Ragam

“Parkir Gratis” Itu Fana, Kawan. Yang Abadi Adalah Tiupan Peluit saat Anda Menyalakan Mesin Motor

×

“Parkir Gratis” Itu Fana, Kawan. Yang Abadi Adalah Tiupan Peluit saat Anda Menyalakan Mesin Motor

Sebarkan artikel ini

BANYUMASMEDIA.COM – Saya punya teori konspirasi kecil-kecilan: profesi paling sakti di jagat raya ini bukanlah dukun pengganda uang atau menteri yang punya banyak tunjangan, melainkan tukang parkir minimarket dan ATM. Mereka memiliki kekuatan super yang tidak dimiliki oleh pahlawan Marvel mana pun, yaitu ilmu camouflaging alias menghilang dan muncul secara gaib tepat saat Anda menaruh pantat di jok motor.

Beberapa hari lalu, saat melewati daerah sekitaran kampus Unsoed Purwokerto. Di pinggir jalan, ada para pedang yang menjajakan jajananya. Harganya murah meriah, mulai dari seribu, dua ribu, lima ribu. Murah, kan? Ramah di kantong mahasiswa dan kaum pekerja yang dompetnya sedang sekarat di akhir bulan.

Namun, tepat saat saya hendak membelokkan setang motor, mata saya menangkap sebuah siluet bapak-bapak berompi santai. Pandangannya kosong, tapi begitu melihat lampu sen motor saya berkedip, matanya langsung berbinar seperti melihat masa depan yang cerah.

Seketika itu juga, otak saya dipaksa melakukan kalkulasi matematis yang lebih rumit daripada soal ujian masuk perguruan tinggi: Harga jajan Rp2.000 + Tarif parkir Rp2.000 = Rp4.000. Artinya, nilai nominal apresiasi saya terhadap jasa kenyamanan parkir berdurasi 45 detik itu setara dengan 100% dari harga makanan yang masuk ke perut saya. Logika ekonomi mikro saya langsung mental breakdown. Akhirnya, dengan berat hati, saya batalkan niat membeli cilung tersebut. Setang motor saya luruskan kembali, menahan lapar, sambil membatin: langka duit go parkir, lah! (Saya tidak punya uang buat parkir!).

Fenomena ini rupanya bukan cuma menimpa saya. Tukang parkir zaman sekarang sudah berevolusi menjadi instrumen pengendali nafsu makan masyarakat. Mereka adalah alasan utama mengapa orang-orang sekarang mikir dua kali, atau bahkan tiga puluh kali, hanya untuk berhenti di depan toko kelontong demi membeli seseuatu, satu saset kopi, atau sekadar mengambil uang Rp50.000 di ATM yang padahal di kacanya jelas-jelas tertulis besar-besar: PARKIR GRATIS.

BACA JUGA  Tips Milih Kursi Kereta agar Nggak Tersesat Duduk Mundur Sepanjang Perjalanan

Teks “Parkir Gratis” di kaca minimarket itu fana, kawan. Yang abadi adalah tiupan peluit saat Anda menyalakan mesin motor.

Mari kita bedah kontrasnya pelayanan mereka yang setingkat dewa ini. Saat kita datang dengan kebingungan mencari celah kosong di antara barisan motor, sang jukir biasanya bertindak layaknya patung Liberty: diam, mager, dan membiarkan kita berjuang sendiri menggeser-geser motor matic yang setangnya dikunci penunggang sebelumnya. Dia baru akan bergerak aktif ketika kita selesai bertransaksi. Begitu kita menstarter motor, wuss! Dia sudah berdiri di belakang ban, memegang begel motor kita dengan ujung dua jarinya, sebuah sentuhan formalitas yang sama sekali tidak menambah daya dorong motor lalu meniup peluit dengan semangat kemerdekaan. Priiiittt!

Uang dua ribu rupiah pun berpindah tangan. Si bapak tersenyum, kita merana.

Kalau dipikir-pikir pakai kacamata sosial, kita ini bukannya pelit atau tidak mau berbagi rezeki dengan sesama. Kita tahu mereka juga sedang mencari nafkah untuk anak-istri di rumah. Tapi ya mbok yang proporsional. Kalau beli barang seharga ratusan ribu di ruko besar lalu ditarik parkir, ya sudahlah, ikhlas. Tapi kalau berhenti cuma buat beli obat nyamuk bakar seharga Rp1.500 karena kamar kos digempur nyamuk loreng, lalu harus bayar parkir Rp2.000, itu namanya bukan retribusi daerah, melainkan simulasi kena scam di siang bolong.

Dampak jangka panjangnya apa? Orang-orang jadi makin malas jajan di UMKM pinggir jalan. Alih-alih melariskan dagangan tetangga, masyarakat lebih memilih memesan makanan lewat aplikasi ojek online yang harganya sudah di-up plus ongkir, atau sekalian beli grosiran di swalayan besar sekalian bayar parkir sekali. Warung-warung kecil yang tidak punya lahan parkir luas akhirnya sepi pembeli hanya karena ada “faktor pengali” bernama rompi oranye di depannya.

BACA JUGA  Badan Bahasa “Ikut Masak” Kontroversi Merah Putih: One For All

Jadi, untuk para tukang parki, tolonglah sesekali berempati pada isi dompet kami yang isinya cuma gambar Kapitan Pattimura bawa golok ini. Jangan sampai gara-gara peluit sakti kalian, roda ekonomi rakyat kecil tersendat karena pembeli telanjur trauma mendengarkan bunyi priiitt yang menguras sisa-sisa harapan hidup kami di tanggal tua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *