BANYUMASMEDIA.COM – Tidak semua kasih sayang disampaikan dengan kata-kata. Sebagiannya hadir lewat hal-hal paling sederhana, seperti makanan yang ditawarkan berulang kali setiap kali pulang ke rumah orang tua.
Adegan telur rebus dalam film Agak Laen 2: Menyala Pantiku lahir dari kisah mamaknya Bene. Hal itu diungkapkan langsung oleh penulis naskah sekaligus sutradara film tersebut, Muhadkly Acho.
“Adegan telur rebus ini terinspirasi dari kisah mamaknya Bene yang selalu memberinya telur rebus dalam segala kesempatan sebagai bentuk perhatian,” tutur Acho.
Menurut Acho, yang ingin disampaikan dari adegan itu bukanlah soal makanan, melainkan cara orang tua mengekspresikan kasih sayang dengan cara paling sederhana dan konsisten.
“Setiap kali kita mengunjungi orang tua, apa yang selalu mereka tawarkan? Ya, makan. Mereka tidak peduli siang atau malam, kita sudah kenyang atau belum. Mereka selalu menawarkan kita untuk makan,” ujarnya.
Acho mengaku, pemahaman itu baru benar-benar ia rasakan setelah menjadi orang tua. Ia menyadari bahwa memberi makan adalah cara orang tua tetap merasa berguna bagi anak-anaknya, terutama ketika usia bertambah dan kemampuan materi semakin terbatas.
“Hati orang tua memang didesain untuk menjadi provider bagi anaknya. Ketika usia tak lagi muda dan harta tak lagi ada, sulit untuk selalu merasa berguna. Dan satu-satunya yang bisa ditawarkan orang tua dalam kondisi itu adalah makanan,” kata Acho.
Karena itu, ia menyampaikan pesan sederhana yang terasa sangat manusiawi.
“Kalau suatu saat orang tuamu menawarkan makanan, makanlah. Terima dengan rasa syukur, meski itu hanya sebutir telur rebus. Percayalah, itu akan membuat mereka bahagia,” tuturnya
Telur rebus dalam film tersebut akhirnya berdiri bukan sekadar sebagai properti adegan, melainkan sebagai bahasa sunyi orang tua, tentang cinta yang tidak menuntut untuk dimengerti, cukup diterima. [asr]











