Fauna

Anoa: Kerbau Mini dari Sulawesi yang Nyaris Dilupakan

×

Anoa: Kerbau Mini dari Sulawesi yang Nyaris Dilupakan

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Kalau kamu pernah main ke Sulawesi dan bertemu makhluk bertubuh mungil mirip kerbau, jangan buru-buru mengira itu sapi kurus yang salah alamat. Itu bisa jadi anoa, satwa endemik Sulawesi yang disebut-sebut sebagai kerbau versi mini.

Anoa (dari genus Bubalus, dengan dua spesies utama: Bubalus quarlesi atau anoa gunung, dan Bubalus depressicornis atau anoa dataran rendah) memang masih satu keluarga dengan kerbau. Bedanya, tubuh anoa hanya sekitar setengahnya. Tingginya tidak lebih dari 90 cm di bahu, dengan berat rata-rata 150–300 kilogram. Kalau dibandingkan, kerbau biasa bisa mencapai 600–700 kilogram. Jadi, wajar saja anoa dijuluki “kerbau mini”.

Yang bikin menarik, anoa punya tanduk pendek dan lurus ke atas, tidak melengkung seperti kerbau. Rambut tubuhnya cenderung cokelat kehitaman, bahkan ada yang agak lebat sehingga sekilas tampak seperti kambing pegunungan.

Habitat anoa terbentang dari hutan dataran rendah hingga pegunungan di Sulawesi. Mereka penyuka area lembap dan sesekali gemar berendam di sungai atau rawa. Makanan favoritnya? Daun muda, tunas, rumput, sampai buah-buahan hutan. Sungguh pola makan yang lebih sederhana dibanding manusia modern yang harus “scrolling” menu online dulu sebelum makan.

Namun, di balik kelucuan tubuh mininya, status anoa bikin miris. Berdasarkan IUCN Red List, dua spesies anoa masuk kategori endangered alias terancam punah. Ancaman utama berasal dari hilangnya habitat akibat pembukaan lahan, serta perburuan liar. Daging anoa masih kerap diburu, padahal mereka punya peran penting dalam menjaga ekosistem hutan Sulawesi.

Bayangkan, seekor kerbau mini yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, sekarang justru makin jarang ditemui. Kalau bukan karena penelitian, mungkin kita hanya akan mengenalnya lewat gambar di buku pelajaran.

BACA JUGA  Pleci: Burung Kecil Berkacamata yang Kian Banyak Godaan

Lalu, apa refleksinya buat kita?
Anoa ini seolah jadi cermin: sesuatu yang kecil sering kita anggap sepele, padahal nilainya besar dalam menjaga keseimbangan. Sama halnya dengan “hal-hal kecil” dalam hidup kita, sapaan hangat, senyum tulus, atau sekadar menghargai perbedaan, itu yang membuat kehidupan lebih seimbang.

Mungkin saatnya kita belajar dari anoa, kerbau mini yang rendah hati, tidak pernah pamer tanduk, tapi diam-diam menjaga hutan Sulawesi tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *