Kilas

Kejar Kebutuhan Susu Jateng, Wakil DPRD Soroti Pakan hingga Rantai Pasok

1
×

Kejar Kebutuhan Susu Jateng, Wakil DPRD Soroti Pakan hingga Rantai Pasok

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Upaya Jawa Tengah memenuhi kebutuhan susu sekitar 100.000 liter per hari tidak cukup hanya dengan meningkatkan populasi dan produksi sapi perah. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Setya Arinugroho menilai pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan pakan, mengantisipasi penyakit, mengelola limbah, serta membenahi rantai pasok susu.

Menurut Setya, kebutuhan susu Jawa Tengah masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, termasuk Jawa Timur. Karena itu, pengembangan peternakan sapi perah perlu dilakukan bersamaan dengan penguatan peternak lokal.

“Sebagai pimpinan dewan, kami memastikan dukungan penuh dari sisi regulasi dan fungsi penganggaran. Target kita jelas, Jawa Tengah harus mulai menekan ketergantungan suplai pangan hewani dari luar daerah,” kata Setya.

Ia mengatakan investasi berskala besar dibutuhkan untuk meningkatkan produksi. Namun, investasi tersebut menurut dia harus melibatkan peternak lokal sebagai bagian dari rantai produksi.

“Investasi besar untuk peternakan adalah langkah strategis yang sangat kita butuhkan, namun syarat mutlaknya adalah peternak lokal harus dilibatkan langsung. Mereka adalah mitra utama dalam ekosistem ini, dan DPRD akan mengawal ketat agar skema kemitraan ini benar-benar berjalan di lapangan,” ujarnya.

Salah satu rencana pengembangan peternakan sapi perah berada di Kabupaten Brebes. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah disebut tengah menyiapkan lahan seluas 710 hektare untuk kawasan peternakan sapi perah terpadu yang dirancang menampung hingga 30.000 ekor sapi.

Dalam skema tersebut, Kementerian Pertanian akan memfasilitasi kebutuhan bibit sapi. Perusahaan yang beroperasi di kawasan Brebes juga disebut akan melibatkan peternak tradisional dengan kepemilikan lebih dari 10 ekor sapi sebagai mitra atau plasma.

Selain pengembangan kawasan di Brebes, Setya menyoroti potensi sentra peternakan yang sudah berjalan di daerah. Salah satunya Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, yang memiliki kondisi iklim yang dinilai mendukung budidaya sapi perah.

BACA JUGA  Muhammadiyah Umumkan 1 Ramadan 1447 H Lebih Awal, Berbeda dari Kalender Cetak

Produksi susu dari peternak di Bulukerto disebut terserap pasar. Sebagian masyarakat juga mengolah susu segar menjadi produk turunan seperti susu siap minum dan es krim.

Menurut Setya, pengembangan sentra peternakan lokal perlu berjalan beriringan dengan investasi berskala besar. Namun, ia mengingatkan ada sejumlah risiko yang perlu diantisipasi agar peningkatan produksi tidak justru menimbulkan persoalan baru bagi peternak.

Hal pertama yang disorot adalah ketersediaan pakan dengan harga terjangkau. Menurut dia, kebutuhan pakan harus diperhitungkan sejak awal agar kenaikan biaya produksi tidak membebani peternak kecil.

“Kawasan terpadu dan target produksi yang masif ini tidak boleh abai dalam memitigasi risiko. Kami di DPRD mendorong adanya jaminan ketersediaan pakan baik hijauan atau konsentrat yang terjangkau agar tidak mematikan peternak kecil,” katanya.

Hal kedua adalah mitigasi penyakit, termasuk penguatan vaksinasi terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK). Setya juga menyoroti pengelolaan limbah dari kawasan peternakan agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Limbahnya harus dikelola dengan standar yang ketat agar tidak mencemari air warga nantinya. Kemudian mitigasi PMK dengan vaksinasi juga perlu diperkuat,” ujarnya.

Selain itu, Setya meminta pemerintah memperhatikan rantai pasok, terutama sistem pendinginan susu sejak dari peternak hingga industri pengolahan.

Menurut dia, susu segar memiliki masa kelayakan yang terbatas. Tanpa fasilitas pendingin yang memadai, kualitas susu berisiko menurun sebelum sampai ke industri pengolahan.

“Yang jarang sekali diperhatikan adalah rantai pasoknya. Bagaimana memastikan kualitas hasil peternakan, seperti susu ini tetap terjamin sampai ke pabrik pengolahan, agar seluruh hasil produksi benar-benar terserap baik,” kata Setya.

Ia menyebut keberadaan tangki pendingin atau milk cooling chiller di tingkat Koperasi Unit Desa (KUD), serta kondisi jalan dari sentra peternakan menuju pabrik pengolahan, menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan industri susu.

BACA JUGA  MUI Soroti Pasal Halal dalam Perjanjian Dagang RI–AS, Dinilai Bertentangan dengan UU JPH

Dengan demikian, peningkatan produksi susu di Jawa Tengah tidak hanya membutuhkan investasi dan penambahan populasi sapi. Ketersediaan pakan, pengendalian penyakit, pengelolaan limbah, dan kesiapan rantai pasok juga menjadi faktor yang perlu disiapkan sejak awal.

Penulis: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *