BANYUMASMEDIA.COM – Peran fasilitator daerah dan penghubung program terbukti tak sekadar penting, melainkan sangat menentukan keberhasilan gerakan literasi inklusif di seluruh pelosok Indonesia.
Hal itu ditegaskan Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Ofy Sofiana, dalam kegiatan Pembekalan Fasilitator Daerah Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digelar pada Rabu (6/8/2025).
“Para fasilitator dan penghubung program TPBIS memegang peran sangat vital sebagai jantung gerakan ini. Bapak dan Ibu bukan sekadar menjalankan program, tetapi menjembatani gagasan nasional dengan kebutuhan riil masyarakat di daerah,” ujar Ofy dalam sambutannya.
Ia menambahkan, kekuatan sejati dari seorang fasilitator justru terletak pada kedekatannya dengan komunitas, memahami denyut kehidupan warganya, serta melakukan pendampingan secara konsisten dan penuh ketulusan.
Menurutnya, nilai-nilai yang menjadi jiwa TPBIS seperti inklusi sosial, pemberdayaan, dan penguatan literasi hanya akan hidup jika dijalankan dengan keterlibatan aktif para fasilitator.
“Visi besar Perpusnas, Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa, bertumpu pada kualitas warga. Martabat itu dibentuk melalui akses merata terhadap pengetahuan dan informasi. Dan fasilitator menjadi bagian penting dalam menghidupkan visi ini di tengah masyarakat,” tambahnya.
Lebih dari sekadar institusi, perpustakaan diharapkan mampu menjadi kekuatan sosial yang relevan, hidup, dan berpihak pada masyarakat. Karena itu, gerakan literasi yang digalakkan TPBIS bukan hanya tentang buku, melainkan tentang memberdayakan dan mengangkat harkat manusia.
Pemberdayaan Diri sebagai Soft Skill Kunci
Untuk menjalankan peran besar tersebut, fasilitator dan penghubung program TPBIS juga dibekali dengan kemampuan pemberdayaan diri (self-empowerment). Hal ini disampaikan Komisioner Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Sri Hadiati W.K., dalam sesi pembekalan.
“Pemberdayaan diri adalah proses yang perlu dilatih setiap hari. Perubahan itu konstan, maka adaptasi pun menjadi keharusan,” ujar Sri.
Ia mencontohkan bahwa adaptasi kadang terasa tidak nyaman, namun menjadi langkah penting dalam perjalanan pengembangan diri. Seseorang yang memiliki pemberdayaan diri akan mampu menggali kekuatannya sendiri dan pada akhirnya dapat membantu orang lain mengenali potensi dirinya.
Namun demikian, Sri mengingatkan bahwa ada sejumlah hambatan yang kerap mengganggu proses ini, seperti kurangnya rasa percaya diri, perfeksionisme, kritik diri yang berlebihan, dan ketergantungan pada validasi dari luar.
“Misalnya, saat punya pertanyaan tapi ragu untuk bertanya karena merasa itu sepele. Lalu orang lain bertanya hal yang sama dan diapresiasi. Itu bisa menimbulkan kekecewaan. Maka jangan tunggu sempurna untuk melangkah, karena hambatan itu akan selalu ada,” jelasnya.
Sri juga membagikan strategi untuk membangun pemberdayaan diri dalam lingkungan kerja, di antaranya dengan memberikan otonomi, ruang dialog, serta penghargaan terhadap kontribusi individu. Mendorong pengambilan keputusan di semua level juga menjadi cara untuk membangun tim yang percaya diri dan saling menguatkan.[]











