BANYUMASMEDIA.COM – Di banyak sudut kota dan desa di Indonesia, suara “cang-cit-cang-cit” yang khas sering menjadi latar alami pagi hari. Dialah kutilang (Pycnonotus aurigaster), burung mungil berjambul yang tetap eksis meski hutan menyusut dan gedung-gedung terus meninggi.
Secara ilmiah, kutilang termasuk keluarga Pycnonotidae atau burung cucak. Panjang tubuhnya sekitar 20 sentimeter dengan bulu cokelat keabu-abuan, bagian bawah putih keabu-abuan, tunggir putih, dan pantat jingga yang mencolok. Jambul hitam di kepalanya menjadi ciri khas yang membuatnya mudah dikenali, bahkan dari jauh.
Habitat kutilang terbentang luas di Asia Tenggara: Myanmar, Thailand, Vietnam, Kamboja, Tiongkok Selatan, hingga hampir seluruh wilayah Indonesia. Di tanah air, kutilang tak hanya menghuni tepi hutan atau semak belukar, tetapi juga nyaman hidup di taman kota, kebun rumah, dan lahan pertanian. Fleksibilitas inilah yang membuatnya mampu bertahan di tengah laju urbanisasi.
Meski demikian, kutilang bukan sekadar “burung pinggir jalan”. Dalam ekosistem, ia berperan penting sebagai penyebar biji-bijian dan pengendali serangga. Pola makannya beragam, buah-buahan kecil, nektar, hingga serangga, membuatnya menjadi agen alami penyebaran tanaman liar maupun hias.
Secara global, kutilang berstatus Least Concern menurut Daftar Merah IUCN. Artinya, populasinya masih aman. Namun para peneliti mencatat adanya tren penurunan populasi di beberapa wilayah akibat berkurangnya vegetasi alami dan maraknya perdagangan burung kicau. Pasar-pasar burung di Jawa, misalnya, masih memperjualbelikan kutilang karena suaranya dianggap merdu meski tidak sepopuler cucakrowo.
Perilaku kutilang pun menarik. Burung ini bersarang hampir sepanjang tahun, biasanya membuat sarang berbentuk cawan dari ranting halus, daun kering, dan serat tumbuhan. Dalam sekali masa bertelur, induk kutilang menghasilkan dua hingga tiga butir telur. Pasangan jantan dan betina kompak bergantian menjaga sarang, menunjukkan kerja sama yang jarang terlihat pada burung-burung kota lain.
Kehadiran kutilang adalah pengingat bahwa alam masih memberi ruang bagi keanekaragaman hayati, bahkan di tengah pemukiman padat. Setiap kali kita mendengar kicauannya di pagi hari, itu bukan sekadar musik latar, melainkan tanda bahwa burung ini masih menemukan tempat di antara kita. Menjaga pohon peneduh, menanam tanaman buah, dan tidak menangkap burung liar adalah langkah kecil yang bisa memastikan kutilang terus bernyanyi, menyapa fajar di kota maupun desa.
Suara kutilang yang riang adalah harmoni yang patut dipertahankan. Di balik kesederhanaannya, burung ini menyimpan kisah ketahanan: tetap berkicau di atas cabang, meski dunia di bawahnya terus berubah. [asr]











