EsaiPendidikan

Sekolah Apa Ini? Kok Rasanya Gak Kayak Sekolah Biasa

×

Sekolah Apa Ini? Kok Rasanya Gak Kayak Sekolah Biasa

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – “Sekolah Apa Ini?”, judul bukunya saja sudah bikin bertanya-tanya. Ini sekolah betulan atau eksperimen sosial? Tapi tenang, ini bukan fiksi, bukan juga satir. Buku ini merupakan kumpulan pengalaman dari komunitas pendidikan alternatif bernama SALAM (Sanggar Anak Alam) yang berlokasi di Yogyakarta. Ditulis oleh Gernatatiti, Karunianingtyas Rejeki, dan Sri Wahyaningsih, buku ini diterbitkan oleh Insist Press dan menjadi bagian dari upaya menghadirkan wajah lain dari pendidikan: pendidikan yang manusiawi, membebaskan, dan membahagiakan.

Di sekolah ini, tak ada upacara bendera tiap Senin, tak ada seragam, tak ada pelajaran yang dihafalkan mati-matian, apalagi PR semalam suntuk. Yang ada justru anak-anak yang berkeliaran di kebun, mencatat tumbuhan liar, berdiskusi soal sampah plastik, dan merancang proyek kecil yang mereka sukai. Sekolah ini berani melawan arus, tidak tunduk pada standar Ujian Nasional atau ranking, tapi justru menekankan bahwa belajar itu kebutuhan alami manusia.

Buku ini menarasikan bagaimana kehidupan belajar-mengajar di SALAM dijalankan. Anak-anak tidak diberi “mata pelajaran” seperti biasa, tetapi belajar berdasarkan tema dan proyek yang mereka pilih sendiri. Proyek-proyek ini benar-benar nyata: menanam tanaman, meneliti makanan tradisional, membuat film pendek, hingga berdiskusi dengan warga pasar tentang harga bahan pokok. Guru di sini tak dipanggil “Pak” atau “Bu”, tapi “Kakak”, karena hubungan antara pendidik dan peserta didik di SALAM lebih setara. Proses belajarnya pun tidak melulu di ruang kelas, bisa di kebun, pasar, dapur, dan jalanan adalah bagian dari kelas mereka.

Yang menarik, penulis tidak menyodorkan teori pendidikan muluk-muluk. Semuanya disampaikan lewat pengalaman riil para penggiat SALAM. Bahasa yang digunakan pun ringan, mengalir, penuh refleksi, dan kadang menggelitik. Tidak ada istilah pedagogik yang bikin dahi berkerut, tapi justru muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: Kenapa belajar harus duduk diam selama enam jam? Apa pentingnya nilai 100 kalau anak tidak bahagia?

“Sekolah Apa Ini?” cocok dibaca oleh siapa pun yang pernah gelisah dengan sistem pendidikan kita. Guru yang jenuh dengan sistem seragam, orang tua yang ingin anaknya bahagia, hingga calon pendidik yang sedang mencari arah baru. Buku ini bukan sekadar wacana alternatif, tapi praktik nyata yang sudah bertahun-tahun dijalankan.

BACA JUGA  Bangun Kemandirian dan Tanggung Jawab Sosial Siswa, SDIT Harapan Bunda 1 Purwokerto Gelar Kemah Bakti

Pada akhirnya, buku ini menyampaikan satu pesan sederhana namun kuat: bahwa setiap anak berhak atas pendidikan yang memanusiakan mereka. Bahwa sekolah bukanlah tempat mencetak murid seragam dengan nilai rapor sebagai tolok ukur keberhasilan, melainkan tempat di mana anak-anak bisa bertumbuh, mengenal dirinya, dan mencintai proses belajar.

Jadi kalau kamu masih bertanya: sekolah macam apa ini? Maka jawabannya mungkin: sekolah yang seharusnya ada dari dulu.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *