Ragam

Belajar Empati dari Benda-Benda yang Jarang Kita Sapa

×

Belajar Empati dari Benda-Benda yang Jarang Kita Sapa

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Kita terbiasa menyapa manusia, tapi jarang menyapa benda. Padahal, hidup kita nyaris sepenuhnya bergantung pada benda-benda di sekitar: kursi yang kita duduki, sapu yang membersihkan jejak kaki kita, pintu yang kita buka tanpa pamit, bahkan tempat sampah yang hanya kita ingat saat penuh.

Dalam proses menulis empatik, benda-benda ini bisa menjadi guru yang sabar.

Caranya sederhana: kita berpura-pura menjadi benda itu.

Bukan sekadar mendeskripsikan bentuk atau fungsinya, melainkan masuk ke dalam perasaannya. Apa yang ia rasakan setiap hari? Apa yang ia lihat dari manusia? Kapan ia merasa dihargai, dan kapan ia merasa dilupakan?

Misalnya, sebuah kursi di kelas. Setiap hari ia diduduki oleh tubuh-tubuh yang gelisah. Kadang dicoret-coret, kadang ditendang saat bosan. Tapi kursi tidak pernah pindah. Ia tetap di sana, menopang, diam, dan setia. Jika kursi bisa berbicara, mungkin ia tidak marah. Ia hanya berharap satu hal sederhana: diperlakukan dengan lebih lembut.

Atau sebuah sapu. Ia bekerja setiap pagi dan sore, menyatukan debu-debu kecil yang tak pernah dianggap penting. Ia kerap disandarkan di sudut, dibiarkan basah, lalu disalahkan ketika tak lagi bersih. Dari sudut pandang sapu, manusia sering lupa bahwa kebersihan lahir dari kerja yang berulang dan tidak pernah dipuji.

Dengan menulis seolah kita adalah benda itu, kita sedang melatih kepekaan rasa. Kita belajar melihat dunia dari posisi yang rendah, sunyi, dan sering diabaikan. Inilah inti empati: kemampuan menempatkan diri pada posisi yang tidak kita alami sendiri.

Di tahap akhir, penulis diajak memberi harapan. Apa yang diinginkan benda itu dari manusia? Bukan hal besar. Biasanya justru sederhana: dirawat, dihargai, dan tidak diperlakukan semaunya.

BACA JUGA  Dari Anime hingga Wota: Kata-Kata Jepang yang Kini Sah Masuk KBBI

Latihan ini bukan sekadar teknik menulis. Ia adalah latihan menjadi manusia yang lebih peka. Karena siapa yang mampu berempati pada benda mati, biasanya akan lebih mudah berempati pada sesama.

Dan mungkin, setelah menulis dengan cara ini, kita akan mulai menyapa hal-hal kecil di sekitar kita. Mengangkat kursi dengan lebih hati-hati. Menyimpan sapu dengan lebih rapi. Menutup pintu tanpa membanting.

Menulis, pada akhirnya, bukan hanya tentang kata-kata. Ia adalah cara halus untuk belajar peduli, dari hal yang paling sederhana. [asr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *