Liputan

Indonesia Bukan Kekurangan Hujan. Kita Cuma Terlalu Rajin Membuangnya ke Laut

4
×

Indonesia Bukan Kekurangan Hujan. Kita Cuma Terlalu Rajin Membuangnya ke Laut

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Musim hujan di Indonesia sering kali terasa berlebihan. Jalanan tergenang, sungai meluap, bahkan banjir datang hampir setiap tahun. Ironisnya, beberapa bulan setelah hujan berhenti, banyak daerah justru kembali dipusingkan oleh persoalan yang sama: air bersih mulai sulit didapat.

Fenomena itu kembali terlihat memasuki Juli 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat puluhan kabupaten dan kota di Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara berstatus Siaga Kekeringan Meteorologis. Krisis air bersih mulai meluas, sementara ancaman gagal panen menghantui sejumlah wilayah.

Bagi Dr. Ir. Ani Hairani, S.T., M.Eng., pakar Teknik Keairan dan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), persoalan itu bukan karena Indonesia kekurangan hujan. Yang bermasalah justru cara kita memperlakukan air hujan ketika jumlahnya sedang melimpah.

“Ketika hujan turun, sebagian besar air langsung mengalir menuju sungai hingga bermuara ke laut tanpa sempat meresap ke dalam tanah sebagai cadangan,” ujarnya saat ditemui di kampus UMY, Rabu (15/7).

Menurut Ani, kemampuan tanah menyimpan air terus menurun seiring berkurangnya kawasan resapan. Sawah, kebun, dan lahan terbuka perlahan berganti menjadi kawasan permukiman yang dipenuhi beton dan aspal. Akibatnya, air hujan kehilangan tempat untuk kembali ke dalam tanah.

Dampaknya baru benar-benar terasa ketika musim kemarau datang. Cadangan air tanah tidak terisi ulang, debit sumur menyusut lebih cepat, dan masyarakat mulai berebut sumber air bersih.

“Akibatnya, saat musim kemarau cadangan air tanah tidak terisi kembali dan sumur-sumur masyarakat menjadi lebih cepat kering,” jelasnya.

Masalah itu semakin rumit karena kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Di satu sisi, lebih banyak orang membutuhkan air bersih. Di sisi lain, pembangunan permukiman yang mengikuti pertumbuhan tersebut justru semakin mengurangi ruang bagi air untuk meresap.

BACA JUGA  Muhammadiyah Buka Taman Pustaka untuk Umum, Jadi Ruang Literasi dan Arsip Sejarah

“Semakin banyak penduduk, kebutuhan air juga meningkat. Padahal, air tanah sangat bergantung pada proses peresapan saat musim hujan. Kalau proses itu tidak berjalan baik, ketersediaan air pasti menurun saat kemarau,” tambah Ani.

Ani menilai solusi kekeringan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah melalui pembangunan bendungan atau infrastruktur besar. Menurutnya, rumah-rumah juga bisa menjadi bagian dari solusi jika mulai menyimpan air hujan, bukan sekadar membuangnya ke saluran drainase.

Cara yang ditawarkan pun relatif sederhana. Masyarakat dapat membuat biopori, sumur resapan, atau memanen air hujan dari atap rumah agar lebih banyak air kembali menjadi cadangan di dalam tanah.

“Masyarakat bisa mulai dari hal sederhana, seperti membuat biopori, sumur resapan, atau sistem pemanenan air hujan,” tuturnya.

Bagi Ani, setiap tetes air hujan yang berhasil disimpan hari ini adalah investasi ketika kemarau datang. Sebab, persoalan Indonesia bukan semata-mata langit yang pelit menurunkan hujan, melainkan kebiasaan kita yang masih membiarkan air hujan mengalir begitu saja hingga ke laut, lalu baru menyadari nilainya ketika sumur mulai mengering.

Sumber: www.umy.ac.id

Penulis: Ahmad S RobbaniEditor: Ahmad S Robbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *