah melihatnya sejak krisis minyak 1973, ketika keputusan di padang pasir menggoyahkan meja makan di kota-kota jauh, bahkan hingga Asia Tenggara.

Di situ kita diingatkan pada kalimat lama dari para sejarawan ekonomi: energi adalah darah bagi peradaban modern. Tanpa aliran itu, mesin melambat, pasar gemetar, dan negara-negara yang bergantung pada impor, termasuk Indonesia, harus menahan napas lebih lama dari biasanya.

Maka wajar jika pemerintah mulai menghitung ulang: berapa liter yang bisa dihemat, berapa perjalanan yang bisa dipangkas. Dari hitungan itulah muncul satu gagasan yang tampak rasional: sekolah daring sebagai bagian dari strategi efisiensi. Logikanya sederhana dan karena sederhana, ia mudah dipercaya.

Namun, pendidikan bukan sekadar soal jarak tempuh antara rumah dan sekolah. Ia lebih dekat pada apa yang oleh Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai taman: ruang hidup tempat anak bertumbuh, bukan sekadar tempat mereka duduk menerima pelajaran. Di taman itu, suara gaduh, tawa, bahkan pertengkaran kecil adalah bagian dari kurikulum yang tak tertulis.

Pandemi beberapa tahun lalu telah memberi kita sebuah eksperimen besar, mungkin yang terbesar dalam sejarah pendidikan modern. Ketika layar menggantikan papan tulis, kita menyadari sesuatu yang tak pernah tercantum dalam buku panduan: belajar bukan hanya proses kognitif, tetapi juga pengalaman sosial.

Istilah learning loss kemudian muncul, bukan sekadar sebagai statistik, melainkan sebagai cerita tentang anak-anak yang kehilangan ritme, kehilangan arah, bahkan kehilangan rasa percaya diri.

BACA JUGA  Ahmad Sabiq: Data dan Riset Kampus Penting untuk Solusi Anak Putus Sekolah

Ivan Illich, dalam Deschooling Society, pernah mengingatkan bahwa sekolah bisa menjadi mesin yang kaku. Namun pengalaman pandemi justru menunjukkan sisi lain: tanpa perjumpaan fisik, pendidikan dapat kehilangan denyut kemanusiaannya. Materi memang tersampaikan, tetapi pemahaman tak selalu tumbuh. Kehadiran tercatat, tetapi perhatian mengembara.

Di banyak tempat, terutama di luar kota besar, layar bukan jendela ilmu, melainkan dinding baru yang memisahkan anak dari kesempatan. Jaringan internet yang tersendat menjadi metafora ketimpangan: ada yang melaju cepat, ada yang tertinggal, menunggu sinyal yang tak kunjung datang. Di situ terlihat paradoks modernitas. Teknologi menjanjikan kesetaraan, tetapi sering kali justru memperlebar jurang. Yang kuat semakin siap, yang lemah semakin terpinggirkan.

Masalah lain muncul dari wilayah yang lebih sunyi: psikologi anak. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang perjumpaan berubah menjadi ruang isolasi. Anak-anak belajar sendiri, di kamar yang sama setiap hari, tanpa tepuk tangan teman, tanpa teguran hangat dari guru. Kesepian menjadi kurikulum tersembunyi.

Di titik itu, menjadikan sekolah daring sebagai solusi penghematan energi terasa seperti memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain. Kita mungkin berhasil menghemat bahan bakar hari ini, tetapi membayar harga yang lebih mahal di masa depan, harga yang tak selalu bisa dihitung dalam rupiah.

Seorang ekonom pernah mengatakan bahwa kebijakan publik selalu tentang memilih pengorbanan. Namun, tidak semua pengorbanan memiliki bobot yang sama. Pendidikan, seperti yang sering diingatkan Paulo Freire, adalah investasi kesadaran. Ketika ia terganggu, yang hilang bukan hanya pengetahuan, melainkan kemampuan untuk memahami dunia.

Karena itu, jalan tengah menjadi penting. Bukan memilih antara daring atau tatap muka, melainkan merancang keseimbangan. Hybrid learning dapat menjadi kompromi, cara untuk mengurangi mobilitas tanpa menghilangkan perjumpaan. Seperti dalam musik, harmoni tidak lahir dari satu nada, melainkan dari pertemuan berbagai suara.

BACA JUGA  SMPIT Harapan Bunda dan BPBD Banyumas Gelar Simulasi Tanggap Bencana

Begitu pula dengan pengaturan jadwal. Sistem bergiliran mungkin tidak sempurna, tetapi ia mengajarkan bahwa efisiensi tidak selalu berarti pengurangan total. Kadang-kadang, ia hanya berarti pengaturan ulang.

Di sisi lain, ada pilihan yang lebih sederhana dan sering kali dilupakan: menghidupkan transportasi umum bagi pelajar, membiasakan berjalan kaki, serta mendorong penggunaan sepeda. Langkah-langkah kecil ini mungkin tidak spektakuler, tetapi justru di situlah letak kebijaksanaan kebijakan publik: memperbaiki kebiasaan, bukan sekadar mengubah sistem.

Sebab pendidikan, pada akhirnya, bukan hanya tentang pengetahuan, melainkan tentang peradaban. Ia adalah api yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Energi memang penting. Tanpa energi, lampu padam. Namun tanpa pendidikan, api itu sendiri bisa hilang.

Dan sebuah bangsa yang kehilangan api, meski lampunya masih menyala. Sesungguhnya sedang berjalan dalam gelap. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *