BANYUMASMEDIA.COM – Pernahkah kamu melihat makhluk kecil berjalan pelan di malam hari, dengan tubuh penuh duri mengilap terkena sorot lampu motor? Bisa jadi itu landak jawa, atau dalam istilah ilmiahnya Sunda porcupine (Hystrix javanica), satu dari sedikit satwa endemik Indonesia yang diam-diam terus bertahan di tengah gempuran zaman.
Duri yang Jadi Tameng
Berbeda dari hewan berduri lain di dunia, Sunda porcupine memiliki tubuh kekar dengan panjang sekitar 45–74 sentimeter dan bobot mencapai 8 kilogram. Ciri khasnya tentu saja terletak pada duri-duri keras yang menutupi punggung hingga ekornya, berwarna hitam dan putih. Duri ini bukan senjata untuk menyerang, melainkan pertahanan diri. Saat terancam, landak akan menggetarkan durinya hingga menimbulkan suara berdesis, memberi peringatan pada pemangsa.
Menurut Bali Wildlife dan data zoologi dari IUCN Red List, spesies ini termasuk dalam kategori Least Concern, artinya belum terancam punah secara global. Namun, status itu bukan berarti aman. Tekanan terhadap habitat dan perburuan masih terus terjadi, terutama di Pulau Jawa.
Hidup di Balik Senyap Malam
Landak jawa merupakan satwa nokturnal, aktif di malam hari dan bersembunyi di liang tanah pada siang hari. Mereka memakan akar, batang muda, dan buah-buahan hutan. Habitatnya cukup beragam, mulai dari hutan tropis hingga area semak dan tepi ladang. Sayangnya, habitat yang makin sempit akibat alih fungsi lahan membuat mereka sering muncul di area pertanian, dan dianggap sebagai “hama” oleh sebagian warga.
Padahal, keberadaan landak justru membantu proses aerasi tanah lewat aktivitas menggali dan mencari makan, yang berperan dalam menjaga kesuburan ekosistem hutan.
Duri yang Jadi Incaran
Ancaman terbesar bagi landak jawa bukanlah predator alami, melainkan manusia. Duri landak dipercaya memiliki khasiat medis dan magis dalam sejumlah budaya lokal — mulai dari penangkal roh jahat hingga peningkat stamina. Akibatnya, perburuan liar terus berlangsung.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, perdagangan bagian tubuh landak — terutama duri — marak di pasar gelap daring hingga pertengahan dekade 2020-an. Inilah alasan mengapa landak jawa resmi ditetapkan sebagai satwa dilindungi melalui Permen LHK No. P.92/MENLHK/2018.
Dalam senyapnya, landak jawa seperti simbol keteguhan. Ia tidak indah seperti burung cendrawasih, tidak gagah seperti komodo, tapi ia bertahan — di tanah yang terus berubah, di hutan yang makin sempit. Duri-durinya seolah mengingatkan kita: kadang, cara bertahan hidup bukanlah dengan menyerang, melainkan dengan menegakkan jarak dan menjaga diri.
Jika suatu hari kamu beruntung melihat landak melintas di jalan tanah atau tepi hutan, biarkan ia lewat. Mungkin di balik tubuh berdurinya, ada pelajaran kecil tentang bagaimana alam melindungi dirinya sendiri.











