BANYUMASMEDIA.COM – Bagi masyarakat pesisir, penyu selama ini lebih sering dipandang sebagai satwa yang harus dilindungi. Namun, di Pantai Kembar Terpadu, Kabupaten Kebumen, konservasi mulai diarahkan menjadi sesuatu yang lebih luas: menjaga kelestarian penyu sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga melalui eduwisata.
Gagasan itu menjadi fokus kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Kamis (16/7/2026). Melalui program tersebut, tim dosen dan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed mendampingi Kelompok Konservasi Penyu Kembar Terpadu agar mampu mengelola konservasi secara lebih ilmiah sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Maria Dyah Nur Meinita, menjelaskan bahwa pengelolaan penyu tidak cukup berhenti pada penyelamatan telur atau pelepasan tukik. Kelompok konservasi juga perlu memahami tata kelola penetasan yang sesuai standar agar peluang hidup tukik semakin tinggi.
Salah satu materi yang diberikan adalah Best Management Practices (BMP) Hatchery, pedoman pengelolaan pusat penetasan yang mencakup penanganan telur, relokasi sarang, pemantauan pantai peneluran, hingga pengembangan eduwisata berbasis konservasi.
“Melalui sosialisasi BMP Hatchery, peserta memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan sarang relokasi, penanganan telur dan tukik, monitoring pantai peneluran, hingga pengembangan eduwisata konservasi yang mendukung pelestarian penyu,” ujarnya.
Tidak hanya membahas teknik konservasi, peserta juga dikenalkan pada teknologi satellite tag, perangkat yang memungkinkan peneliti melacak pergerakan penyu di lautan. Data tersebut membantu mengidentifikasi jalur migrasi dan habitat penting sehingga langkah-langkah perlindungan dapat disusun berdasarkan bukti ilmiah.
Materi mengenai biologi penyu dan ancaman terhadap populasinya turut disampaikan Ratih R. Ayustina, Marine ETP Species Specialist for Sea Turtle WWF Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perlindungan penyu membutuhkan keterlibatan masyarakat karena sebagian besar ancaman justru berasal dari aktivitas manusia.
Namun, yang ingin dibangun Unsoed bukan hanya kawasan konservasi yang lebih baik. Program ini juga mendorong agar konservasi mampu menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Pengelolaan hatchery yang profesional, kegiatan edukasi lingkungan, pelepasan tukik secara bertanggung jawab, hingga pemanfaatan teknologi pemantauan satelit diharapkan dapat menjadi daya tarik eduwisata. Dengan begitu, masyarakat memperoleh sumber pendapatan baru tanpa mengorbankan kelestarian penyu maupun ekosistem pesisir.
Melalui pendekatan tersebut, Unsoed berharap kelompok konservasi di Pantai Kembar Terpadu tidak hanya menjadi penjaga habitat penyu, tetapi juga penggerak ekonomi lokal berbasis konservasi. Sebab, ketika pelestarian alam mampu memberi manfaat bagi masyarakat, peluang keberlanjutannya akan jauh lebih besar dibandingkan jika hanya mengandalkan kesadaran semata.











