Hikmah

Apa yang Harus Dilakukan Seorang Muslim Saat Hujan? Ini Tuntunannya

×

Apa yang Harus Dilakukan Seorang Muslim Saat Hujan? Ini Tuntunannya

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Ada yang harus kita ingat dari pesan Rasulullah saw. saat kita berada di musim penghujan. Pesan agar kita memperhatikan adab ketika berhadapan dengan hujan. Tak ada agama yang sedemikian detail mengatur urusan hujan, sebagaimana Islam memandu kita. Dengan adab yang benar, sebagaimana bimbingan Rasulullah saw., insya Allah musim hujan akan selalu mendekatkan kita pada keimanan. Sebaliknya, sikap yang salah saat berhadapan dengan hujan akan menjerumuskan kita pada dosa.

Tradisi keimanan memandu setiap muslim untuk meyakini bahwa hujan adalah kebarakahan dari Allah Swt. Itulah sebabnya, kita menemukan tradisi unik pada beberapa orang sahabat, mereka bersuka cita tatkala hujan turun. Mereka berusaha untuk meraup kebarakahan dari turunnya hujan. Ibnu Abbas r.a., salah seorang sahabat Rasulullah saw. dikisahkan memiliki kebiasaan unik setiap turun hujan.

Apabila turun hujan, beliau mengatakan, ”Wahai pelayan, keluarkanlah pelanaku, juga bajuku.” Lalu beliau membacakan (ayat), ”Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barakah (banyak manfaatnya)” (Q.s. Qaaf: 9).(H.r. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad).

Ibnu Abbas r.a. menyadari sepenuh keimanan bahwa hujan adalah kebarakahan dari Allah Swt., sebagaimana firman-Nya: wa nazzalnaa minas-samaai maa-an mubaarakan (Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh kebarakahan). Jadi, kesadaran pertama yang harus dimiliki seorang muslim saat berhadapan dengan hujan adalah meyakini hujan yang Allah Swt. turunkan merupakan rahmat dan kebarakahan yang harus disyukuri. Kesadaran tersebut diikuti oleh kebiasaan untuk mencari kebarakahan atau ngalap berkah (tabarruk) dengan mengenai (sebagian) anggota badan dengan air hujan. Ini merupakan bentuk tabarruk yang diperkenankan oleh syariat, sebagaimana dilakukan Rasulullah saw.

Saat berhadapan dengan hujan, ternyata ada yang perlu kita luruskan dari cara pandang kita dan ada yang harus kita benahi dari kebiasaan lisan kita. Hujan adalah rahmat dan kebarakahan dari Allah yang harus kita sikapi dengan rasa syukur. Jadi, mulai sekarang, saat kita berhadapan dengan hujan atau secara kebetulan kehujanan, syukuri bahwa Allah sedang melimpahkan kebarakahan untuk kita.

BACA JUGA  Kisah Air Zam-zam Penawar Dahaga Sepanjang Masa

Hujan juga memantik setiap muslim untuk semakin mengingat Allah Swt. Salah satu yang diteladankan Rasulullah saw. adalah memanjatkan doa ketika turun hujan. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummul Mukminin, ’Aisyah radhiyallahu ’anha,

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an  (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)” (H.r. Al-Bukhari).

Seorang muslim tidak sibuk berkeluh kesah ketika turun hujan. Ia mengisi waktunya untuk berdoa kepada Allah Swt., memohon diturunkannya banyak manfaat bersebab hujan yang dikaruniakan Allah Swt. Setiap peristiwa selalu dalam kendali dan kuasa Allah Ta’ala, termasuk saat hujan turun. Kesadaran ini mendorong setiap muslim untuk selalu berharap manfaat dan kebarakahan dari Allah Swt. Selain itu, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa saat turunnya hujan merupakan waktu yang tepat untuk berdoa. Itulah waktu yang menjadikan setiap doa tidak tertolak. Dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Dua doa yang tidak akan ditolak: [1] doa ketika adzan dan [2] doa ketika ketika turunnya hujan.” (H.r. Al-Hakim dan  ath-Thabrani dan disahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Setelah selesai hujan, kita juga diajarkan untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan menisbatkan berkah dan rahmat berupa hujan kepada Allah Ta’ala, bukan kepada selain-Nya.

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, Nabi saw. melakukan salat subuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jamaah salat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Para sahabat menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah saw. bersabda,

Setelah selesai hujan, kita juga diajarkan untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan menisbatkan berkah dan rahmat berupa hujan kepada Allah Ta’ala, bukan kepada selain-Nya.

BACA JUGA  Raih Pahala Puasa Setahun dengan Puasa Syawwal

Dari Zaid bin Khalid al-Juhani, Nabi saw. melakukan salat subuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jamaah salat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?” Para sahabat menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Kemudian Rasulullah saw. bersabda,

“Pada pagi hari, di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rahmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah)maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim).

Demikian, beberapa adab yang harus diperhatikan saat seorang muslim berhadapan dengan hujan. (1) Sadari dan yakini bahwa hujan merupakan kebarakahan, (2) Syukuri karunia hujan, dengan cara yang tepat. Salah satunya dengan ngalap berkah, yaitu membiarkan sebagian anggota tubuh terguyur air hujan, (3) Berdoa saat hujan turun: Allahumma shoyyiban nafi’an  (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat)”, dan (4) Memperbanyak doa, sebab saat hujan adalah waktu dikabulkannya doa-doa. (5) Mensyukuri dan menisbatkan karunia hujan kepada Allah setelah hujan turun. 

Mari kita mulai dengan membiasakan hal-hal kecil dan sederhana saat berhadapan dengan hujan; Semoga Allah ridlai dan berkahi kita semua. 

Sumber: Khutbah Jumat IKADI DIY oleh Dwi Budiyanto, M.Hum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *