BANYUMASMEDIA.COM – Di atas samudra yang luas dan nyaris tanpa penanda, ada burung yang hidupnya lebih sering di udara daripada di daratan. Namanya Albatross. Ia bukan burung biasa—melainkan simbol ketahanan, navigasi alami, dan kesetiaan ekstrem di dunia fauna.
Albatross termasuk keluarga Diomedeidae dan dikenal sebagai burung dengan bentang sayap terpanjang di dunia. Spesies wandering albatross (Diomedea exulans) dapat memiliki rentang sayap hingga 3,5 meter, lebih lebar dari tinggi rata-rata manusia. Sayap raksasa ini bukan sekadar hiasan, melainkan mesin aerodinamika alami yang memungkinkan albatross melayang berjam-jam tanpa mengepakkan sayap.
Secara ilmiah, albatross memanfaatkan teknik dynamic soaring—menggunakan perbedaan kecepatan angin di atas permukaan laut untuk mendapatkan energi terbang. Dengan cara ini, mereka bisa menempuh ribuan kilometer tanpa lelah, bahkan mengelilingi Samudra Selatan hanya dalam hitungan minggu, dengan konsumsi energi yang sangat minimal.
Keunikan albatross tidak berhenti di situ. Burung ini mampu tidur sambil terbang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa albatross dapat melakukan tidur unihemisferik—satu bagian otak beristirahat sementara bagian lainnya tetap aktif untuk navigasi dan menghindari bahaya. Dalam satu hari, waktu tidur mereka bisa sangat singkat, namun cukup untuk bertahan hidup di tengah lautan terbuka.
Dalam urusan asmara, albatross terkenal sebagai burung paling setia. Banyak spesiesnya membentuk pasangan seumur hidup. Proses mencari pasangan pun tidak instan: mereka melakukan “tarian kawin” rumit yang melibatkan gerakan kepala, paruh, dan suara khas. Setelah cocok, pasangan ini bisa bertahan puluhan tahun, hanya berpisah jika salah satunya mati.
Namun, kesetiaan ini juga menjadi kerentanan. Albatross berkembang biak sangat lambat. Mereka biasanya hanya menghasilkan satu telur setiap satu hingga dua tahun. Anak albatross membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk belajar terbang, dan selama itu sepenuhnya bergantung pada induknya. Jika satu induk hilang, peluang hidup anaknya hampir nol.
Di alam liar, albatross hidup sangat lama. Beberapa individu tercatat bisa hidup lebih dari 60 tahun. Salah satu yang paling terkenal adalah seekor albatross betina bernama Wisdom, yang masih bertelur aktif meski usianya diperkirakan melampaui enam dekade.
Sayangnya, pengelana samudra ini kini menghadapi ancaman serius. Data dari IUCN menunjukkan bahwa lebih dari setengah spesies albatross berstatus terancam punah. Penyebab utamanya bukan predator alami, melainkan aktivitas manusia: tertangkap alat pancing longline, tertelan plastik yang disangka makanan, hingga perubahan iklim yang menggeser pola angin dan ketersediaan ikan.
Plastik menjadi ancaman sunyi. Induk albatross sering membawa potongan plastik terapung ke sarang, mengiranya cumi atau ikan. Akibatnya, banyak anak albatross mati dengan perut penuh sampah, bukan makanan.
Albatross adalah pengingat bahwa lautan yang terlihat luas dan “tak berpenghuni” sejatinya rapuh. Burung ini mungkin jarang kita lihat, jauh dari desa dan kota, tetapi nasibnya terikat langsung dengan perilaku manusia di daratan—dari sampah yang kita buang hingga cara kita menangkap ikan.
Ia mengajarkan satu hal penting: dalam dunia fauna, kehebatan terbang jauh dan hidup lama tidak selalu berarti aman. Bahkan penguasa angin pun bisa jatuh, jika samudra tak lagi ramah.











