EsaiKesehatanLife StyleOpini

Nyeker dan Kebiasaan Warga Kampung

×

Nyeker dan Kebiasaan Warga Kampung

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Pagi tadi, selepas subuh, istri saya mengajak jalan kaki. Tujuan utamanya ke halaman depan yang banyak rumputnya, katanya sih untuk aktivitas grounding. Sambil berjalan, saya mulai berpikir, kegiatan ini mengingatkan saya pada kehidupan di kampung, di mana banyak orang yang sehari-hari nyeker ke sawah, ke kebun, bahkan ke pasar. Nyeker itu bukan hanya kebiasaan, tapi sudah menjadi bagian dari rutinitas yang melekat.

Di kampung, nyeker bukan karena gaya atau ikut tren, tapi karena alasan yang lebih sederhana: tentang jalan yang lebih enak dilewati dengan nyeker. Para petani setiap pagi nyeker ke sawah, tak pernah peduli dengan panasnya tanah atau licinnya jalanan. Mereka berjalan dengan kaki telanjang, terbiasa dengan tanah yang keras, tanah yang basah, bahkan tanah yang penuh lumpur.

Saya jadi berpikir, mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebiasaan nyeker itu. Mungkin ada kekuatan dari kedekatan langsung dengan alam. Tanpa sandal, kaki mereka langsung bersentuhan dengan bumi, merasakan setiap tekstur tanah, setiap perubahan suhu, bahkan saat hujan turun atau saat panas menyengat. Mungkin itulah yang membuat mereka lebih kuat, lebih tahan banting, dan lebih siap menghadapi segala tantangan hidup.

Di kota, banyak orang yang sekarang mencari grounding dengan cara berjalan kaki telanjang di taman, atau membeli alas kaki khusus untuk terapi ini. Tapi bagi saya, nyeker itu lebih dari sekadar aktivitas fisik. Itu adalah sebuah cara hidup. Cara hidup yang sederhana, tanpa banyak perhitungan, dan lebih menghargai keseimbangan dengan alam.[]

Penulis: Ahmad Sofia Robbani

BACA JUGA  Cerita Tukang Cat dan Tembok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *