Kilas

Poltekkes Kemenkes Semarang Gelar Penyuluhan Kesehatan Kerja di Karangmangu

×

Poltekkes Kemenkes Semarang Gelar Penyuluhan Kesehatan Kerja di Karangmangu

Sebarkan artikel ini
Poltekkes Kemenkes Semarang Gelar Penyuluhan Kesehatan Kerja di Desa Karangmangu

BANYUMASMEDIA.COM – Banyumas, Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Semarang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Karangmangu, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Rabu (13/8/2025). Kegiatan ini berupa penyuluhan kader kesehatan dengan tema pencegahan penyakit akibat kerja, khususnya penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi pekerja pencucian kendaraan bermotor.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Karangmangu Cucud Waluyo, S.H., jajaran perangkat desa, petugas sanitarian dari Puskesmas Baturraden II, kader kesehatan desa, serta mahasiswa dari Prodi D3 Sanitasi dan Prodi Sarjana Terapan Sanitasi Lingkungan Poltekkes Kemenkes Semarang. Penyuluhan diisi dengan pemaparan materi dari dosen Poltekkes, di antaranya Nurul Amaliyah, S.KM., M.Sc., dan Zaeni Budiono, BE., S.IP., M.Si.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Karangmangu menyampaikan apresiasi kepada Poltekkes Kemenkes Semarang yang telah memilih desanya sebagai lokasi kegiatan.

“Kami berterima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Semarang. Harapannya, kader kesehatan bisa menjadi agen perubahan untuk memotivasi para pekerja cuci kendaraan agar selalu menggunakan APD. Ini penting untuk mencegah penyakit kulit seperti dermatitis kontak iritan akibat paparan sabun,” ujar Cucud.

Nurul Amaliyah, S.KM., M.Sc., menyampaikan materi tentang penyakit akibat kerja dengan fokus pada dermatitis kontak. Ia memaparkan bahwa dermatitis kontak akibat kerja merupakan penyakit kulit yang paling sering dialami pekerja cuci kendaraan bermotor. Penyebabnya adalah paparan bahan kimia seperti sabun colek dan deterjen.

“Dermatitis kontak mencakup 90 persen dari seluruh penyakit kulit akibat kerja. Jika tidak dicegah, produktivitas pekerja bisa menurun drastis,” jelasnya.

Nurul Amaliyah juga menyinggung data BPS Jawa Tengah yang mencatat, jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Banyumas mencapai 829.219 unit pada 2021, terbesar ketiga setelah Cilacap dan Semarang. Jumlah tersebut mendorong menjamurnya usaha pencucian kendaraan, sekaligus meningkatkan jumlah pekerja yang berisiko terpapar bahan iritan. Temuan penelitiannya (2023) juga memperlihatkan fakta menarik.

BACA JUGA  Jalan Majingklak–Tunjungmuli Segera Diperbaiki, Proyek Rp16 Miliar Siap Genjot Akses Ekonomi Karangmoncol

“Sebagian besar responden berusia 34–39 tahun, mayoritas laki-laki (97%) dan berpendidikan menengah (64%). Dari 70 responden, sebanyak 57,1 persen tidak menggunakan APD lengkap. Hasil uji statistik menunjukkan pekerja yang tidak memakai APD berisiko 7,6 kali lebih besar terkena dermatitis kontak iritan dibandingkan dengan yang menggunakan APD,” terang Nurul Amaliyah.

Penelitian lain, lanjutnya, juga menegaskan faktor lama kontak, jenis pekerjaan, dan ketiadaan APD sangat berkaitan dengan kejadian dermatosis.

“Karena itu, solusi pencegahannya adalah meningkatkan pengetahuan serta praktik penggunaan APD di kalangan pekerja pencucian kendaraan. Penyuluhan seperti ini adalah langkah nyata,” tambah Nurul Amaliyah.

Sementara itu, Zaeni Budiono, BE., S.IP., M.Si., menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat tentang kesehatan kerja. Ia menjelaskan bahwa APD sederhana seperti sarung tangan, sepatu bot, masker, dan pakaian lengan panjang sudah cukup untuk melindungi pekerja dari paparan bahan kimia berbahaya.

“Penggunaan APD secara konsisten saat mencuci kendaraan bermotor sangat efektif untuk mencegah penyakit kulit akibat bahan kimia,” tegas Zaeni.

Kegiatan ini juga menjadi ajang praktik langsung bagi mahasiswa Poltekkes yang mendampingi kader kesehatan dalam berdiskusi dan berlatih menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. Kader kesehatan diajak untuk berperan aktif menyosialisasikan pentingnya APD, tidak hanya kepada pekerja pencucian kendaraan bermotor tetapi juga kepada kelompok kerja lain yang berisiko.

Kepala Desa Karangmangu menutup kegiatan dengan pesan agar ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di masyarakat.

“Semoga apa yang disampaikan hari ini bisa ditularkan. Kader kesehatan harus menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyakit akibat kerja, terutama di desa kita yang semakin banyak berdiri usaha pencucian kendaraan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *