LiputanRagam

Burung Gaok Tak Lagi Menari di Langit Desa Kami

×

Burung Gaok Tak Lagi Menari di Langit Desa Kami

Sebarkan artikel ini
ilustrasi "burung gaok yang tak lagi menari di langit desa kami"

BANYUMASMEDIA.COM – Setiap kali pulang ke rumah, saya selalu berharap bisa menatap langit yang sama seperti masa kecil dulu. Langit yang luas, tenang, dan kadang berisi siluet seekor elang yang terbang seperti sedang menari. Di desa kami, sebuah kampung yang bersandar di lereng Gunung Slamet, burung elang itu kami panggil Gaok.

Nama “Gaok” ini sebenarnya agak rancu. Dalam beberapa buku burung, gaok lebih sering diidentikkan dengan gagak besar atau Corvus macrorhynchos. Tapi bagi kami, anak-anak desa itu, Gaok bukanlah burung gagak. Gaok kami adalah elang. Burung pemangsa dengan tatapan tajam dan gaya terbang yang membuat kami mendongak dalam diam.

Terbangnya tinggi, melingkar tenang di atas sawah dan hutan-hutan kecil di pinggir desa. Kalau sudah begini, kami diam hanya untuk melihatnya. Kadang, ia seperti hanya lewat. Tapi kadang juga ia terlihat sedang mengawasi sesuatu, dan ketika itu terjadi, pola terbangnya berubah. Ia tak lagi melingkar tenang, tapi mulai mempersempit radius, seolah menggambar spiral tak kasatmata di langit, lalu menukik cepat ke bawah.

Kami tahu, saat itu seekor tikus di pematang sawah atau mungkin lainnya sedang dalam bahaya besar.

Gaok bukan hanya burung bagi kami. Ia bagian dari memori. Ada lagu dolanan yang kami nyanyikan setiap kali melihatnya. Tapi, sebagaimana lagu-lagu masa kecil lainnya, lagu itu pun kini tinggal fragmen. Yang tersisa di kepala saya hanya baris awalnya:

“Gaok mata ula…”

Setelah itu, hilang. Nada dan liriknya lenyap seperti hilangnya Gaok dari langit kami. Barangkali lagu itu masih tersimpan di kepala orang-orang tua di kampung, atau mungkin juga telah ikut pergi bersama pergantian waktu.

BACA JUGA  Katasapa Purbalingga Rayakan Bulan Bahasa dengan Panggung Sastra

Sekarang, setiap kali pulang, saya tetap mendongak ke langit. Tapi sudah lama tak melihat Gaok. Tak ada lagi tarian tenang di angkasa. Tak ada lagi spiral tajam yang berakhir pada tikus sawah yang malang. Langit masih biru, langit masih luas, tapi ada kekosongan yang tak terlihat.

Saya tak tahu pasti sejak kapan Gaok berhenti datang. Burung Gaok, dalam bahasa kami, mungkin memang salah nama. Tapi bukankah nama hanya bungkus dari ingatan dan kedekatan? Gaok kami adalah elang, sekaligus alarm alam yang kini sudah tak berbunyi. Ia pernah menjadi bagian dari rutinitas kami, bagian dari langit kami, bagian dari masa kecil yang perlahan hanya tinggal cerita.

Dan di situlah getirnya: seekor burung bisa hilang begitu saja, dan kita baru menyadarinya ketika sudah terlambat untuk memanggilnya kembali.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *