Liputan

Ketika Perang Diponegoro Ternyata Pernah Berkobar di Banyumas

3
×

Ketika Perang Diponegoro Ternyata Pernah Berkobar di Banyumas

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Selama ini Perang Diponegoro lebih sering dibayangkan sebagai perang yang berlangsung di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian timur. Namun, jejak perang tersebut ternyata juga ditemukan di wilayah Banyumas.

Kisah itu tersimpan dalam sejumlah naskah Babad Banyumas dan ditelusuri kembali oleh budayawan Banyumas, Nassirun Purwokartun. Ia memaparkan penelusuran tersebut dalam acara “Bedah Kisah Perang Diponegoro di Banyumas” yang digelar di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Purwokerto, Minggu (30/8/2026).

Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Out of The Boox 2026 itu diselenggarakan Bale Babad Banyumas bekerja sama dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Pesertanya datang dari berbagai usia dan kalangan.

Namun, yang dibawa pulang peserta bukan sekadar cerita tentang sebuah perang. Mereka diajak membaca sumber sejarah sekaligus mengikuti jejak lokasi yang disebut pernah menjadi bagian dari pergerakan pasukan Pangeran Diponegoro di Banyumas.

Tiga Naskah tentang Perang Diponegoro

Nassirun mengatakan terdapat sedikitnya tiga naskah yang telah ia baca dan memuat kisah mengenai Perang Diponegoro di wilayah Banyumas.

“Sumber yang mengisahkan Perang Diponegoro di Banyumas ada tiga naskah yang sudah saya baca. Naskah pertama adalah Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Naskah kedua Babad Banyumas Tjakrawedanan. Dan, naskah ketiga Babad Diponegoro Manado,” katanya.

Karena keterbatasan waktu, dalam pemaparan tersebut Nassirun memilih menggunakan satu sumber, yakni Babad Banyumas Wirjaatmadjan karya Patih Purwokerto Raden Aria Wirjaatmadjan.

Ia bahkan menampilkan naskah tersebut dalam bentuk aslinya yang ditulis menggunakan aksara Latin dengan ejaan Jawa lama. Peserta kemudian diajak membaca bagian naskah yang menjadi sumber cerita.

Salah satu bagian yang ditampilkan berbunyi:

“Katjarijos sadangoenipoen peperangan ing Banjoemas oegi sampoen nate kadhatengan mengsah ageng. Titindihipoen kraman poetranipoen Kangdjeng Pangeran Dipanagara pijambak adjedjoeloek Kangdjeng Pangeran Soerjaatmadja…”

BACA JUGA  Menyeberangi Jurang Riset: Kolaborasi Kemdiktisaintek dan ADB Bangun Fondasi Inovasi Indonesi

Dari bagian tersebut, Nassirun menjelaskan kisah mengenai pecahnya pertempuran di Banyumas yang melibatkan pasukan Pangeran Diponegoro.

Menurut penjelasan Nassirun berdasarkan naskah tersebut, pasukan Diponegoro yang dipimpin Pangeran Suryaatmadja menyerang wilayah Banyumas. Pertempuran kemudian terjadi di Purwareja dan Klampok yang kini berada di wilayah Banjarnegara.

Pasukan Kabupaten Banyumas disebut mengalami kekalahan dan mundur ke Sokawera. Mereka kemudian membangun pertahanan di Lemahputih.

Pasukan Diponegoro selanjutnya mengejar dan membangun markas di wilayah Somagede, Banyumas. Menurut cerita yang dipaparkan Nassirun, pasukan tersebut tidak segera melakukan serangan karena menunggu datangnya hari Pahing, yang dalam kepercayaan setempat dianggap sebagai hari yang tidak menguntungkan bagi orang Banyumas.

Namun sebelum hari tersebut tiba, pasukan dari Keraton Surakarta datang menyerang. Pasukan itu dipimpin Pangeran Kusumoyudo, yang disebut sebagai paman Raja Surakarta.

Pasukan Diponegoro di Somagede kemudian mengalami kekalahan dan melarikan diri ke arah selatan melalui kawasan pegunungan.

Menelusuri Bekas Markas di Somagede

Cerita dalam naskah tersebut kemudian membawa Nassirun pada pertanyaan lain: di mana sebenarnya lokasi yang pernah digunakan sebagai markas pasukan Diponegoro?

Nassirun mengaku telah menelusuri lokasi yang disebut dalam kisah tersebut. Salah satunya berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Tamanan, Somagede.

Menurut penjelasannya, nama Tamanan berkaitan dengan keberadaan sebuah kolam yang terbentuk dari aliran sungai yang dibendung. Tempat tersebut disebut menjadi salah satu lokasi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air para prajurit, seperti mandi, mencuci, dan minum.

Jejak cerita tersebut, menurut Nassirun, juga masih dapat ditemukan melalui keberadaan keturunan prajurit Diponegoro di Somagede.

Ia menyebut sebagian prajurit yang tidak ikut melarikan diri memilih bersembunyi dan kemudian menetap di wilayah tersebut hingga akhirnya berkeluarga.

BACA JUGA  Ketika Anak Membaca Dunia Lewat Goresan Kuas

Bagi Nassirun, keberadaan cerita lokal dan penelusuran lokasi menjadi bagian penting dalam membaca kembali naskah sejarah.

Jejak Perang hingga Cilacap

Perang Diponegoro, menurut pemaparan Nassirun, tidak berhenti pada wilayah yang kini menjadi Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara.

Pertempuran juga disebut pernah terjadi di Widarapayung dan Adireja, wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Cilacap. Pada masa itu, wilayah tersebut masih menjadi bagian dari Kabupaten Banyumas.

Dalam cerita yang dipaparkan Nassirun, pasukan Diponegoro di wilayah tersebut dipimpin Tumenggung Banyak Wide. Sementara pasukan Kabupaten Banyumas dipimpin Bupati Ayah, Tumenggung Dipayuda.

Nassirun juga menjelaskan keterkaitan tokoh-tokoh tersebut dengan sejarah pemerintahan di wilayah Banyumas dan Banjarnegara. Setelah Perang Diponegoro, Tumenggung Dipayuda disebut diangkat menjadi Bupati Banjarnegara oleh pemerintah kolonial Belanda.

Adiknya, Raden Dipadiwirya, disebut kemudian menjadi patih di Banjarnegara. Sementara Raden Aria Wirjaatmadjan, penulis Babad Banyumas yang menjadi salah satu sumber pembahasan, disebut merupakan anak Raden Dipadiwirya.

Dari hubungan tersebut, Nassirun menduga kisah mengenai Perang Diponegoro yang ditulis dalam Babad Banyumas Wirjaatmadjan kemungkinan berasal dari penuturan orang yang memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa tersebut.

“Maka, kalau ada yang mengatakan Babad Banyumas adalah dongeng, perlu membaca Babad Banyumas Wirjaatmadjan. Karena isinya betul-betul catatan sejarah,” kata Nassirun.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan Nassirun terhadap naskah yang ia kaji. Untuk memastikan kedudukan Babad Banyumas Wirjaatmadjan sebagai sumber sejarah, diperlukan kajian dan verifikasi melalui sumber sejarah lain.

Sejarah yang Ternyata Dekat

Sepanjang pemaparan, Nassirun tidak hanya menceritakan isi naskah. Ia juga menampilkan lokasi-lokasi yang berkaitan dengan jejak Perang Diponegoro melalui layar sehingga peserta dapat mengikuti alur cerita sekaligus melihat wilayah yang dimaksud.

BACA JUGA  Pesona Pasar Ramadan UMP

Bagi sebagian peserta, informasi tersebut membuka pengetahuan baru tentang sejarah daerahnya sendiri.

“Saya baru tahu kalau ternyata Perang Diponegoro pernah terjadi di Banyumas. Karena selama ini saya mengiranya terjadi di wilayah Jogjakarta saja,” ungkap Irwan Saputro, salah seorang peserta.

Peserta tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga diajak melihat sumber naskah dan mengikuti runtutan peristiwa yang dipaparkan.

Antusiasme terhadap materi tersebut kemudian memunculkan harapan agar pembahasan dilanjutkan pada kesempatan lain. Dua sumber lain yang disebut Nassirun, yakni Babad Banyumas Cakrawedanan dan Babad Diponegoro, masih belum dibahas dalam acara tersebut.

Nassirun mengatakan kedua naskah itu juga telah ia terjemahkan dan bersedia melanjutkan pembahasan pada kesempatan berikutnya.

Dari sebuah acara yang awalnya hanya berlangsung sekitar satu setengah jam, satu hal menjadi menarik: sejarah Perang Diponegoro ternyata tidak sepenuhnya jauh dari Banyumas. Jejaknya, setidaknya dalam naskah dan penelusuran lokasi yang dipaparkan Nassirun, masih dapat dibaca dan dipertanyakan kembali hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *