Fauna

Harimau Jawa dan Jejaknya di Batavia Masa Kolonial

×

Harimau Jawa dan Jejaknya di Batavia Masa Kolonial

Sebarkan artikel ini
Sumber: Wikimedia Commons/Andries Hoogerwerf/Domain Publik

BANYUMASMEDIA.COM – Dulu, wilayah yang kini menjadi Jakarta merupakan hamparan hutan lebat yang jarang tersentuh manusia. Di pesisir barat laut Pulau Jawa, reruntuhan Kota Jayakarta menjadi salah satu area yang terbuka. Pada 1619, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan Belanda, mulai mengubah wilayah ini menjadi permukiman sekaligus pusat perdagangan, dilansir dari Mongabay Indonesia.

Kota Batavia kala itu jauh dari kesan modern dengan taman-taman rapi atau jalan setapak berbatu. Kota ini dikelilingi rawa dan hutan lebat, yang perlahan dibuka untuk lahan pertanian, perumahan, dan perdagangan. Bersamaan dengan itu, manusia membawa hewan ternak seperti kambing, sapi, dan kerbau, mamalia berkaki empat yang berpotensi menjadi mangsa bagi harimau Jawa, Panthera tigris sondaica, yang mengintai perubahan dari balik pepohonan, menurut Mongabay Indonesia.

Peter Boomgard dalam bukunya Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600–1950, yang dikutip Mongabay Indonesia, mencatat bahwa harimau telah mengganggu penduduk Batavia sejak awal kolonial, menjadi ancaman bagi manusia maupun ternak sejak 1620-an. Data tahunan korban manusia akibat serangan harimau tersedia dari akhir 1860-an hingga 1905, sementara untuk periode 1600–1850 lebih banyak bersifat kualitatif.

Pemerintah kolonial Belanda bahkan melegalkan perburuan harimau. Beberapa Gubernur Jenderal, termasuk Pieter de Carpentier, Jacques Specx, dan Joan Maetsuijcker, tercatat menyelenggarakan perburuan harimau yang memadukan hiburan dan kepentingan ekonomi, menurut Mongabay Indonesia. Tradisi rampokan macan, ritual membunuh macan oleh pemburu atau prajurit keraton, juga bertransformasi menjadi hiburan publik pada akhir abad ke-18. Hadiah bagi pemburu harimau membuat pembantaian harimau semakin masif. Misalnya, pada 1670, diperkirakan 365 ekor harimau dan macan tutul ditangkap di sekitar Batavia, dan pada 1748 sekitar 80 ekor dibunuh.

BACA JUGA  Anoa: Kerbau Mini dari Sulawesi yang Nyaris Dilupakan

Catatan Gubernur Jenderal de Carpentier pada Januari 1625 bahkan menyebut harimau membunuh lebih banyak orang dibandingkan musuh dalam perang. Pada 1624, 60 dari 6.000 penduduk Batavia menjadi korban, atau sekitar satu dari seratus orang. Serangan harimau tak hanya terjadi di hutan lebat seperti Priangan dan Karawang, tetapi juga di wilayah padat penduduk seperti Banten dan Batavia. Boomgard, dikutip Mongabay Indonesia, mencatat bahwa kolonial sering kali melebih-lebihkan ancaman harimau terhadap manusia, hingga muncul anggapan bahwa harimau lebih menyukai daging manusia daripada rusa atau babi hutan.

Selain perburuan, permintaan harimau hidup untuk pertunjukan adu harimau melawan kerbau meningkat pada akhir abad ke-18. Dengan kalibrasi data, Boomgard memperkirakan pada 1820-an rata-rata 500 manusia tewas per tahun akibat harimau di Jawa, menurun menjadi sekitar 200 jiwa pada 1850-an. Sementara jumlah harimau dan macan tutul yang dibunuh mencapai 1.100 individu pada 1820-an dan 900 individu pada 1850-an, menurut Mongabay Indonesia.

Perburuan yang dilegalkan dan hilangnya habitat alami semakin menekan populasi harimau Jawa. Sekitar satu setengah abad kemudian, spesies ini resmi dinyatakan punah, dilansir dari Mongabay Indonesia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *